Mengenal Teori Multiverse yang Disebut Alam Semesta Lain

Ilustrasi, foto: Pemred

PARBOABOA - Teori multiverse atau multi-semesta, yang menjadi andalan sejumlah karya fiksi, diakui keberadaannya oleh komunitas ilmuwan. Namun, sifatnya masih hipotetis lantaran sulitnya pembuktian.

Sejumlah film diketahui mengusung konsep multiverse sebagai bagian petualangan tokoh-tokohnya, seperti film indie berating amat tinggi di IMDB, Everything Everywhere All at Once (2022), hingga film yang masuk fase 4 semesta sinema Marvel (MCU), Dr. Strange in the Multiverse of Madness (2022) dan serial Loki (2021).

Jauh sebelum itu, Edgar Allan Poe menulis puisi prosa yang membayangkan "rangkaian semesta tak berbatas" (1848).

Di luar karya fiksi, konsep multiverse mendapat tempatnya ketika teori ilmiah modern mencoba mengungkap rahasia-rahasia terdalam alam semesta.

"Pemahaman kita tentang realitas belumlah lengkap sejauh ini," kata fisikawan Universitas Stanford Andrei Linde, dikutip dari National Geographic.

Apa itu multiverse?

Multiverse atau multisemesta adalah istilah yang digunakan para ilmuwan untuk menggambarkan gagasan bahwa di luar alam semesta yang kita tempati ada semesta lain.

Dikutip dari Live Science, Minggu (8/5/2022) teori mengenai multiverse sendiri menyebutkan bahwa alam semesta kita mungkin bukan satu-satunya alam semesta.

Sebaliknya, mungkin ada alam semesta yang sama sekali berbeda, terpisah jauh dari kita, yang jumlahnya lebih banyak dari yang kita perkirakan sebelumnya.

Itu berarti mungkin akan ada alam semesta yang tak terhingga, semuanya dengan hukum fisikanya sendiri, kumpulan bintang dan galaksinya sendiri, dan bahkan mungkin memiliki peradaban cerdasnya sendiri.

Bisa jadi pula jika alam semesta tempat kita tinggal saat ini hanyalah salah satu bagian dari alam semesta lain yang jauh lebih besar dan lebih banyak.

Konsep multiverse muncul di beberapa bidang fisika dan filsafat. Tetapi, konsep yang paling menonjol adalah bahwa multiverse tercipta dari sesuatu yang disebut dengan teori inflasi.

Teori inflasi menggambarkan peristiwa hipotesis yang terjadi ketika alam semesta kita masih sangat muda.

Dalam waktu yang sangat singkat, alam semesta mengalami periode ekspansi yang cepat, mengembang menjadi banyak dan lebih besar dari ukuran sebelumnya. Inflasi alam semesta diperkirakan berakhir sekitar 14 miliar tahun yang lalu.

Namun menurut Heling Deng, ahli kosmologi di Arizona State Univerity dan ahli dalam teori multiverse, inflasi tak berakhir pada waktu yang sama.

"Ada kemungkinan bahwa ketika inflasi berakhir di beberapa wilayah, inflasi berlanjut di wilayah lain," katanya.

Jadi, sementara inflasi berakhir di alam semesta kita, mungkin ada daerah lain yang lebih jauh di mana inflasi berlanjut, bahkan mungkin hingga hari ini.

Alam semesta tersendiri dapat 'menjepit' alam semesta yang mengembang dan meluas, menciptakan lautan inflasi abadi yang tak terbatas dan berisi dengan banyak alam semesta tersendiri lainnya.

Dalam skenario inflasi abadi ini, setiap alam semesta akan muncul dengan hukum fisikanya sendiri, kumpulan partikel, pengaturan gaya, dan nilai konstanta fundamentalnya sendiri.

"Ini mungkin menjelaskan mengapa alam semesta memiliki sifat-sifat itu dan sifat-sifat yang sulit dijelaskan dengan fisika dasar, seperti materi gelap atau konstanta kosmologis," papar Deng.

Apakah multiverse beneran ada?

Banyak ilmuwan telah mencoba menemukan lebih banyak bukti fisik dan kuat untuk keberadaan multiverse.

Misalnya bila memiliki tetangga alam semesta terdekat sejak lama, maka mungkin alam semesta itu akan bertabrakan dengan alam semesta kita.

Hal itu menciptakakan jejak yang dapat dideteksi. Jejak itu bisa dalam bentuk distorsi pada latar belakang gelombang mikro kosmik.

Tetapi pencarian ini tak membuahkan hasil, sehingga multiverse tetap hipotesis. Deng sendiri tengah mencari bukti multiverse dengan mencari jenis lubang hitam khusus yang bisa menjadi artefak potongan alam semesta kita dengan alam semesta lain melalui proses yang disebut terowongan kuantum.

Jika beberapa wilayah alam semesta kita berpisah, maka akan meninggalkan 'gelembung' di alam semesta kita yang akan berubah menjadi lubang hitam unik dan mungkin masih ada sampai sekarang.

"Pendeteksian potensial lubang hitam ini kemudian dapat menunjukkan keberadaan multiverse," ungkap Deng.

Lebih lanjut implikasi yang mungkin akan paling membingungkan dari multisemesta adalah keberadaan doppelgängers alias keberadaan kembaran kita.

Jika memang ada tak terhingga alam semesta, tetapi sejumlah cara terbatas untuk mengatur partikel di alam semesta tersendiri mana pun, maka pola yang sama pasti akan berulang pada akhirnya.

Menurut Institute of Physics karena akan ada jumlah alam semesta yang tak terbatas, maka akan ada jumlah tak terbatas pula secara bersamaan.

Tapi tenang saja, kebingungan Anda untuk sementara masih sebatas teori karena multiverse belum terbukti ada. Setidaknya untuk saat ini.

Editor: -
TAG :
Baca Juga
LIPUTAN KHUSUS