Mengenal Kristen Ortodoks, Mulai dari Sejarah, Ajaran dan Tata Cara Ibadahnya

Gereja Kristen Ortodoks (Foto:Pixabay)

PARBOABOA - Kristen Ortodoks menjadi salah satu aliran utama dalam agama Kristen yang memiliki warisan sejarah berharga, ajaran mendalam, serta tata cara ibadah yang khas dan kaya makna.

Denominasi ini memiliki akar yang sangat kuat dalam tradisi awal Kekristenan dan telah memainkan peran penting dalam membentuk perkembangan spiritual dan budaya di berbagai wilayah di dunia.

Dalam artikel ini, Parboaboa akan memberikan informasi lebih mendalam tentang aliran Kekristenan yang satu ini.

Mulai dari sejarah ajaran hingga tata cara ibadah yang diamalkan, yuk simak ulasan berikut untuk memahami tentang ajaran Kekristenan ini.

Apa itu Kristen Ortodoks?

Gereja Kristen Ortodoks (Foto: Pixabay) 

Kristen Ortodoks adalah salah satu aliran utama dalam Kekristenan yang merujuk pada Gereja Ortodoks Timur.

Gereja ini memiliki akar sejarah yang berasal dari Gereja perdana dan tumbuh di wilayah Timur, lalu kemudian dikenal sebagai Kekaisaran Romawi Timur atau Byzantium.

Aliran Ortodoks memiliki teologi, liturgi, dan tradisi yang unik, yang membedakannya dari cabang-cabang Kekristenan lainnya.

Di sisi lain, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, "Kristen" dalam konteks Ortodoks mengacu pada aliran dalam agama Kristen yang mengikuti Alkitab tanpa kritik.

Sejarah Kristen Ortodoks

Sejarah Kristen Ortodoks (Foto: Adobestock) 

Kristen Ortodoks memiliki akar sejarah dalam Gereja perdana yang didirikan oleh para rasul setelah kematian dan kebangkitan Yesus Kristus pada abad pertama Masehi.

Melansir dari kanal YouTube NOICE, tepatnya dalam wawancara antara Habib Fajar dan tiga tokoh dari aliran Ortodoks, disampaikan bahwa Kekristenan pertama kali muncul setelah Yesus naik ke surga.

Kemudian, pada hari Pentakosta di mana turunnya Roh Kudus, ajaran Kekristenan mulai tersebar melalui pengajaran para murid Tuhan Yesus yang telah dianugerahi keberkahan melalui turunnya Roh Kudus.

Secara singkat, Kekristenan mulai berkembang di berbagai wilayah besar yaitu, Antiokia, Aleksandria, Konstantinopel, Roma, dan Yerusalem.

Pada saat itu, aliran ini masih dikenal sebagai Katolik atau "katolou" (yang berarti menyeluruh) dalam bahasa Yunani.

Namun, pada tahun 1054, terjadi perpecahan antara Gereja Katolik Timur atau Gereja Roma dan Gereja Katolik Barat (termasuk Antiokhia dan tiga wilayah lainnya).

Perbedaan-perbedaan teologis, liturgis, dan politik menyebabkan perpecahan ini. Salah satu poin perpecahan adalah isu otoritas kepausan.

Perpecahan ini menyebabkan Gereja Katolik Timur bertransformasi menjadi Gereja Katolik dan Gereja Katolik Barat menjadi Kristen Ortodoks.

Gereja Ortodoks Timur terus berkembang di wilayah Konstantinopel dan wilayah-wilayah lain di sekitar Laut Tengah. Pada masa kejayaannya, daerah ini menjadi pusat keagamaan dan budaya yang penting.

Namun, pada abad ke-15 Masehi, Konstantinopel jatuh ke tangan Kekaisaran Ottoman, dan Gereja Ortodoks Timur mengalami masa-masa sulit di bawah kekuasaan Ottoman.

Selama abad-abad berikutnya, Gereja Ortodoks Timur terus berjuang di bawah kekuasaan Ottoman dan berbagai perubahan politik.

