Pola Asuh Permisif: Pengertian, Ciri-ciri dan Dampaknya bagi Anak

Ilustrasi pola asuh permisif (Foto: materikonseling.com)

PARBOABOA – Pola asuh anak adalah proses mendidik anak dari kelahiran hingga anak memasuki usia dewasa. Proses tersebut ditujukan untuk meningkatkan dan mendukung perkembangan fisik, emosional, sosial, finansial, dan intelektual anak.

Menurut Baumrind, berdasarkan teori dan literatur dalam psikologi anak, terdapat beberapa konsep yang menjadi rujukan dalam membahas jenis pola asuh anak, yaitu pola asuh otoriter, pola asuh otoritatif, dan pola asuh permisif.

Dalam kesempatan ini Parboaboa akan membahas salah satu pola asuh tersebut, yaitu pola asuh permisif. Apa itu pola asuh permisif? Bagaimana dampaknya pada anak? Simak penjelasannya di bawah ini.

Pengertian Pola Asuh Permisif

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), permisif artinya bersifat terbuka, serba membolehkan, dan suka mengizinkan. Dengan demikian, pola asuh permisif adalah pola pengasuhan yang membebaskan dan mengizinkan anak untuk melakukan segala sesuatu dan mengambil keputusannya sendiri.

Pada cara pengasuhan ini, orang tua terlihat lebih santai dan tidak menerapkan aturan atau struktur tertentu yang harus diikuti anak. Pada pengasuhan ini orang tua juga memberikan kasih sayang secara berlebihan, sehingga terkesan memanjakan anak.

Ciri-ciri Pola Asuh Permisif

Ilustrasi orang tua yang menerapkan pola asuh permisif (Foto: ruangmom.com)

Berikut ini adalah ciri-ciri pola asuh permisif yang harus diketahui:

  • Tidak banyak menerapkan aturan
  • Sangat dekat dan menyayangi anak (terkesan memanjakan)
  • Terlihat seperti teman, bukan orang tua
  • Mendukung dan responsif terhadap anak
  • Menggunakan hadiah agar anak melakukan sesuatu
  • Mengutamakan kebebasan anak daripada tanggung jawab
  • Meminta pendapat anak pada keputusan-keputusan besar
  • Jarang membuat jadwal atau struktur di dalam kehidupan anak
  • Jarang memberi hukuman ketika anak melakukan kesalahan

Pada pola asuh ini, setiap orang tua tidak banyak menuntut anak untuk mengikuti aturan tertentu, alhasil anak tidak dapat belajar tentang kedisiplinann dan tanggug jawab.

Dampak Pola Asuh Permisif

Ilustrasi orang tua yang menerapkan pola asuh permisif (Foto: Nawacita.co)

Menurut penelitian, terdapat beberapa dampak yang terjadi akibat menerapkan pola asuh permisif. Pola asuh ini yang mengakibatkan anak tidak belajar mengenai aturan, bahkan dari lingkungan terdekatnya seperti keluarga. Akibatnya anak tidah tahu apa itu tanggung jawab dan kedisiplinan.

Berikut ini adalah dampaknya:

1. Tidak memiliki tata krama

Akibat dari orang tua yang permisif menyebabkan anak tidak memiliki tata krama yang baik. Anak tersebut berperilaku seenaknya saja, karena tidak pernah diarahkan atau dilarang orang tuanya. Hal ini yang bisa membuat anak kurang bertanggung jawab.

2. Memiliki sifat egois

Kebebasan orang tua membuat anak memiliki sifat yang egois. Anak hanya akan memikirkan dirinya sendiri saja, dan tidak perduli pada hal lain.

3. Tidak mampu bersosialisasi

Setiap anak yang dididik oleh orang tua permisif cenderung memiliki sedikit empati, sehingga membuatnya tidak terampil dalam bersosialisasi. Umumnya, anak dengan pola asuh ini cenderung berperilaku antisosial.

4. Cenderung berperilaku nakal

Anak-anak yang dididik dengan pengasuhan permisif cenderung berperilaku nakal, bahkan terlibat dalam hal yang buruk, seperti mengonsumsi minuman beralkohol atau penyalahgunaan obat-obat terlarang.

5. Tidak bisa mengatur waktu atau kebiasaan

Anak yang dididik dengan pola pengasuhan permisif tidak terbiasa dengan batasan atau aturan. Salah satu contohnya adalah anak tidak diberi batasan dalam bermain games atau menonton televisi. Akibatnya, anak dapat melakukan kebiasaan buruk tersebut terlalu lama hingga menciptakan kebiasaan yang tidak sehat.

6. Kurang cakap dalam mengambil keputusan

Kebiasaan orang tua dengan pola asuh ini tidak menerapkan aturan di rumah sehingga membuat anak menjadi kurang cakap dalam mengambil keputusan. Selain itu, anak cenderung tidak mampu untuk memecahkan masalah. Inilah yang menyebabkan anak memiliki keterampilan sosial yang buruk.

Sebagai orang tua, tak salah memang memberikan segala yang anak minta, namun jangan sampai hal tersebut justru membuatnya berperilaku buruk dan dapat mengancam masa depannya.

Editor: Lamsari Gulo
TAG :
Baca Juga
LIPUTAN KHUSUS