Ciri Ciri Tari Klasik dan Pola yang Digunakannya

Ciri-Ciri Tari Klasik (Foto: jbbudaya.jogjabelajar.org)

PARBOABOA - Tari tradisional yang lahir di lingkungan keraton atau pusat pemerintahan merupakan sebutan dari apa yang dimaksud dengan tari klasik. Tarian ini diwariskan secara turun-temurun oleh kalangan bangsawan.

Tari klasik pada mulanya berkembang di lingkungan kerajaan dan menjadi tradisi yang melekat di kalangan masyarakat umum dan memiliki aturan baku yang tidak bisa diubah.

Jenis tari ini tidak bisa diubah karena bisa mengubah makna dari pertunjukannya.  Tarian ini dapat dibedakan dengan jenis lain berdasarkan gerakan, asal-usul, serta tujuan penyelenggaraan kesenian tersebut.

Terdapat beberapa pendapat yang menjelaskan bahwa tari klasik juga harus mengikuti perkembangan zaman. Namun, pendapat tersebut tidak berlaku karena bisa jadi mengubah makna dan filosofis yang sudah ada sejak lama.

Fokus para pendahulu dan para pelaku seni tetap mempertahankan keaslian dan nilai-nilai yang melekat pada tari klasik tersebut.

Ciri ciri Tari Klasik

Tari Klasik memiliki arah sekaligus peran yang ditunjukkan ketika menyambut tamu hingga pengukuhan pimpinan di lingkup keraton. Secara umum, tarian klasik memiliki ciri khas tertentu yang dapat menonjolkan dari jenis tari lainnya. Berikut ciri ciri tari klasik adalah sebagai berikut:

  1. Memiliki pedoman berdasarkan pakem tertentu dan memiliki sifat yang tidak bisa diubah karena berpeluang merusak aspek tertentu dari tarian klasik tersebut.
  2. Busana atau pakaian yang digunakan penari memiliki ciri khas yang lebih mewah, identik dengan busana yang digunakan pihak-pihak bangsawan atau petinggi kerajaan.
  3. Penari dirias dengan riasan yang apik dan ayu berdasarkan tema atau pembawaan kisah tarian klasik yang bersangkutan.
  4. Memiliki makna dan filosopi yang lebih mendalam, karena punya asal-usul kisah pada zaman kerajaan.
  5. Memanfaatkan berbagai model properti untuk mendukung latar suasana sekaligus alut tarian klasik sesuai terjadinya peristiwa tertentu.

Pola Tari Klasik

Setiap tari tradisional terdiri atas penari yang melakukan tarian secara perorangan, berpasangan, atau berkelompok. Kegiatan menari lebih dari satu orang apalagi berkelompok dalam jumlah yang cukup besar membutuhkan kekompakan.

Posisi dalam menari perlu diperhatikan oleh seorang penari. Pengaturan posisi dalam menari ini disebut dengan pola lantai. Pola lantai yang banyak digunakan pada tari klasik adalah pola vertikal, horizontal, diagonal, melengkung.

Berikut penjelasan mengenai pola tarian yang digunakan pada tari klasik, simak selengkapnya!

Pola Lantai Vertikal

Penari membentuk garis vertikal, yaitu garis lusur dari depan ke belakang atau sebaliknya. Pola lantai vertikal memberikan kesan yang sederhana, tetapi kuat.

Pola Lantai Horisontal

Penari membentuk garis horisontal, yaitu garis lurus dari samping kanan ke samping kiri. Pola lantai horisontal memberikan kesan istirahat.

Pola Lantai  Diagonal

Pola lantai diagonal mengarahkan penari untuk membentuk garis menyudut ke kanan atau ke kiri menyerupai tanda silang. Pola lantai diagonal memberikan kesan dinamis dan kuat.

Pola Lantai Melengkung

Penari membentuk garis melengkung atau lingkaran. Tari rakyat dan tari tradisional banyak menggunakan pola ini karena dapat memberikan kesan lemah dan lembut.

Jadi pola lantai adalah pola denah yang dilakukan oleh seoarang penari dengan perpindahan, pergerakan, dan pergeseran posisi dalam sebuah ruang (space) untuk menari.

Tari klasik kebanyakan menggunakan pola lantai vertikal karena memberikan kesan sederhana namun kuat, cocok untuk dinikmati kalangan Bangsawan dan Petinggi Kerajaan. Tarian yang sudah mencapai keindahan dan nilai estetis tinggi di dalamnya adalah pengertian tari klasik.

Tari klasik adalah serangkaian seni yang dapat ditemui merangkum kekayaan Indonesia di bidang tari. Kegunaan yang melekat pada tari dilengkapi dengan makna yang terkandung di dalamnya. Pelestarian tari klasik ini menjadi suatu upaya yang harus terus diwariskan dari waktu ke waktu.

Editor: -
TAG :
Baca Juga
LIPUTAN KHUSUS