Pada abad ke-20, Gereja Ortodoks berperan dalam perkembangan nasionalisme di wilayah-wilayah tertentu.

Setelah runtuhnya Kekaisaran Ottoman, beberapa negara baru muncul di wilayah Timur Tengah dan Balkan, dan Gereja Ortodoks meraih kemerdekaan di berbagai negara tersebut.

Hingga saat ini, Gereja Ortodoks Timur memiliki berbagai yurisdiksi dan patriarki-patriarki yang mengawasi Gereja di berbagai wilayah di seluruh dunia.

Gereja Ortodoks terus menghayati ajaran dan praktik-praktik tradisional, termasuk liturgi yang kaya, ikonografi, dan doktrin-doktrin teologis yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.

Meskipun menghadapi tantangan dan perubahan zaman, Gereja Ortodoks terus mempertahankan identitas dan warisan imannya.

Bahkan disebutkan dalam wawancara YouTube NOICE bersama dengan tokoh dari aliran Kekristenan ini, terdapat sekitar 220 juga gereja Ortodoks di dunia dari berbagai juru diksi.

Ajaran Kristen Ortodoks

Ajaran Kristen Ortodoks (Foto: iStock) 

Secara garis besar, sebenarnya aliran Ortodoks cukup mirip dengan Katolik. Namun dalam Kekristenan ini, terdapat beberapa pandangan yang dianggap oleh sebagian besar orang sebagai penyimpangan dari ajaran Alkitab.

Pengajaran ini juga merujuk pada interpretasi Alkitab yang berlandaskan tradisi kuno.

Beberapa pandangan ini mencakup keyakinan akan keabadian keperawanan Maria, ibu Yesus, yang mana umat dari Ortodoks mengakui adanya nilai doa bagi mereka yang telah meninggal, menganggap keselamatan sebagai tujuan bisa diraih setelah kehidupan, percaya bahwa keselamatan bisa hilang, dan melaksanakan pembaptisan pada bayi tanpa mengabaikan tanggung jawab dan iman pribadi.

Melansir dari berbagai sumber berikut ini ada beberapa ajaran lain dari agama Ortodoks

1. Tritunggal

Sama halnya dengan aliran Kekristenan lainnya, Gereja Ortodoks mengajarkan keyakinan akan Tritunggal, yaitu bahwa Allah adalah satu dalam tiga pribadi, Allah Bapa, Allah Putra (Yesus Kristus), dan Roh Kudus. Ketiga pribadi ini bersatu dalam satu hakikat ilahi.

2. Inkarnasi

Penganut Ortodoks percaya bahwa Allah Putra, yaitu Yesus Kristus, menjelma menjadi manusia melalui kelahiran Perawan Maria.

Inkarnasi ini memungkinkan Yesus untuk menjadi jembatan antara manusia dan Allah serta menggenapi rencana penebusan dosa.

3. Kematian dan Kebangkitan Yesus

Ajaran agama ini mengutamakan kematian dan kebangkitan Yesus Kristus sebagai inti iman. Kematian-Nya di kayu salib dianggap sebagai penebusan dosa manusia, sementara kebangkitan-Nya dari kematian mengalahkan maut dan menawarkan harapan akan kehidupan kekal.

4. Peran Gereja dan Tradisi

Gereja memiliki peran sentral dalam ajaran Kristen ini. Gereja Ortodoks dianggap sebagai tubuh Kristus di dunia ini dan memiliki tanggung jawab untuk menyampaikan ajaran Kristus kepada umat.

Tradisi Gereja Ortodoks, termasuk liturgi dan praktik ibadah, dianggap penting sebagai sarana untuk menjaga kesinambungan dan kesakralan iman.

5. Ikonografi dan Pemujaan Orang Kudus

Ikonografi, atau seni ikon, memiliki tempat penting dalam Ortodoks. Ikon digunakan untuk memvisualisasikan kehadiran rohaniah, dan pemujaan terhadap ikon dan orang kudus dianggap sebagai sarana untuk memperdalam relasi dengan Allah.

