BMKG: Kualitas Udara Jakarta Lebih Buruk di Malam dan Pagi Hari

BMKG buka suara soal tingkat polusi udara di DKI Jakarta pada malam dan pagi hari. (Foto: Bareskrim Polri)

PARBOABOA, Jakarta – Kualitas udara di Jakarta tengah memburuk belakang ini hingga pada siang hari pun lingkungan Ibu Kota tak terlihat jelas karena tertutup kabut polusi.

Namun, menurut Badan Meteorologi Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), jika dilihat berdasarkan siklus harian, polutan PM2.5 justru lebih tinggi saat malam hari sampai menjelang pagi.

Perlu diketahui jika Badan Kesehatan Dunia (WHO) membagi polusi udara dalam dua kelompok, yakni gas dan partikel.

Polusi udara yang dipicu oleh gas ini sumbernya dari karbon monoksida, nitrogen monoksida, dan sulfur monoksida. Sedangkan untuk polusi udara yang disebabkan oleh partikel itu berasal dari PM2,5 dan PM10.

Particulate Matter (PM2.5) sendiri adalah partikel halus di udara yang ukurannya 2,5 mikron atau lebih kecil dari itu. Adapun untuk PM10 yakni partikel udara yang berukuran lebih kecil dari 10 mikron.

Berdasarkan WHO, DKI Jakarta saat ini polutan utamanya masih berada di PM 2,5 dengan indeks kualitas udara yang terbilang masih mengkhawatirkan.

Selain malam, tingginya PM2.5 juga terjadi pada pagi hari seiring meningkatnya aktivitas masyarakat, seperti bekerja maupun sekolah.

Kepala Pusat Informasi Perubahan Iklim BMKG, Fachri Radjab, menjelaskan bahwa kondisi tersebut dipengaruhi oleh lapisan yang disebut inversi.

Di mana, ketebalan lapisan inversi pada malam hari lebih kecil sehingga konsentrasi PM2.5 menjadi semakin tinggi.

"Kalau kita kenal suhu makin tinggi tempat makin dingin ya, tapi pada ketinggian tertentu dia akan tetap stabil suhunya, dia tidak turun, itu yang disebut lapisan inversi," terangnya.

Menurutnya, partikel polusi udara ini berkumpul dan terjebak di lapisan inversi hingga turut menyebabkan langit Jakarta terlihat keruh.

Polusi udara juga tak hanya berdampak pada lingkungan, tapi juga menyerang kesehatan tubuh manusia, contohnya pneumonia dan infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).

Menteri Kesehatan (Menkes), Budi Gunadi Sadikin, menyatakan bahwa sebelum pandemi COVID-19, kasus pneumonia atau biasa disebut paru-paru basah ada sekitar 50.000 orang. Saat ini kasusnya naik tiga kali lipat menjadi 200.000.

Pneumonia ini dapat menjangkit siapapun, dan yang paling berisiko tinggi terkena adalah anak-anak dengan usia di bawah 2 tahun serta lansia berusia di atas 65 tahun.

Bahkan, pneumonia menjadi penyebab kematian tertinggi pada anak-anak di seluruh dunia.

Berdasarkan data dari World Health Organization (WHO), pada tahun 2019 terdapat sebanyak 740.180 anak-anak meninggal akibat penyakit tersebut.

Tak hanya pneumonia, kasus ISPA di Ibu Kota juga mengalami kenaikan kasus akibat udara buruk di Jabodetabek.

Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan (Dinkes) DKI Jakarta, pada periode Januari-Juni 2023, telah ada 638.291 kasus ISPA yang tercatat.

Kasus ISPA tertinggi terjadi pada Maret 2023, yang kasusnya mencapai 119.734. Meski sempat menurun pada April-Mei, tapi kasus tersebut kembali naik pada bulan Juni dengan 102.475 kasus.

ISPA itu menjangkit siapa aja, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa, terutama bagi mereka yang memiliki kondisi tubuh kurang fit.

Editor: Maesa
TAG :
Baca Juga
LIPUTAN KHUSUS