Ilustrasi bullying

5 Cara Mencegah Bullying di Sekolah ala Kemendikbud

Sondang | Pendidikan | 08-02-2022

PARBOABOA, Siantar - Kasus bullying saat ini sangat marak terjadi apalagi di dunia persekolahan. Bullying adalah perilaku tidak menyenangkan yang menyerang verbal fisik ataupun sosial, baik di dunia nyata maupun dunia maya.

Kekerasan yang dilakukan terhadap orang lain ini dilakukan terus menerus dengan tujuan menyakiti. Bullying dapat dilakukan antar peserta didik, guru, peserta didik kepada guru, atau sebaliknya.

Contoh Tindakan Bullying

1. Fisik berupa memukul, menampar, mendorong, menggigit, menendang, mencubit, mencakar hingga pelecahan seksual dan lain-lain.

2. Non-fisik berupa mengancam, mempermalukan, merendahkan, mengganggu, memanggil dengan julukan atau kecacatan fisik dan lain-lain.

3. Cyber merupakan perundungan melalui media elektronik.

4. Verbal

5. Non-verbal langsung.

6. Non-verbal tidak langsung.

Dampak Bullying Terhadap Korban

Tindakan bullying ini bisa membuat seseorang merasa tidak nyaman dan tertekan, baik dilakukan oleh perorangan maupun kelompok. Itulah mengapa bullying harus dihilangkan dari dunia pendidikan Indonesia.

1. Kesakitan fisik dan psikologis.

2. Kepercayaan diri (self-esteem) yang merosot.

3. Malu, trauma, merasa sendiri, serba salah.

4. Takut ke sekolah.

5. Korban mengasingkan diri dari sekolah.

6. Menderita ketakutan sosial.

7. Timbul keinginan untuk bunuh diri dan mengalami gangguan jiwa.

5 Cara mencegah bullying yang bisa dilakukan di sekolah

Dirangkum dari akun Instagram Direktorat Pendidikan Sekolah Dasar Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbud Ristek) Sabtu (5/2) ada beberapa cara yang bisa dilakukan siswa, sekolah, keluarga dan masyarakat untuk mencegah tindakan bullying.

1. Sosialisasi pemahaman perundungan di lingkungan sekolah

Untuk mencegah perudungan, kita harus memiliki pemahaman terkait perundungan itu sendiri. Terutama efek perundungan yang bisa menimbulkan trauma hingga dewasa.

Satuan pendidikan harus bisa memberikan pemahaman mengenai perundungan kepada seluruh warga sekolah, baik guru, tenaga kependidikan, hingga peserta didik.

Pemahaman terkait perundungan dapat dimulai dari hal-hal kecil seperti amanat pembina saat upacara, edukasi perundungan oleh guru di dalam kelas, ataupun membuat poster-poster terkait perundungan yang dipajang di lingkungan sekolah.

2. Sensitif terhadap situasi dan kebutuhan korban

Seluruh komponen warga sekolah juga harus dilatih untuk memiliki rasa simpati dan juga empati kepada warga sekolah lainnya. Salah satunya adalah dengan memperhatikan ciri-ciri seseorang yang mengalami perundungan dan menawarkan bantuan yang sesuai.

Ciri-ciri korban perundungan seperti sering cemas, sering menyendiri, tidak percaya diri, ataupun memiliki luka fisik/memar di tubuhnya.

Jika melihat tanda-tanda seperti itu, lakukan pendekatan dengan korban untuk mengetahui detail perundungan lebih lanjut. Setelah itu, beri ia dukungan agar bisa bangkit melawan perundungan yang dialami.

3. Membuat kebijakan terkait aksi perundungan

Karena maraknya perundungan yang berakhir damai dan kurangnya mempertimbangkan efek psikologis korban, maka satuan pendidikan harus bisa membuat kebijakan, aturan, dan juga sanksi yang tegas terkait aksi perundungan yang ada di lingkungan sekolah.

Salah satunya adalah dengan menetapkan mekanisme penanganan kasus yang tepat di sekolah. Selain itu, satuan pendidikan juga wajib tegas dan tidak pandang bulu dalam menindak pelaku perundungan. Hal ini guna membuat calon-calon pelaku perundungan berpikir dua kali untuk melakukan tindakan pengecut tersebut.

4. Memastikan jalur komunikasi yang terbuka untuk pelaporan kasus

Ketika ada perundungan terjadi sekolah seringkali terlambat mengetahui atau merespon. Karena itu, satuan pendidikan perlu memiliki sistem mekanisme pelaporan kasus perundungan yang ada di lingkungannya.

Pembentukan mekanisme dan standar operasional untuk jalur komunikasi pelaporan yang aman dan sensitif adalah salah satu cara agar kasus perundungan bisa lebih terungkap. Tak jarang korban ataupun warga sekolah lainnya enggan untuk melapor karena takut menjadi sasaran perundungan selanjutnya.

5. Mengadakan kegiatan anti perundungan

Satuan pendidikan bisa memulai program sekolah yang menyebarkan pesan dan perilaku kebaikan untuk membangun norma yang menentang perundungan. Program-program tersebut dapat dimasukkan ke dalam kegiatan intrakurikuler maupun kokurikuler.

Contoh kegiatan anti perundungan yang dapat dilakukan seperti Antibullying Day, pentas seni, penandatanganan deklarasi anti perundungan oleh seluruh warga sekolah, ataupun ide-ide kreatif lainnya.

Cara sekolah mencegah bullying tentunya akan sukses dan berhasil apabila seluruh ekosistem sekolah turut mendukung. Selain itu, lingkungan terdekat warga sekolah juga berperan penting dengan menanamkan nilai-nilai positif dalam bermasyarakat.

Itulah beberapa cara mencegah bullying di sekolah.

Tag : #bullying    #kemendikbud    #pendidikan   

Baca Juga