Ribuan Sekolah Sudah Tetapkan Kurikulum Prototipe

ilustrasi

PARBOABOA, Siantar - Kemendikbud Ristek (Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi) memberikan 3 pilihan kurikulum yang bisa diterapkan satuan pendidikan dalam pembelajaran di tahun 2022.

Yaitu Kurikulum 2013, Kurikulum darurat (Kurikulum 2013 yang disederhanakan), dan Kurikulum Prototipe. Nah, kurikulum Prototipe inilah yang sangat menarik perhatian masyarakat.

Kurikulum prototipe merupakan kurikulum berbasis kompetensi untuk mendukung pemulihan pembelajaran dengan menerapkan pembelajaran berbasis proyek (Project Based Learning).

Kurikulum ini nantinya bakal lebih berfokus pada materi yang esensial dan tidak terlalu padat materi. Hal itu sengaja dirancang untuk memberi ruang lebih banyak bagi pengembangan karakter dan kompetensi siswa, terutama pada jenjang SMA.

Selain itu, Kurikulum Prototipe akan menghilangkan jurusan IPA, IPS dan Bahasa. Jadi, siswa dapat mengambil mata pelajaran yang sesuai dengan tujuannya.

Pelaksana Tugas Kepala Pusat Perbukuan Kemendikbudristek, Supriyatno, mengatakan bahwa kurikulum prototipe sudah diterapkan di 2.500 satuan pendidikan yang tergabung dalam program Sekolah Penggerak dan SMK Pusat Keunggulan pada tahun 2021.

Namun mulai tahun 2022, satuan pendidikan yang tidak termasuk sekolah penggerak pun diberikan opsi untuk dapat menerapkan kurikulum prototipe. Setiap sekolah dapat menggunakan kurikulum prototipe secara sukarela tanpa seleksi.

“Tidak ada seleksi sekolah mana yang akan menggunakan Kurikulum Prototipe, namun yang kami lakukan hanya pendaftaran dan pendataan," ujar Supriyatno dilansir dari laman Kemendikbud saat mengisi acara Sosialisasi Kurikulum dalam rangka Pemulihan Pembelajaran di Kantor Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP) Bengkulu.

Supriyatno mengatakan, salah satu karakteristik kurikulum prototipe adalah menerapkan pembelajaran berbasis proyek untuk mendukung pengembangan karakter sesuai dengan profil pelajar pancasila.

Dalam kurikulum ini, sekolah diberikan keleluasaan dan kemerdekaan untuk memberikan proyek-proyek pembelajaran yang relevan dan dekat dengan lingkungan sekolah.

Pembelajaran berbasis proyek dianggap penting untuk pengembangan karakter siswa karena memberikan kesempatan kepada siswa untuk belajar melalui pengalaman (experiential learning).

“Mereka mengalami sendiri bagaimana bertoleransi, bekerja sama, saling menjaga, dan lain-lain, juga mengintegrasikan kompetensi esensial dari berbagai disiplin ilmu,” kata Supriyatno.

Editor: -
TAG :
Baca Juga
LIPUTAN KHUSUS