Viral Guru Pukul Murid SMP di Surabaya

Ilustrasi (CNN Indonesia/Daniela Dinda)

PARBOABOA, Surabaya - Beredar sebuah video berdurasi tiga detik yang menunjukkan seorang guru di SMPN 49 Kota Surabaya melakukan tidak kekeresan kepada siswanya, peristiwa itu terjadi di depan kelas saat pelajaran tatap muka (PTM) 100 persen sedang berlangsung.

Wakil Ketua DPRD Surabaya Reni Astuti menanggapi berita tersebut, ia mengatakan bahwa pelaku tindak kekerasan harus diberikan sanksi.

“Jelas perlakuan guru tersebut merupakan tindak kekerasan dan harus mendapat sanksi berat. Dengan memukul itu sudah kesalahan fatal dan harus diberi sanksi berat,” katanya, Minggu (30/1).

Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi sangat kecewa dengan perilaku guru tersebut yang memukul anak muridnya.

“Saya harap kejadian ini tidak terulang lagi di Surabaya, karena guru adalah orang tua saat di sekolah, maka otomatis harus memberikan kasih sayang,” kata Eri, Sabtu (29/1).

Wali Kota yang mengetahui berita tersebut langsung mengunjungi SMPN 49 usai kejadian. Dia kemudian menemui para guru dan tenaga kerja untuk memberikan pembinaan dan menghimbau agar kejadian serupa tidak terulang lagi.

Jika terulang, Eri akan memproses sendiri guru yang melakukan tindak kekerasan. Agar kejadian ini tidak terulang kembali, ia meminta Dinas Pendidikan (Dispendik) Kota Surabaya mengundang seluruh guru di Kota Pahlawan itu untuk diberikan penguatan.

Bahkan, Eri memutuskan akan melakukan tes integritas kepada para guru, agar memiliki intergritas dalam mengajar.

Terkait tentang sanksi yang akan diberikan pada guru tersebut, Eri mengatakan masih akan menunggu hasil pemeriksaan dari inspektorat Surabaya. Ia juga merasa bangga pada guru tersebut, karena guru itu langsung menyampaikan permintaan maaf kepada siswanya.

"Bagaimana nanti, kita lewati bersama, maka saya minta tolong dan saya titip kepada kepala sekolah dan para bapak ibu guru untuk menjaga anak didik kita ini," katanya.

Mantan Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Kota (Bappeko) Surabaya, mengatakan alasan kejadian ini bisa terjadi karena dampak dari pembelajaran via daring yang hampir dua tahun dilakukan. Hasilnya, semangat para murid untuk belajar menjadi berkurang.

"Kalau terlalu lama daring itu iya begini dampaknya. Maka, kalau PTM seperti ini harus disiplin untuk meningkatkan akhlak masing-masing anak," katanya.

Editor: -
TAG :
Baca Juga
LIPUTAN KHUSUS