Taliban Memohon Amerika Segera Cairkan Aset Bank Sentral Afganisthan yang Dibekukan

Menteri Luar Negeri Afganisthan Amir Khan Muttaqi

PARBOABOA, Afganisthan - Krisis ekonomi yang melanda Afganisthan saat ini semakin mengkawatirkan usai Taliban menguasai kembali negara itu. Ancaman kelaparan dan teror bom semakin memperparah keadaan negara tersebut.

Untuk menanggulangi masalah ekonomi tersebut Menteri Luar Negeri Afghanistan di rezim Taliban, Amir Khan Muttaqi, memohon kepada Kongres Amerika Serikat agar segera mencaikan aset negara Afganisthan yang dibekukan.

"Kami berharap anggota kongres Amerika Serikat akan memikirkan dengan serius permintaan kami ini. Saya minta, agar pintu hubungan di masa depan terbuka, aset bank sentral Afghanistan dicairkan dan sanksi atas bank kami dicabut," kata Amir Khan, dikutip dari AFP, Kamis (18//11).

Pada masa kepemimpinan Taliban tahun 1996 hingga 2001, kelompok tersebut memerintah Afghanistan dengan tangan besi, secara brutal melanggar hak asasi manusia atas nama hukum Islam, memicu kekhawatiran akan terjadinya kembali pelanggaran yang sama oleh kelompok tersebut. Namun, Muttaqi berharap masyarakat internasional dapat bersikap positif demi memberikan Taliban kesempatan untuk membangun kepercayaan

Menurutnya, situasi ekonomi Afghanistan yang kian terpuruk dapat menyebabkan gelombang eksodus imigran ke luar negeri. Ia mengingatkan krisis ekonomi yang mengancam Afghanistan juga dapat menimbulkan masalah bagi negara luar.

"Jika situasi ini terus terjadi, pemerintah Afghanistan dan masyarakat akan menghadapi masalah dan akan menjadi penyebab dari migrasi massal di wilayah ini dan dunia, pun juga akan menyebabkan masalah kemanusiaan dan ekonomi," tambahnya.

Seperti diketahui, Amerika secara resmi menarik semua pasukan militernya dari Afganisthan pada bulan Agustus lalu. Sebagai sanksi untuk Taliban, Amerika mengeluarkan sejumlah sanksi termasuk pembekuan aset Bank Sentral Afganisthan yang bernilai USD 9 miliar, yang tak hanya disimpan di Amerika, namun juga dibeberapa bank sentral di Eropa.

Editor: -
TAG :
Baca Juga
LIPUTAN KHUSUS