Harga Emas Semakin Meningkat, IHSG Berada di Zona Merah

Ilustrasi bursa saham yang ditutup dengan melesatnya harga emas. (Foto: PARBOABOA/Fika)

PARBOABOA, Medan – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada akhirnya ditutup melemah 0.47% di level 7.130,84. IHSG tetap melemah, walaupun pada perdagangan hari ini asing membukukan transaksi beli bersih sekitar satu triliun di pasar saham.

Pengamat Ekonomi Sumatera Utara, Gunawan Benjamin, kepada PARBOABOA, Rabu (1704/2024), mengatakan kinerja IHSG sempat menguat di sesi perdagangan pertama. Namun hal ini tidak mampu dipertahankan.

Menurutnya, kinerja IHSG yang melemah juga dipicu karena memburuknya sejumlah kinerja bursa di Asia yang juga sempat menguat di sesi perdagangan awal.

Di samping itu, melemahnya mata uang Rupiah juga menjadi alasan utama menurunnya IHSG pada perdagangan hari ini. Rupiah sempat mengalami pelemahan hingga di atas 16.300. Walaupun mampu mengurangi kerugiannya dan ditutup melemah di level 16.240 per US Dollar.

Akan tetapi, pelemahan mata uang Rupiah pada perdagangan hari ini, dikatakan Gunawan Benjamin, tidak seperti sehari sebelumnya yang dinilai cukup tajam dan signifikan.

Sedangkan situasi di Timur Tengah yang belakangan semakin memanas mempengaruhi harga emas. Sejumlah kabar menyebutkan bahwa Israel akan tetap memberikan serangan balasan ke Iran. Walaupun belum diketahui kapan tepatnya serangan tersebut akan dilaksanakan.

Kabar ini menunjukkan bahwa kondisi pasar keuangan masih akan dibayangi kabar buruk dari memanasnya tensi geopolitik yang terjadi di kawasan Timur Tengah.

Harga emas kembali mengalami lonjakan tajam di sesi perdagangan sore hari ini. Harga emas ditransaksikan menguat di level 2.392 US Dollar per ons troy. “Melemahnya Rupiah dan kenaikan harga emas di pekan ini telah mendorong peningkatan emas dalam satuan Rupiah,” jelasnya.

Harga emas di Indonesia saat ini ditransaksikan di kisaran 1.250.000 rupiah per gramnya. Angka ini naik cukup tajam dibandingkan posisi sebelum libur panjang yang berada di bawah harga 1,2 juta per gramnya.

Sebelumnya, mayoritas bursa di Asia mengalami technical rebound pada perdagangan pagi ini. Gunawan Benjamin menambahkan, kinerja IHSG seharusnya bisa bergerak seirama. Setidaknya ada beberapa hal yang bisa membuat pasar akan mampu berada di zona hijau pada perdagangan di Asia hari ini.

Pertama, data pertumbuhan ekonomi China mengalami pemulihan setelah rilis data PDB Q1 tumbuh 5.3% secara year on year. Nilai ini melebihi ekspektasi sebelumnya yaitu sebesar lima persen.

Kedua, pelaku pasar masih belum mendapatkan konfirmasi yang kuat terkait kemungkinan rencana serangan lanjutan dari dua pihak yang bertikai yaitu Iran dan Israel. Artinya, bahwa tensi geopolitik di wilayah Timur Tengah saat ini bisa lebih dingin.

Ketiga, akibat tekanan jual yang signifikan pada perdagangan sebelumnya, membantu IHSG untuk berbalik menguat secara teknikal.

IHSG pada sesi perdagangan pagi tadi sempat mengalami penguatan di kisaran level 7.223. Sementara itu, kinerja mata uang Rupiah yang sempat menyentuh 16.200 US Dollar pada perdagangan sehari sebelumnya, di pagi tadi masih melanjutkan pelemahannya.

Pelemahan Rupiah yang mengalami tekanan dalam dua hari terakhir, diperkirakan karena dipicu oleh beberapa sentimen. Mulai dari USD Index yang pagi tadi bertahan di atas 106 (106.30), sebagai imbas hasil US Treasury 10 tahun yang berada di atas 4.6%.

Diperburuk lagi dengan terjadinya perang antara Iran dan Israel. Pelemahan Rupiah di sisi lain, bisa menjadi beban bagi kinerja IHSG di hari ini.

Gunawan Benjamin memperkirakan pelaku pasar masih pesimis bahwa The FED akan memangkas besaran bunga acuannya di tahun ini. Seiring dengan masih solidnya data ekonomi AS yang memungkinkan AS akan tetap tumbuh sehingga tidak membutuhkan pemangkasan bunga acuan.

Editor: Fika
TAG :
Baca Juga
LIPUTAN KHUSUS