Hadapi Lonjakan Penduduk: Pematangsiantar Siapkan Tiga Pasar Baru

Tampak depan bangunan Pasar Horas di Kota Pematangsiantar. (Foto: PARBOABOA/Rizal Tanjung)

PARBOABOA, Pematangsiantar - Pertumbuhan penduduk yang pesat menunjukkan perlunya penambahan sarana dan prasarana pendukung di Kota Pematangsiantar, Sumatra Utara.

Apalagi, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah penduduk di kota terbesar kedua setelah Medan ini telah mencapai 274.838 jiwa di 2023.

Selain transportasi umum, kebutuhan mendesak lainnya adalah penambahan pasar tradisional. 

Seperti diketahui, hingga kini hanya ada dua pasar permanen di Pematangsiantar, yakni Pasar Horas dan Pasar Dwikora.

Kedua pasar tersebut melayani masyarakat dari 8 kecamatan di Pematangsiantar, termasuk pengunjung dari kabupaten tetangga, Simalungun.

Oleh karena itu, pengamat tata ruang Pematangsiantar, Reinward Simanjuntak menilai penambahan pasar permanen di kota itu, mutlak dilakukan.

"Pematangsiantar ada delapan kecamatan. Paling tidak, setiap kecamatan memiliki pasar," ujarnya saat diwawancarai PARBOABOA, pekan lalu.

Reinward menilai, dengan lebih banyak pasar, aktivitas perdagangan masyarakat tidak hanya terpusat di Pasar Horas dan Pasar Dwikora.

Manfaat lain dari penambahan pasar yaitu biaya transportasi masyarakat yang ingin berbelanja juga berkurang.

"Akan lebih bagus kalau masyarakat ke pasar bisa dijangkau hanya dengan berjalan kaki, tanpa ongkos," ungkap Reinward.

Selain mengurangi biaya transportasi, lanjut dia, jarak pasar yang lebih terjangkau di setiap kecamatan akan meningkatkan kenyamanan dan aksesibilitas warga.

Tidak hanya itu, tambahan pasar permanen juga dapat membangun lingkungan belanja yang lebih nyaman dan efisien. 

"Serta dapat mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih merata di seluruh Pematangsiantar," imbuh Reinward yang juga mantan Sekretaris Daerah Pemko Pematangsiantar ini.

Kepala Bidang Perdagangan di Dinas Koperasi, UKM dan Perdagangan Pematangsiantar, Rumei Conny Purba turut mengafirmasi usulan penambahan sejumlah pasar permanen di tiap kecamatan. Seperti Pasar Sumber Jaya Maju, Pasar Tojai dan Pasar Sibatu-batu.

"Pasar-pasar itu telah direncanakan dijadikan pasar permanen," katanya pada Parboaboa, Selasa (9/7/2024).

Dengan adanya tambahan tiga pasar ini, Rumei berharap perekonomian masyarakat bisa bangkit dan tumbuh.

Apalagi idealnya, jumlah pasar permanen di Pematangsiantar harus ada di setiap kecamatan bahkan kelurahan.

Diketahui, ketiga pasar ini akan dikelola Perusahaan Daerah Pembangunan dan Aneka Usaha (PD PAUS). 

Sedangkan Dinas Koperasi, UKM dan Perdagangan akan menjadi pembina dari tiga pasar ini.

Hanya saja, kata Rumei, rencana penambahan pasar di Pematangsiantar menghadapi sejumlah tantangan.

Ia mencontohkan kebiasaan masyarakat yang masih berbelanja di Pasar Horas atau Pasar Dwikora, dibandingkan ke pasar kecamatan.

Kedua pasar tersebut diakui menjadi pusat aktivitas ekonomi yang memiliki daya tarik tersendiri bagi warga Pematangsiantar.

Tantangan lainnya, lanjut dia, jarak antara Pasar Horas dan Dwikora yang tidak jauh dari tempat tinggal warga, menjadikan masyarakat lebih senang berbelanja di sana.

Menurutnya, soal ketersediaan barang di Pasar Horas dan Dwikora jauh lebih lengkap dan harganya lebih terjangkau. 

Kondisi tersebut membuat masyarakat di Pematangsiantar enggan beralih ke pasar baru yang direncanakan pemerintah.

"Akibatnya, pedagang pun kurang berminat berjualan di pasar-pasar yang baru direncanakan," jelas Rumei.

Bahkan, demi menarik minat pedagang agar mau mengisi pasar-pasar baru, PD PAUS dan Diskoperindag berencana menggratiskan biaya awal penyewaan lapak. 

"Namun, upaya tersebut dianggap belum efektif membuat masyarakat pindah dan berbelanja ke pasar yang baru," imbuh dia.

Sejarah Singkat Pasar Horas dan Dwikora

Dikutip dari Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Sejarah, Pasar Horas atau yang akrab disebut 'Pajak Horas' oleh masyarakat Kota Pematangsiantar mulai berkembang selaras dengan kemajuan industri perkebunan di daerah Sumatra Timur kala itu.

Sementara, penelitian yang dibuat Jalatua Hasugian menyebut, Pasar Horas didirikan sekitar 1958-1960. 

Saat itu, kegiatan perdagangan di Pematangsiantar sedang tumbuh pesat.

Awalnya, aktivitas perdagangan yang berlokasi di jantung kota itu diisi oleh 'parengge' atau pedagang kaki lima yang sebagian besar adalah wanita.

Setelah cukup banyak parengge yang berjualan di sana, pemerintah daerah kemudian membangunkan kios-kios di lahan seluas 2.868 meter persegi.

Kini, Pasar Horas memiliki 4 gedung utama yang dibangun di atas lahan seluas 24.771 meter persegi dengan 3.419 kios.

Sedangkan Pasar Dwikora atau yang akrab disapa masyarakat Pematangsiantar dengan nama ‘Pajak Parluasan’ juga memiliki ciri khas.

Pasar yang berlokasi di Jalan Gotong Royong, Suka Dame, Kecamatan Siantar Utara ini juga menyediakan berbagai bahan perlengkapan belanja dapur, layaknya pasar tradisional pada umumnya.

Adapun operasional Pasar Dwikora dimulai sejak subuh atau sekitar pukul 04.00 WIB hingga 18.00 WIB.

TAG :
Baca Juga
LIPUTAN KHUSUS