Senja Kala Becak Dayung di Kota Medan: Terancam Punah Setelah 7 Dekade

Becak dayung sedang melintas di Jalan Brigjend Katamso, Medan (Foto: PARBOABOA/Susana)

PARBOABOA - "Paaakkk… ini penumpangmu, bawakanlah belanjaannya ini," teriakan seorang pedagang buah di Pasar Pringgan, Kota Medan, itu membuyarkan perbincangan kami, Selasa (24/10/2023) pekan lalu. 

Abdul Hamid (63 tahun) bergegas meninggalkan becaknya menuju orang yang dimaksud. Kemudian dia kembali sembari menenteng beberapa kantong plastik beraneka ukuran.

Seorang ibu berusia hampir 80 tahun mengikutinya dari belakang. Kurang dari hitungan menit, barang belanjaan dan penumpang becak itu sudah berada di dalam kabin penumpang. 

Becak milik Sangkot, begitu orang-orang di Pasar Pringgan biasa memanggil Abdul Hamid, tampak miring menahan beban. Dengan tenaga kaki-kaki tuanya, Sangkot menggowes becak perlahan menjauh dari pasar menuju tujuan. 

Dia adalah satu dari sedikit penarik becak dayung yang tersisa di Kota Medan. Jumlahnya bisa dihitung dengan jari. Mereka biasa mangkal di pasar atau ruas jalan tertentu saja. 

Waktu di Pasar Pringgan saat itu sudah menjelang pukul 10.00 WIB. Matahari mulai terasa menyengat. 

Tapi Sangkot masih bersemangat mengayuh becaknya. Ibu tadi merupakan penumpang ketiga yang menggunakan jasanya hari itu. 

Sekitar setengah jam kemudian, Sangkot sudah kembali mangkal di Pasar Pringgan. Hingga pukul 12.00 WIB, tidak ada lagi pelanggan yang naik ke becaknya. 

Hari itu penumpang sedang sepi. Sangkot bercerita, biasanya paling sedikit dia mengantar lima penumpang. 

Kalau lagi mujur, dia bisa mendapat delapan penumpang, pernah juga sampai 12 orang. Penghasilannya tak pernah menentu. 

"Kadang Rp35 ribu atau Rp40 ribu, kadang Rp70, Rp80, kadang Rp100 ribu," kata Sangkot kepada Parboaboa.

Abdul Hamid atau Pak Sangkot menanti penumpang di depan becak dayungnya (Foto: PARBOABOA/Susana)

Sangkot tidak pernah mematok harga tertentu untuk jasanya. Ongkosnya tergantung negosiasi dan jarak tujuan. Tapi fleksibilitas itu tak lantas membuat jasanya laris manis.

Dua tahun belakangan, terlebih sejak pandemi COVID 19, jumlah penumpangnya berkurang jauh. Kemunculan moda transportasi lain yang lebih modern juga membuat eksistensi becak dayung kian terdesak. 

Sangkot dan sejawatnya para penarik becak dayung harus bersaing dengan ojek online yang kian menjamur. Penarik becak bermesin saja kini jumlahnya lebih banyak dari becak dayung. 

Beberapa tahun lalu, menurut penuturan Sangkot, masih ada enam orang penarik becak dayung di Pasar Pringgan. Kini tinggal dua orang saja yang tersisa. 

Dihantam tantangan sedemikian rupa tak membuat Sangkot risau. Dia percaya Tuhan Maha Adil. 

"Kadang di tengah jalan ada yang naik mobil, naik kereta, dikasih duit saya kadang Rp50 ribu, Rp100 ribu, Rp20 ribu, beras, entah apa ajalah,” tuturnya.

Profesi sebagai penarik becak dayung sudah dilakoni Sangkot selama 40 tahun, sejak lajang hingga kini punya dua orang cucu yang sudah dewasa.  

Saat kami mengobrol, kenangannya kembali ke periode 80-90-an. Saat itu bisa dibilang sebagai masa jaya penarik becak dayung. 

Makin ke sini, penumpang makin sepi. Terutama, kata Sangkot, ketika memasuki tahun 2000-an. 

Seiring dengan itu, usia Sangkot mulai memasuki masa senja. Tenaganya tidak lagi sekuat dulu. 

Sekarang dia lebih banyak membawa penumpang untuk jarak dekat. Waktu masih muda, dia bisa mengantar penumpang ke tujuan yang waktu tempuhnya sampai satu jam perjalanan. 

Meski berusia lanjut, Sangkot mengaku masih bugar. Tiap pagi ia hanya sarapan dua potong roti dan minum air dari rumah. 

Pukul 08.00 WIB, Sangkot sudah beredar di sekitar Pasar Pringgan. Ia hanya membawa bekal satu botol besar air mineral. 

Ada atau tidak ada penumpang, pokoknya Sangkot pulang pukul 12.00 WIB. 

"Kadang kalau pas ada sewa, ya, dibawa. Kalau enggak ada, duduk saja di becak," ujarnya.

Sekitar 10 kilometer dari Pasar Pringgan, seorang penarik becak dayung lain juga berjuang agar tak tergilas zaman. 

Dia adalah Lahmudin Lubis. Usianya 65 tahun, dua tahun lebih tua dari Sangkot. 

Lahmudin sedang memasang tenda_terpal becaknya saat hujan mulai turun. (Foto: PARBOABOA/Susana)

Lahmudin sehari-hari menarik becak dayung di sekitar Bilangan Brigjend Katamso-Pasar Simpang Limun. Kepada Parboaboa, dia berkeluh bagaimana beratnya menjadi penarik becak dayung saat ini. 

Ia pernah pulang ke rumah tanpa uang sepeser pun. Padahal Lahmudin mangkal dari pukul 08.00 pagi hingga pukul 08.00 malam.

