Nelangsa Pasien TBC RO dan Harapan akan Pengobatan BPaL/M

STPI saat menggelar diskusi publik Menjelang 6 Tahun Target Eliminasi TBC. (Foto: Dokumen STPI)

PARBOABOA, Jakarta - Pasien TBC dengan Resisten Obat (RO) yang selama ini berjibaku dengan penderitaannya, menemukan secuil harapan setelah ditemukan paduan pengobatan  bedaquiline, pretomanid, dan linezolid/moxifloxacin (BPaL/M).

BPaL/M adalah paduan pengobatan yang direkomendasikan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada Desember 2022 lalu untuk memutus mata rantai penyebaran penyakit menular tersebut.

Keunggulan BPaL/M terletak pada efektivitasnya yang mencapai 90 persen dengan durasi pengobatan yang lebih pendek, yakni enam (6) bulan.

Saat ini, metode pengobatan pasien TBC RO di Indonesia memang sangat panjang, berkisar 9-12 bulan atau 8-20 bulan dengan efektivitas hanya sebesar 60-80 persen. 

Salah satu penyintas sekaligus Manajer kasus Tuberklosis, Yulinda mengkonfirmasi BPaL/M sebagai pilihan pengobatan terbaru pasien TBC RO.

Dalam keterangan tertulis yang diterima Parboaboa, Selasa (2/4/2024), Yulinda menerangkan, "Sudah ada BPaL sebagai pilihan pengobatan terbaru TBC RO yang hanya 6 bulan saja."

Namun, ketersediaan yang masih terbatas menyulitkan para penderita untuk mengaksesnya. Karena itu, ia meminta agar stoknya diperbanyak dan sosialisasi di tengah masyarakat harus semakin gencar.

"Sehingga harapan kedepannya pengobatan BPaL/M ini bisa lebih meluas," ujar dia.

Diketahui, salah satu tantangan terberat yang dihadapi pasien TBC adalah adanya stigma negatif dari masyarakat. Karakter penyakit yang menular membuat penderita rentan dijauhi, bahkan didiskriminasi.

Ketua Yayasan Stop TB Partnership Indonesia (STPI), Nurul Luntungan mengakui beban ganda yang harus dipikul oleh para penderita.

Ia mengatakan, semakin lama mereka sembuh, semakin banyak beban yang harus dihadapi. Lantas, dengan paduan pengobatan BPaL/M, ia berharap sejumlah tantangan tersebut bisa segera dilewati.

"Seperti beban ekonomi termasuk stigma dan diskriminasi yang masih ada," Katanya.

Nurul berujar, dunia berkomitmen mengeliminasi TBC pada tahun 2030 nanti, persis 6 tahun dari sekarang. Komitmen itu terang dia, "menargetkan ada 45 juta orang dengan TBC yang terobati."

Sehingga di tahun 2028, harusnya sudah ada vaksinasi TBC yang lebih efektif terutama bagi orang dewasa.

"Jika ini terus berjalan dengan baik, mimpi kita untuk eliminasi TBC di tahun 2030 tidak hanya menjadi angan semata," tutupnya.     

Di Indonesia, STPI meyakini program ini berhasil  bila dilandasi dengan kemitraan yang kuat antara unsur pemerintah, swasta, dan masyarakat.

Mereka sendiri telah memprakarsai upaya advokasi lintas sektor untuk kebijakan TBC nasional, membangun model tata kelola penanganan TBC lintas sektor di kabupaten dan desa, serta mengkampanyekan isu TBC di media sosial dan media massa.

Penderita TBC di Indonesia

Di sisi lain, Pemerintah melalui Kementerian Kesehatan (Kemenkes) terus berupaya mengeliminasi kasus TBC di Indonesia.

Melansir laman resmi Kemenkes, Menteri Kesehatan RI, Budi Gunadi Sadikin mengatakan, pihaknya telah mendeteksi 700 ribu kasus pada 2022 dan 800 ribu kasus di tahun 2023.

Di tahun 2024, Indonesia kata dia, akan terus berkomitmen meningkatkan kasus yang dilaporkan menjadi 900 ribu hingga 1 juta sehingga tidak ada kasus yang ditutupi dan luput dari perhatian.

Ia mengatakan, pemerintah akan terus menyediakan pengobatan TB yang lebih singkat dengan "memperkuat kolaborasi dengan komunitas, serta melakukan inovasi pembiayaan untuk layanan TB."

Budi juga memastikan, akan mempercepat pengobatan TB dapat diakses oleh semua orang, salah satunya dengan meluncur serta mendukung paduan pengobatan BPaL dan BPaLM untuk pasien TBC RO.

Tak hanya itu, Indonesia terang budi mendukung operasional penelitian potensi regimen pengobatan yang lebih singkat untuk Tuberkulosis Sensitif Obat (TBC SO).

Ia menerangkan, jika TB RO memerlukan pendekatan pengobatan yang lebih kompleks TB SO dapat diobati dengan regimen standar. 

Namun, demikian ia menjelaskan, "durasi pengobatan TB SO saat ini masih sekitar 6-9 bulan."   

Editor: Gregorius Agung
TAG :
Baca Juga
LIPUTAN KHUSUS