Ukraina Resmi Daftar NATO usai Rusia Caplok Empat Wilayahnya

Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky (Foto: REUTERS/UKRAINIAN PRESIDENTIAL PRESS SER)

PARBOABOA, Jakarta - Pencaplokan empat wilayah Ukraina oleh Rusia memperpanas konflik di dua negara pecahan Uni Soviet itu. Presiden Rusia Vladimir Putin mengumumkan pencaplokan wilayah Zaporizhia, Kherson, Donetsk dan menyatakan penduduk wilayah tersebut menjadi warga negara Rusia pada Jumat (30/09/2022) waktu setempat.

Meski Putin mengklaim pencaplokan wilayah itu dilakukan atas pilihan penduduk di sana, akan tetapi Ukraina, Amerika, dan negara-negara Barat menolak mengakui hal itu karena menilai tindakan Putin adalah ilegal dan melanggar hukum internasional.

Sebagai respon balasan atas pengambil alihan sekitar 15 persen wilayahnya, pada hari yang sama Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky juga membuat keputusan yang sangat berlawanan dengan keinginan Rusia, yaitu bergabung dengan Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO).

Zelensky mengatakan jika mereka telah resmi mendaftar jadi anggota NATO dengan prosedur yang dipercepat.

"Kami mengambil langkah tegas dengan menandatangani aplikasi untuk aksesi ke NATO," kata Zelensky pada Jumat (30/9) dikutip dari Reuters.

Selain itu, Zelensky juga menyampaikan jika mereka menolak pembicaraan damai atau perundingan dengan negeri beruang merah selama Putin masih menjadi presiden.

Namun, belum diketahui secara pasti apakan negara-negara anggota NATO akan menerima pendaftaran dari Ukraina ini. Sekretaris Jenderal NATO Jens Stoltenberg mengatakan jika setiap keputusan tentang keanggotaan NATO harus disepakati oleh 30 anggota aliansi.

Kendati demikian mereka mendukung keputusan Ukraina untuk memilih jalannya sendiri.

"Sekutu NATO, ketika mereka bertemu di KTT NATO di Madrid, menyatakan juga dengan sangat jelas bahwa kami mendukung hak Ukraina untuk memilih jalannya sendiri," ka Stoltenberg.

Seperti diketahui, keinginan Ukraina untuk bergabung menjadi anggota NATO merupakan salah satu penyebab pecahnya invasi Rusia ke negara tetangganya itu sejak 24 Februari lalu. Sebab Rusia tidak ingin NATO semakin berkuasa di wilayah Timur Eropa dan menggangu kekuasaan Rusia.

Editor: -
TAG :
Baca Juga
LIPUTAN KHUSUS