Rumah Maestro dan Impian Budayawan Lokal akan Ruang Ekspresi Seni di Pematangsiantar

Sang maestro seni Pematangsiantar, Raminah Garingging. (Foto: PARBOABOA/Rizal Tanjung)

PARBOABOA, Pematangsiantar - Budayawan lokal Pematangsiantar, Sultan Saragih punya mimpi besar agar Kota terbesar kedua di Provinsi Sumatra Utara (Sumut) itu memiliki ruang ekspresi seni.

Sebelumnya, sebagaimana diberitakan Parboaboa, Sultan sempat mengusulkan pembangunan amfiteater ke Pemerintah Kota (Pemkot), namun hingga saat ini belum terealisasi.   

Menyadari pentingnya ruang ekspresi seni inilah yang mendorong Sultan menginisiasi pembuatan rumah galeri, bersama seorang Maestro di daerah itu, Raminah Garingging.  

Ruang galeri seni yang saat ini sedang dalam proses pembangunan, diberi nama 'Rumah Maestro' dan dibangun di Jl. Kesatria No. 34 Pematangsiantar. 

Sultan mengatakan, Rumah Mastero telah dibangun sejak bulan Januari dan saat ini sedang dalam proses finalisasi.

"Ini atas inisiatif kami sendiri," kata Sultan kepada Parboaboa, Rabu (20/3/2024).

Selain sebagai tempat menyimpan sejumlah karya seni para seniman, rumah ini juga akan mengenalkan Raminah Garingging, sang Maestro yang telah memberikan inspirasi dan edukasi kepada banyak orang di bidang seni.

Raminah, atau yang dikenal Opung Garingging sendiri telah mendapatkan penghargaan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sebagai Maestro seni tradisi di tingkat nasional.

"Harapannya agar publik bisa terinspirasi dengan opung yang sudah berusia 89 tahun tapi masih melestarikan tradisi," ujar Sultan.

Sementara itu, untuk mengatasi keterbatasan dan menghemat dana pembangunan, Sultan memanfaatkan barang-barang bekas untuk pembuatan kursi dan meja.

Ia mengatakan, tidak hanya untuk penghematan, hal itu dilakukan "agar orang datang ke sini bisa menjadi terinspirasi juga, bahwa kreativitas bisa mengalahkan keterbatasan."

Dalam rencananya, Sultan ingin mengajak anak-anak muda untuk datang memahami setiap karya seni di tempat itu, salah satunya seni tari yang akan diajarkan langsung oleh Opung Garingging.

"Semua seni ditampung di sini. Para seniman saya harap nanti bisa berkumpul disini," ungkapnya.

Selain itu, Rumah Maestro ini juga nantinya bisa dikunjungi wisatawan jika ingin menemui budayawan dan seniman-seniman lokal Pematangsiantar.

Dari pantauan Parboaboa, terlihat, rumah ini sedang dalam proses penataan, seperti penataan perlengkapan meja dan kursi, penambahan karya-karya seni dan penambahan buku-buku untuk bacaan para pengunjung.

"Masalah target, diusahakan secepatnya Rumah Maestro ini selesai," kata Sultan.

Dalam keterangan terpisah, Kepala Bidang Pariwisata di Dinas Pariwisata (Dispar) Kota Pematangsiantar, Rahmad Riady mengakui bahwa, memang belum ada galeri seni di kota Pematangsiantar.

"Saat ini, Pemerintah Kota Pematangsiantar masih fokus pada penyelenggaraan event-event seni," katanya kepada Parboaboa, Kamis (21/3/2024).

Ia mengatakan, pembangunan galeri seni ini belum direncanakan karena harus bekerja sama dengan dinas pendidikan dan tokoh-tokoh budaya.

Namun begitu, Rahmad menekankan pentingnya memiliki galeri seni sebagai pusat penghargaan terhadap warisan budaya dan karya seni lokal.

"Sejauh ini, kita hanya memanfaatkan Museum Simalungun sebagai tempat untuk pameran seni dan budaya," ujarnya.

Sosok Raminah Garingging

Sosok Raminah Garingging (89) mendapat penghargaan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sebagai sebagai Maestro seni tradisi
pada Oktober 2023.

Sejak remaja, saat tinggal di kota Tebing Tinggi, Raminah sudah menyukai seni tari. Namun ia mengaku, awalnya tidak terlalu tertarik dengan tarian Simalungun. Ia hanya mengenal tarian Melayu dan Minang.

"Dulu saya tidak suka dengan adat Simalungun, karena saya tidak mengerti," katanya pada Parboaboa, Rabu (20/3/2024).

Pengenalannya kepada tarian Simalungun dimulai pada saat Pemilu tahun 1955. Saat itu, ia diminta tampil membawakan tarian Simalungun di tanah lapang merdeka kota Tebing Tinggi.

Sejak saat itu pula, wanita kelahiran tahun 1934 ini mulai mempelajari dan mendalami jenis-jenis tarian dan adat-adat Simalungun. 

"Sesudah berumah tangga saya baru jatuh cinta dengan tarian-tarian Simalungun, karena sepertinya Tuhan menyuruh saya ke situ," katanya dengan menggebu.

Keyakinannya untuk menjaga tradisi Simalungun di bidang seni tari semakin bertambah ketika Museum Simalungun pernah memberinya kaset kosong.

"Saya diberi kaset kosong agar diisi rekaman saya menari bermacam tarian Simalungun. Seperti tarian Sitalasari, Sombah, Martonun, Marharoan Bolon dan lainnya," katanya.

Opung Garingging mengaku belajar seni secara otodidak. Keterampilannya dalam menari, ia sadari sebagai ilham dalam hidupnya.

Ia berharap, dengan adanya Rumah Maestro, para muda-mudi memiliki semangat untuk belajar seni dan berkarya.

"Siapa pun yang mau ke rumah ini, akan saya ajarkan nanti apa itu tarian Simalungun," katanya.

Hal yang paling mendasar mendasar bagi dia adalah tumbuhnya harapan bahwa semua seniman dapat memahami makna dari setiap karya mereka. karena, saat ini banyak karya seni yang dibuat tanpa memahami maknanya secara mendalam.

Dengan adanya Rumah Maestro, Raminah juga menyatakan komitmennya untuk mengajarkan kepada setiap orang bagaimana memahami makna dalam setiap karya seni.

Editor: Gregorius Agung
TAG :
Baca Juga
LIPUTAN KHUSUS