Para Pekerja Wajib Tahu! Apa Itu Quiet Cutting?

Ilustrasi pekerja mengalami quiet cutting (Foto: Instagram @quiet cutting)

PARBOABOA, Jakarta - Pengenalan lingkungan kerja dan istilah yang sering digunakan di lingkungan tersebut menjadi keharusan sebelum mulai bekerja.

Baru-baru ini, ada sebuah istilah baru yang familiar di dunia kerja yaitu quiet cutting.

Menurut laporan dari Business Standard, istilah quiet cutting dalam dunia kerja merujuk pada pemutusan hubungan kerja (PHK) yang dilakukan secara diam-diam.

PHK ini dilakukan dengan cara menempatkan karyawan tersebut pada jabatan dan gaji yang rendah, namun dengan volume dan tuntutan kerja yang tinggi.

Hal ini juga ditandai dengan pemindahan posisi secara tiba-tiba, ataupun membatasi deskripsi pekerjaan yang ditulis di kontrak kerja.

Perusahaan dengan langkah tersebut berharap karyawan akan mengundurkan diri atas kemauannya sendiri atau dengan sukarela berhenti kerja karena tidak nyaman dan merasa tidak sanggup.

Bagi perusahaan yang telah menjalankan cara tersebut, quiet cutting menjadi salah satu cara yang efektif untuk mengurangi jumlah karyawan dan menghemat keuangan perusahaan, termasuk biaya pesangon tanpa harus melakukan pemecatan secara langsung.

Cara ini juga dilakukan karena alasan manajemen kinerja, reorganisasi, dan pergantian karyawan.

Perusahaan-perusahaan di Indonesia sendiri penerapan cara ini belum diketahui, apakah sudah berjalan atau belum sebagai prosedur pemecatan.

Sementara diketahui di beberapa perusahaan di luar negeri, sudah ada yang mengaktifkan cara tersebut selama setahun terakhir.

Tapi, perlu disadari bahwa jika quiet cutting dilakukan tanpa analisis dan strategi yang tepat, justru dapat merugikan perusahaan itu sendiri.

Misalnya,memperburuk reputasi perusahaan dan juga mengurangi tingkat kepercayaan calon karyawan/pekerja yang ingin bergabung dengan perusahaan tersebut.

Bagi pekerja yang saat bekerja merasa mengalami hal-hal seperti yang dijelaskan di atas, kalian dapat mengatasinya dengan cara selalu mengambil sikap terbuka.

Mulai dengan mencoba membangun komunikasi terbuka dengan atasan maupun pihak HRD. Jelaskan masalah apa yang dirasakan dan diskusikan hal tersebut untuk menemukan solusi yang terbaik.

Selain itu, untuk mengatasi quiet cutting, lakukan langkah-langkah berikut:

1. Identifikasi dan Pahami Situasi

Bicaralah secara terbuka dengan atasan atau pihak manajemen perusahaan sehingga bisa memahami alasan di balik perubahan peran atau tanggung jawab yang dipercayakan.

Selain itu, perlu melakukan peninjauan deskripsi pekerjaan yang dipercayakan kepada Anda. Kemudian lakukan perbandingan dengan pekerjaan dan tanggung jawab yang sedang Anda jalankan. Perlu mengidentifikasi perbedaan dan perubahan yang telah terjadi.

2. Tingkatkan Keterampilan dan Kompetensi

Jika mendapat kesempatan, manfaatkan program pelatihan yang diselenggarakan oleh perusahaan. Selain itu, maksimalkan pelatihan eksternal untuk meningkatkan keterampilan dan kompetensi.

Dapatkan sertifikasi yang sesuai dengan bidang pekerjaan guna meningkatkan kredibilitas dan nilai tambah bagi perusahaan.

3. Kembangkan Jaringan Profesional

Aktif menciptakan lingkungan kerja yang kondusif, termasuk membangun hubungan yang harmonis dengan rekan kerja, atasan, dan departemen lain di perusahaan.

Di luar perusahaan, perlu terlibat merawat relasi dengan asosiasi profesional. Hadiri seminar dan ikuti forum diskusi offline atau online sebagai wadah pengembangan diri dan memperluas jaringan.

4.  Carilah Dukungan

Sebaiknya memiliki mentor yang profesional yang dapat memberikan bimbingan dan nasihat terkait pekerjaan.

 Bisa juga dengan memanfaatkan sumber daya yang disediakan oleh perusahaan, khususnya bagian SDM, seperti konseling karier dan program bantuan karyawan.

5. Evaluasi dan Tinjau Pilihan Karier

Di saat menemukan perubahan yang terjadi tidak sesuai dengan aspirasi kerja, maka harus mulai mencari peluang kerja baru yang lebih sesuai.

Jika diperlukan, pertimbangkan untuk melanjutkan peningkatan kemampuan lewat pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi sebagai langkah peningkatan prospek kerja yang lebih baik.

6.  Manajemen Emosi dan Kesehatan Mental

Menjalankan manajemen pengelolaan stres, seperti meditasi, olahraga, dan aktivitas relaksasi lainnya.

Bila itu sangat dibutuhkan, jangan ragu untuk mencari bantuan dari profesional bidang kesehatan mental.

7.  Dokumentasi dan Pengawasan

Harus memiliki catatan harian terkait perubahan peran dan tanggung jawab yang dialami.

Buatlah itu dalam bentuk laporan berkala mengenai kinerja dan keterlibatan dalam pekerjaan perusahaan. Hal itu bertujuan untuk menunjukkan nilai tambah kepada perusahaan.

Editor: Norben Syukur
TAG :
Baca Juga
LIPUTAN KHUSUS