Sering juga dia cuma dapat satu-dua penumpang. Ongkos jasanya pun cuma Rp5-Rp10 ribu. 

Bila dibanding becak mesin atau ojek online, tarif becak dayung untuk tujuan jarak dekat relatif lebih murah. Tapi hal itu tidak lagi jadi daya tarik bagi konsumen. 

"Enggak ada yang mau naik becak dayung lagi. Lambat katanya. Karena didayunglah pula sama kaki," keluh Lahmudin. 

Waktu dulu pelanggan sedang ramai-ramainya, Lahmudin bisa bawa uang lumayan banyak ke rumah. Anak-anaknya pun dia sekolahkan dari jerih payah menarik becak. 

Dia paling senang bila musim hujan tiba. Sebab, kata Lahmudin, becak dayung jadi pilihan orang untuk menembus hujan. 

Tapi itu dulu, sebelum becak mesin muncul dan ojek online belum menguasai jalanan. Sekarang kondisinya berubah 180 derajat. Untuk sekadar makan sehari-hari pun dia sudah ngos-ngosan. 

"Kalau di rumah tidak ada makan, ya sudah, minum air putih saja," kata Lahmudin. 

Ketika banyak rekannya yang beralih ke becak mesin, Lahmudin tetap setia dengan becak dayung. Biaya becak mesin tidak terjangkau oleh isi dompetnya. 

Jangankan membeli, menyewanya saja dia tidak sanggup. Jaminan untuk sebuah becak mesin mencapai Rp12 juta. Tiap hari biaya sewa yang harus disetor Rp25 ribu.  

"Kalau kita enggak bayar sewanya, sebulan kali Rp25 ribu sudah berapa? ya dipotong dari situlah (uang jaminan-red)," kata Lahmudin. 

Pak Lahmudin Lubis, penarik becak dayung, duduk di becak miliknya. (Foto: PARBOABOA/Susana)

Lahmudin dan Sangkot bisa jadi adalah generasi terakhir yang mengayuh becak di Medan. Penarik becak dayung rata-rata sudah berusia lanjut. 

Kiprah panjang becak dayung dalam lintasan sejarah Kota Medan terancam selesai.   

Asal-Usul Becak Dayung di Kota Medan

Parboaboa menelusuri asal-usul becak dayung di Kota Medan melalui Zuliana, guru sejarah yang pernah meneliti sejarah perkembangan becak di Kota Medan. 

Dia menduga becak dayung masuk ke medan sekitar tahun 1950. Kala itu baru satu-dua becak dayung yang ada di Kota Medan.

Namun, masyarakat Medan cepat beradaptasi dengan kehadiran becak dayung. Pada 1960, moda transportasi ini menjadi populer dan membanjiri jalanan. 

Zuliana memperkirakan becak dayung berasal dari Singapura. "Becak ini datang seiring dengan perkembangan perkebunan di Deli," dia memaparkan.

Kesimpulan itu didasarinya pada kemiripan bentuk becak dayung di Medan dengan yang pernah digunakan di Singapura pada periode 60-an. Becak di Medan agak berbeda dengan becak yang dikenal orang di tempat lain. 

Di Jawa, misalnya, orang lebih mengenal becak yang posisi penumpangnya berada di depan, sementara penariknya berada di belakang. 

Adapun, posisi penumpang dan pengemudi becak di Medan berdampingan saling bersisian. Bagi Zuliana, hal itu juga menggambarkan aspek kultural yang mengedepankan kesetaraan. 

"Konsepnya seimbang. Pengemudi dapat berkomunikasi dengan pengendara begitu sebaliknya tanpa harus ada yang merasa strata sosial lebih tinggi," Zuliana berujar.

Karena eksistensinya yang sudah panjang melintasi berbagai zaman, menurutnya, becak layak dianggap sebagai identitas sejarah Kota Medan. Namun, ia tidak menampik bahwa becak dayung kini makin tersisih. 

Sejak sekitar 2010-an, kata Zuliana, jumlah penarik becak dayuh mulai berkurang. Pengayuh becak dayung, lanjutnya, semuanya kini relatif berusia lanjut. 

Dari kacamata Henry Sitorus Pane, sosiolog Universitas Sumatra Utara, tersisihnya becak dayung disebabkan transformasi masyarakat. Ada tuntutan dan kebutuhan masyarakat yang terus berubah. 

Henry Sitorus Pane, Sosiolog Universitas Sumatera Utara (Foto: PARBOABOA/Susana)

Orang di perkotaan kini butuh transportasi yang tidak hanya terjangkau dari aspek harga tapi juga cepat. Becak dayung tidak bisa beradaptasi dengan perubahan tersebut. 

Itu sebabnya, becak dayung kehilangan relevansinya sebagai moda transportasi. 

"Masyarakat inginkan sesuatu yang efisien dan efektif," ucap Henry. 

Namun, bukan berarti becak dayung bisa dibiarkan punah begitu saja. Menurut Henry, bagaimanapun masih ada orang yang menggantungkan hidup dari moda transportasi itu. 

Ia menilai pemerintah perlu melakukan intervensi. Becak dayung punya nilai nostalgia yang bisa diberdayakan untuk kebutuhan pariwisata. 

"Semacam daerah-daerah heritage seperti Malioboro ya. Yogjakarta itu ada, tapi kan enggak banyak lagi," kata dia. 

Bila tidak segera dilakukan, 5-10 tahun lagi mungkin becak dayung tidak lagi bisa ditemui di Kota Medan. 

Reporter: Susanna Hutapea

Editor: Jenar
TAG :
Baca Juga
LIPUTAN KHUSUS