6. Doa dan Pertobatan

Doa memegang peran sentral dalam kehidupan Kristen Ortodoks. Doa digunakan sebagai jembatan yang menghubungkan umat dengan Allah serta sebagai sarana untuk merenungkan ajaran-Nya.

Pertobatan dianggap sangat penting sebagai proses spiritual untuk mengakui dosa dan mencari pengampunan dari Allah.

Sementara itu dalam salib Kristen Ortodoks saat berdoa, simbol ini ditempatkan dari kanan ke kiri, yang mana hal ini berbeda dengan tradisi Katolik, dari kiri ke kanan.

Dalam konteks lain, salib Kristen Ortodoks sering kali digambarkan dalam bentuk 2D karena hal ini melambangkan gambaran akan Allah.

7. Sakramen

Gereja Ortodoks mengakui tujuh sakramen, yaitu Baptisan, Krisma (Pengurapan), Ekaristi, Pengakuan Dosa, Perkawinan, Pentahbisan, dan Pengurapan Orang Sakit.

Sakramen-sakramen ini dianggap sebagai saluran anugerah Allah kepada umat.

8. Kehidupan setelah kematian

Ortodoks percaya dalam kehidupan setelah kematian, di mana manusia akan menghadap penghakiman Tuhan. Bagi yang hidup dalam iman dan kasih, mereka akan mengalami kehidupan kekal bersama Allah.

9. Hanya memperbolehkan penafsiran Alkitab sesuai dengan tradisi yang telah ada

Mirip dengan ajaran Katolik, dalam agama Ortodoks, penekanan diberikan pada keseimbangan antara Alkitab dan tradisi agama.

Sebaliknya, dalam kalangan Kristen Protestan, fokus utamanya adalah pada interpretasi langsung Alkitab.

Dalam hal penyampaian Alkitab, agama Katolik dan Kristen Ortodoks cenderung mempertahankan pemahaman dan praktik yang telah ada sejak masa lalu, sementara dalam agama Kristen Protestan, terdapat lebih banyak ruang untuk perubahan dalam pendekatan dan penafsiran.

Tata Cara Ibadah Kristen Ortodoks

Ibadah Kristen Ortodoks (Foto: Wikipedia) 

Kenapa Kristen Ortodoks mirip Islam? Timbul pertanyaan seperti ini, karena sebagian besar dari umat Ortodoks mengenakan kerudung layaknya umat Muslim, ketika berdoa maupun di dalam gereja.

Bahkan sebenarnya, tata cara ibadah dalam ajaran Kristen Ortodoks memiliki beberapa kesamaan dengan ibadah umat Muslim, yang dikenal sebagai shalat. Namun, terdapat perbedaan utama antara keduanya.

Dalam ajaran kepercayaan ini, terdapat tujuh waktu ibadah yang dilaksanakan sepanjang hari, menyerupai konsep shalat lima waktu dalam Islam.

Selain itu, para imam atau pemimpin agama dalam ajaran Ortodoks diwajibkan menghadap ke arah yang telah ditentukan, serupa dengan arah kiblat dalam Islam.

Mengenai kenapa Kristen Ortodoks mirip Islam dalam berpakaian, hal ini sebenarnya merujuk pada salah satu kitab Korintus yang menjelaskan, pakaian tersebut adalah simbol dari kepatuhan wanita terhadap pria dan perintah untuk menutup atau menutupi rambutnya saat berdoa dan beribadah.

Sementara itu, dalam konteks berpuasa pula, aliran Ortodoks memiliki periode berpuasa selama 6 bulan, yang termasuk di dalamnya adalah puasa pada hari Rabu, Jumat, puasa menjelang peringatan kematian Bunda Maria, Paskah, dan sejumlah waktu berpuasa lainnya.

Demikianlah informasi terkait Kristen Ortodoks yang mungkin belum kamu ketahui.

Dari tata cara ibadah yang beragam hingga detail perbedaanya dengan aliran Kristen lainya, setiap elemen dalam agama ini membentuk identitas spiritual khas. Semoga ulasan ini dapat menjawab rasa penasaranmu dan selamat membaca!

Editor: Ester
TAG :
Baca Juga
LIPUTAN KHUSUS