Dampak Kemarau Panjang, Petani Ciketug Pastikan Puluhan Hektare Lahan Pertanian Gagal Panen

Potret sawah di wilayah Kampung Ciketug, Desa Pangkaljaya, Kecamatan Nanggung, Kabupaten Bogor Provinsi Jawa Barat, bisa dipastikan mengalami gagal panen, Kamis (24/08/2023) siang. (Foto: PARBOABOA/Hari Setiawan)

PARBOABOA, Jakarta - Produksi padi petani di Kampung Ciketug, Desa Pangkal Jaya, Kecamatan Nanggung, Kabupaten Bogor, Jawa Barat tahun ini dipastikan gagal panen.

Pasalnya, puluhan hektare lahan pertanian padi milik warga kering tak terairi imbas musim kemarau, sehingga padi yang telah ditanam dua bulan lalu rusak.

Menurut salah seorang petani di Ciketug, Nanang Haerani, hampir empat bulan tidak turun hujan dan membuat 10 hektare lahan pertaniannya gagal panen.

"Saat ini warga sedang cemas, karena sungai yang harusnya mengairi sawah warga juga kering. Apalagi sudah hampir empat bulan tidak turun hujan," katanya saat diwawancarai PARBOABOA, di Nanggung Bogor, Kamis (24/07/2023).

Nanang mengaku tak banyak bisa yang dilakukan petani. Apalagi padi di persemaian juga tidak sempat ditanam. Bahkan, lanjut dia, traktor untuk membajak sawah tidak bisa digunakan karena tanah mengering dan tandus.

Selain lahan pertanian yang terkena dampak dari kemarau panjang, kata Nanang, Kampung Ciketug juga mengalami krisis air bersih.

"Di sini warga kewalahan, kekurangan air bersih juga," jelasnya.

Sementara itu, Kepala Desa Pangkal Jaya, Taufik Sumarna membenarkan banyak petani yang mengeluhkan dampak dari kemarau panjang.

"Memang wilayah desa kami sudah empat bulan tidak turun hujan, sehingga puluhan hektare pertanian padi milik warga akan gagal panen di tahun ini," katanya saat diwawancarai di Kantor Nanggung Bogor, Kamis (24/07/2023).

Tidak hanya di Desa Pangkal Jaya, Desa Kalong Liud yang merupakan desa tetangga juga mengalami krisis air bersih.

Kepala Desa Kalong Liud, Jani Nurjaman kemudian meminta bantuan pemerintah daerah segera menyalurkan air untuk kebutuhan warga.

"Kalong Liud mulai krisis air bersih dan petani banyak yang juga gagal panen," katanya kepada PARBOABOA.

Sementara itu, Kepala Bidang Pelayanan Usaha di Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan (Distanhorbun) Kabupaten Bogor, Judi Rahmat mengaku sebanyak 11 ribu lahan padi petani yang ditanam sejak Mei hingga Agustus 2023 telah diasuransikan.

"Asuransi tersebut berlaku dari menanam hingga panen ya, selama empat bulan, dari Mei sampai Agustus 2023," katanya saat dihubungi PARBOABOA melalui sambungan telepon, Jumat (25/08/2023).

Judi mengungkapkan, meskipun tanaman padinya sudah diasuransikan tapi masih gagal panen, maka akan mendapatkan ganti rugi sekitar Rp 6 juta per hektare.

Biaya pendaftaran asuransi ini sebesar Rp180.000 setiap satu hektare sawah yang ditanami padi. Seluruh biaya ditanggung pemerintah dengan porsi 80 persen pemerintah pusat, 20 persen pemerintah daerah.

"Jadi, Rp144 ribu subsidi dari Pemerintah Pusat dan Rp36 ribu dari Pemerintah Kabupaten Bogor," jelasnya.

Judi mengaku belum ada laporan dari petani terkait kekeringan lahan pertanian imbas fenomena El-Nino. Namun, lanjut dia, Dinas Pertanian Bogor tetap siap siaga membantu petani jika terjadi kekeringan.

"Kita selalu stand by jika terjadi kekeringan. Kita sudah kerja sama dengan Damkar (Pemadam Kebakaran) dan BPBD untuk melakukan penyiraman," pungkasnya.

Editor: Kurniati
TAG :
Baca Juga
LIPUTAN KHUSUS