Cerita Pemulung Bantar Gebang yang Jual Sampah Demi Bertahan Hidup

Samudi sedang memilah sampah plastik di lapaknya di kawasan Tempat Pembuangan Sampah Terpadu Bantar Gebang, Bekasi, Rabu (24/5/2023). (Foto: Parboaboa/Muazam)

PARBOABOA, Jakarta - Samudi (75) terlihat tengah memilah sampah plastik yang berhasil dikumpulkan anaknya dari Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) Bantar Gebang, Bekasi, Rabu (24/5/2023).

Pria sepuh asal Indramayu itu satu dari sekitar 6 ribu pemulung yang mengais rezeki di gunungan sampah TPST Bantar Gebang.

Kepada Parboaboa, Samudi lantas menceritakan ihwal dirinya menjadi pemulung dan bertahan ia jalani dalam 30 tahun terakhir. 


Samudi awalnya bekerja sebagai tukang becak di Tanjung Priok selama 18 tahun. Namun seiring bergantinya kebijakan, pemerintah pun akhirnya melarang penggunaan becak.

"Becak dilarang sama pemerintah, kita nggak punya kerjaan, terpaksa kita terjun ke sampah, gitu," ungkapnya.

Samudi mulai memilah sampah plastik dari pagi hari, sekitar pukul 07.00 hingga siang hari, pukul 14.00. Ia berbagi tugas dengan anaknya. Ia bagian yang memilah sampah plastik, sementara anaknya yang mencari ke gunungan sampah. Mereka mengumpulkan botol, gelas, dan sampah plastik lainnya.

"Jadi yang nyari anak, yang beresin kita. Kita yang misahin, botol di sini, plastik di sini," ungkapnya.

Sehari, kata Samudi, bisa menjual tiga puluh karung besar sampah plastik ke pengepul.

Untuk sampah plastik per kilonya dihargai Rp400 rupiah, sedangkan sampah botol Rp700 rupiah per kilo.

Samudi mengeluhkan harga jual sampah plastik yang kerap naik-turun tak menentu, tergantung pengepulnya.

Kendati demikian, ia mengaku penghasilan dari menjual sampah plastik itu cukup untuk menghidupi seorang istri, anak, dan membayar sewa rumah seharga Rp150 ribu per bulan.

"Bukan tambah mahal, tapi tambah turun. Tapi (biaya) makanan tambah mahal terus, naik terus, tapi ini turun pada bingung rakyat kecil," keluhnya.

Editor: Kurnia Ismain
TAG :
Baca Juga
LIPUTAN KHUSUS