Kebakaran di Gedung Cyber I, Sejumlah Broker Saham di BEI Terganggu

Kebakaran di Gedung Cyber I, Sejumlah Broker Saham di BEI Terganggu

PARBOABOA, Jakarta – Terjadi kebakaran di Gedung Cyber I, Mampang Prampatan, Jakarta Selatan pada Kamis (2/12) sekitar pukul 12.30. Kebakaran ini diduga terjadi akibat hubungan pendek arus listrik.

Seperti diketahui, Gedung Cyber I merupakan lokasi penyimpanan pusat data (data center) dan digunakan sebagai ruangan kantor oleh sejumlah perusahaan, termasuk para anggota bursa.

Perusahaan-perusahaan tersebut adalah PT Karyagraha Nusantara, PT IP Teknologi Komunikasi, PT Indo Pratama Cybernet, PT Orion Cyber Internet, Smartweb Indonesia, dan PT Telecommunication Software Support Centre.

Akibatnya, insiden ini memicu pertanyaan publik mengenai keamanan data yang tersimpan di sana. Sebab, ada kemungkinan data-data yang tersimpan di sana hilang akibat kebakaran ini.

Pengamat Keamanan Siber dari Vaksincom Alfons Tanujaya mengatakan, masyarakat tidak perlu khawatiran soal kehilangan data akibat insiden ini. Ia menyebut, kebakaran bukan berdampak pada data yang tersimpan di dalamnya melainkan fasilitas dan infrastruktur fisiknya saja.

Perusahaan-perusahaan yang mempercayakan datanya di Gedung Cyber 1 serta menyimpannya di tempat lain sebagai back up supaya saat terjadi peristiwa seperti ini diyakini tidak akan kehilangan data.

"Ini sih hanya menyangkut fisik kalau data tidak perlu khawatir. Gedung Cyber 1 ini sudah pasti memiliki mirroring. Misalnya ada satu lokasi yang mengalami kebakaran, mati listrik atau tersambar petir, maka lokasi lain akan mengambil alih," kata Alfons.

Ia menambahkan, bila standar back up dijalankan dengan baik oleh penyedia penyimpanan data di Gedung Cyber 1 maka tidak akan ada masalah. Meski tidak terjadi kehilangan data, namun bisa saja kecepatan akses datanya terganggu.

"Kecepatan akses akan berkurang karena dia mempunyai beberapa jalur lalu ada jalur yang mati. Ini bisa terjadi kalau tidak melakukan back up. Kalau vendor atau penyedia layanan datanya disiplin menjalankan standar maka aman. Sebaliknya, kalau vendor tidak menjalankan itu akan terjadi kelumpuhan data. Ini tidak boleh terjadi di dalam layanan cloud," terangnya.

Pengamat teknologi dari Gatorade, Lucky Sebastian pun mengamini biasanya setiap perusahaan tidak hanya menitipkan data di satu lokasi. Standar semacam ini semestinya sudah dipahami oleh penyedia dan pengguna penyimpanan layanan data.

"Kayak Google bisa punya lima tempat untuk menjaga data. Jadi, mestinya enggak apa-apa saat terjadi kebakaran," ujarnya saat dihubungi terpisah.

Lucky menambahkan, insiden kebakaran seperti yang terjadi di Gedung Cyber 1 sudah diantisipasi terjadi dan dipersiapkan mitigasi agar tidak sampai terjadi kehilangan data.

"Tentu mereka sudah memperkirakan kejadian luar biasa bukan hanya kebakaran, tetapi juga perang dan bencana alam lainnya sehingga datanya tidak akan hilang," pungkasnya.

Editor: -
TAG :
Baca Juga
LIPUTAN KHUSUS