Ukraina Tangkapi Pengkhianat yang Membantu Tentara Rusia

Personel Dinas Keamanan Ukraina (SBU) memasuki sebuah bangunan saat melakukan operasi penangkapan para pendukung Rusia di Kota Kharkiv, Ukraina. AP

PARBOABOA, Pematangsiantar - Viktor nampak resah saat sejumlah pasukan keamanan Ukraina yang mengenakan pakaian antihuru-hara bersenjata lengkap mendobrak masuk ke apartemennya di Kota Kharkiv. Tangannya gemetar saat ia berusaha menutupi wajahnya. 

Pria paruh baya itu menjadi perhatian Dinas Keamanan Ukraina (SBU) setelah unggahannya di media sosial dianggap menyetujui aksi Presiden Rusia Vladimir Putin "memerangi Nazi". 

Ia juga menyerukan agar negaranya tunduk pada Rusia serta menyebut bendera nasional Ukraina sebagai "simbol kematian".

"Iya, saya sangat mendukungnya (invasi Rusia). Saya mohon maaf," kata Viktor dengan suara gemetar di hadapan paaukan SBU, seperti dilansir Associated Press, Sabtu (30/4/2022). 

Viktor merupakan satu dari 400 orang yang ditangkap di Kota Kharkiv di bawah undang-undang antikolaborasi yang diterbitkan parlemen dan ditandatangani oleh Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy setelah Rusia melakukan invasi pada 24 Februari lalu. 

Mereka yang melanggar dan terbukti bekerjasama dengan pasukan Rusia, menyangkal agresi Rusia, dan mendukung Moskow, terancam hukuman penjara hingga 15 tahun. Siapapun yang membantu Rusia dan menyebabkan kematian, terancam dipenjara seumur hidup. 

"Akuntabilitas untuk bekerjasama tak dapat dihindari dan jika terjadi esok atau lusa, itu pertanyaan lain. Yang terpenting adalah keadilan akan ditegakkan," tegas Zelenskyy. 

Meski pemerintahan Zelenskyy mendulang banyak dukungan luas, tetapi tak semua warga Ukraina menentang invasi Rusia. 

Dukungan kepada Moskow dianggap wajar di antara penduduk berbahasa Rusia di Donbas, sebuah wilayah perindustrian di bagian timur Ukraina. 

Konflik yang telah berkecamuk selama delapan tahun antara separatis yang didukung Rusia melawan pasukan Ukraina di wilayah itu telah menewaskan lebih dari 14.000 orang sebelum invasi dimulai. 

Sementara itu, pasukan Ukraina dilaporkan tengah berjuang mati-matian menahan laju tentara Rusia di selatan dan timur yang hendak menguasai Donbas. 

Dari laporan Associated Press, mengutip keterangan pejabat pertahanan senior Amerika Serikat, serbuan Rusia sejauh ini lebih lambat dari perkiraan. 

Perserikatan Bangsa-bangaa (PBB) sedang berusaha untuk melakukan evakuasi terhadap warga sipil di Mariupol. Kantung pertahanan terakhir di kota itu kian kritis. 

"Warga sipil memohon untuk diselamatkan. Di sana, ini bukan masalah dalam hitungan hari, tetapi hitungan jam," kata Wali Kota Mariupol Vadym Boichenko. 

Editor: -
TAG :
Baca Juga
LIPUTAN KHUSUS