Sejarah Weltevreden, Peradaban Kota Moderen

Gedung kementerian Keuangan RI dahulunya merupakan kantor pusat pemerintahan VOC atas perintah Herman Willem Deandels merupakan awal terbentuknya kota moderen abad 16 bentukan Kolonial Belanda. (PARBOABOA/Pras)

PARBOABOA, Jakarta- Siapa yang tidak mengenal gedung Kementerian Keuangan RI. Namun tidak semua mengetahui sejarah gedung tersebut.

Dulunya, gedung itu merupakan pusat pemerintahan kota baru yang dibangun Gubernur Jenderal VOC ke-36 Herman Willem Deandels, dikenal Waltevreden.

Dari sisi utara menuju ke selatan Batavia lokasi sekarang menjadi Lapangan Banteng dan Monumen Nasional (Monas), Herman Wiliams Dendles membangun pemukiman kaum elit eropa (weltevreden).  

Sebuah kota moderen menggantikan kota lama di kawasan pelabuhan Sunda Kelapa.

Penulis sekaligus pengamat sejarah, Dadi Pujiadi mencatat Deandles memindahkan kawasan komplek pemerintahan dari utara Jakarta ke bagian selatan,  karena kondisi pemukiman yang sudah bercampur dengan inlender (pribumi). 

Serta meluasnya wabah penyakit malaria di Sunda Kelapa.

"Penyebutan nama Weltevreden berasal dari bahasa Belanda yang memiliki arti “Pemukiman yang Nyaman”. Dari arti nama tersebut banyak tafsiran yang mengatakan Weltevreden adalah tempat pemukiman elit Eropa di Batavia," ungkap Dadi saat ditemui di kawasan Jakarta Timur, Sabtu (04/02/2023).

Pemerintah Hindia Belanda seperti sengaja mengkotak-kotakan batas wilayah untuk memisahkan orang kulit putih Eropa dengan pribumi. 

Mereka membuat kompleks pemukiman yang terhubung dengan pusat pemerintahan.

"Orang-orang Eropa lebih merasa terlindungi dari bahaya kejahatan dan lingkungan orang pribumi, bila mereka tinggal di pusat pemerintahan kolonial. Maka dari itu wilayah Weltevreden di Batavia inipun dibangun," ungkap Dadi.

Selain membangun perumahan minimalis pada abad 16 di Weltevreden,  dahulu ada pula perkebunan kopi milik seorang pejabat kolonial bernama Cornelis Chastelein. 

Saat itu ia merupakan orang pertama yang membuka budidaya kopi pertama (1693) di jantung Ibukota Batavia.

Weltevreden jaman Daendels juga menjadi lebih luas setelah hadirnya Stasiun Kereta Api Gambir dan wilayah Theatre Schouwburg Weltevreden (Gedung Kesenian Jakarta sekarang,red) sebagai bagian dari wilayahnya.

"Chastelein terkenal sebagai petani kopi yang disiplin. Demi menghasilkan kualitas kopi terbaik dari kebunnya langsung, ia sampai rela memperkerjakan para perani kopi dari Bali, Aceh, dan Sumatra," tutur Dadi.

"Awal mula terbentuk nya PT KAI yang sebelumnya bernama Nederlandsch Indische Spoorweg Maatschappij (NISM) mereka membangun jalur kereta baru seperti stasiun kota, Gambir, pasar Senen dan Jati Negara," pungkas Dadi.

Herman Willem Deandels memutuskan Induk Kota (Ibukota) Batavia di Weltevreden pada tahun 1937 dengan titik nolnya ada di daerah Koningsplein (lapangan Monas sekarang,red).

Editor: Betty Herlina
TAG :
Baca Juga
LIPUTAN KHUSUS