Keluarga Jokowi Raih Berbagai Penghargaan, Pantaskah?

Foto keluarga Presiden Joko Widodo yang diambil oleh photographer rio motret. (FOTO: Instagram @ayanggkahiyang)

PARBOABOA, Medan – Keluarga Presiden Joko Widodo kembali mendapatkan penghargaan. Terbaru adalah, Kahiyang Ayu, putri semata wayang Jokowi dan juga istri dari Walikota Medan, Bobby Nasution.

Kahiyang Ayu diberikan penghargaan sebagai Tokoh Nasional Padang Sidempuan. Sementara sebelumnya, istri Presiden Jokowi yaitu Iriana memperoleh perhargaan Bintang Republik Indonesia Adipradana. Menantunya yaitu Bobby Nasution juga mendapatkan gelar sebagai Tokoh Nasional Tapanuli Bagian Selatan.

Penggiat Media Sosial, Jhon Sitorus dari laman media sosialnya sempat mengkritik pemberian gelar Tokoh Nasional Padang Sidempuan kepada Kahiyang Ayu. Menurutnya, hingga saat ini tidak ditemukan karya atau prestasi apapun yang dilakukan oleh Kahiyang Ayu secara nasional maupun di Padang Sidempuan.

Bahkan, Jhon Sitorus mempertanyakan gagasan dan ide kreatif yang pernah dilakukan oleh Kahiyang Ayu. Menurutnya, ketiadaan gagasan, ide kreatif, karya atau bahkan prestasi yang berarti membuat penobatannya sebagai tokoh nasional dipertanyakan.

Sementara itu, Pengamat Politik dan Sosial Sumatera Utara, Shohibul Anshor Siregar kepada PARBOABOA, Selasa (19/03/2024) mengatakan tidak selalu ada persetujuan bersama soal pemberian penghargaan.

Menurutnya, penghargaan mencerminkan apresiasi besar dari sebuah entitas atau negara terhadap seseorang yang pengaturannya sudah dibakukan sedemikian rupa. Pemberian penghargaan umumnya sebagai aspek politik dan kepentingan rezim yang sukar untuk disembunyikan.

Shohibul Anshor Siregar menilai pemberian penghargaan kepada keluarga Jokowi bermotif politik. Bahkan, lebih khusus lagi terlihat sebagai motif yang mengacu kepada elektoral.

“Sebenarnya rakyat paham itu. Walaupun merasa urusan itu tidak penting dan tidak perlu diprotes,” ucapnya.

Ia mencontohkan, pada periode sebelumnya, Eddy Rahmayadi sebagai Gubernur Sumatera Utara menerima penghargaan dari Tabagsel. Namun penghargaan itu dinilai sangat anomali. Pasalnya, di Panyabungan beliau diberi marga X, di Padang Sidempuan diberi marga Y dan di Gunung Tua diberi marga Z.

“Tiga marga digondol nya. Dia sendiri tidak tahu setiap marga memiliki link kekerabatan dan itu fatal bagi seorang pemimpin,” jelasnya.

Shohibul memaparkan, dari pemberian marga inilah terkesan ada pemain politik yang mampu mempengaruhi lembaga adat dan tanpa pertimbangan yang lazim.

Walaupun sebenarnya tidak ada masalah seseorang mendapatkan marga dari Tapanuli, lalu dari Simalungun, Karo bahkan Mandailing. Bahkan, boleh juga apabila mendapatkan gelar keningratan dari kesultanan tertentu di Jawa.

“Walaupun setahu saya di Jogja tidak lazim memberikan hal seperti itu,” katanya.

Shohibul sendiri mengaku pernah memohon agar gelar Pahlawan Nasional dianugerahkan kepada Ir. Soekarno, Mr. Assaat dan Soeharto. Dari sisi gelap ketiganya diakui tetap ada. Namun, tidak ada yang mampu membantah jasa ketiga orang tersebut.

Mr. Assaat misalnya, tanpa beliau tak mungkin membayangkan Indonesia. Mengingat Mr. Assaat dan Mr Syafruddin Prawiranegara pernah menjabat sebagai pelaksana Presiden Ri dan Indonesia wajib menyebut mereka dalam sejarah sebagai Presiden.

Pengamat Sosial dari Universitas Negeri Medan (Unimed), Bakhrul Khair Amal menerangkan bahwa pemberian penghargaan pada keluarga Presiden Joko Widodo merupakan nepotisme yang terlalu terbuka.

Dampaknya bisa membuat kecemburuan sosial, pertentangan kelas sampai stratifikasi sosial. Menurutnya, penghargaan merupakan alat ukur subjektif atau objektif. Sedangkan penghargaan yang diterima oleh keluarga Joko Widodo itu jelas mengarah pada subjektif.

Pasalnya, tidak ada kriteria yang menegaskan latar belakang pemberian penghargaan tersebut. Sehingga, yang paling memungkinkan pemberian gelar dan penghargaan itu karena mereka adalah keluarga Presiden.

Dipertontonkannya pertunjukan politik seperti ini, dinilai Bakhrul Khair Amal, akan membuat pergeseran berpikir di tengah masyarakat.

“Sebenarnya bukan perspektif masyarakat yang harus dipertanyakan. Melainkan perspektif pemerintah saat ini, apakah masih memikirkan masyarakat,” tanyanya.

Dikutip dari laman Wikipedia, penghargaan Bintang Republik Indonesia Adipradana yang diterima Iriana Jokowi merupakan tanda kehormatan Bintang Republik Indonesia kelas II.

Penghargaan ini diberikan kepada mereka yang secara luar biasa menjaga keutuhan dan berjasa besar kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Beberapa yang pernah menerima penghargaan ini antara lain Hj. Fatmawati Soekarno yang merupakan istri Presiden Soekarno dan Hasri Ainun Besari Habibie yang merupakan istri dari Presiden BJ Habibie.

Selain itu ada Sri Sultan Hamengkubuwono IX sebagai Menteri Utama Bidang Ekonomi dan Keuangan Kabinet Ampera. Penerima penghargaan ini terlihat cukup banyak di antaranya adalah yang pernah menjabat Wakil Presiden RI dan beberapa tokoh lainnya.

Editor: Fika
TAG :
Baca Juga
LIPUTAN KHUSUS