Siap Angkat Senjata, Warga Rusia di Ukraina Berencana Gulingkan Putin

Warga Rusia yang ada di wilayah Ukraina siap angkat senjata untuk menggulingkan Presiden Vladimir Putin (Foto: Detik)

PARBOABOA, Jakarta –Eks anggota parlemen Rusia, Ilya Ponomarev mengungkapkan bahwa sukarelawan Rusia yang saat ini berada di Ukraina siap angkat senjata untuk menggulingkan Presiden Vladimir Putin.

Ponomarev menyebutkan bahwa mereka siap berjuang untuk revolusi baru Rusia. Ia menilai, revolusi tersebut bisa pecah lantaran warga gerah dengan tindakan Putin menginvasi Ukraina.

Ponomarev menganggap invasi ke Ukraina itu bisa memicu protes keras dari warga. Ia mengklaim bahwa warga Rusia yang berada di Ukraina bisa memimpin protes menggunakan kekuatan perlawanan bersenjata.

"Kami bersiap untuk ini, dan kami mempersiapkan elemen militer dengan warga Rusia saat ini di Ukraina, yang kini bertarung dengan militer Ukraina di garis depan. Mereka siap pergi ke Rusia saat momen penentu berlangsung," kata Ponomarev.

Ponomarev menuturkan bahwa saat ini ada sekitar 4.000 warga negara Rusia yang ikut bertarung membantu pasukan Ukraina.

"Saya tak hanya menjaga komunikasi dengan mereka. Saya juga secara aktif mengintegrasi [mereka]," ujarnya, seperti dilansir dari Newsweek.

Saat ini, Ponomarev memang sedang dalam pelarian di Kyiv. Ia lari dari Rusia lantaran kerap menyuarakan kritik terhadap Putin selama menjadi pejabat di Rusia.

Seperti dikutip dari Newsweek, Ponomarev merupakan penulis buku berjudul ‘Does Putin Have to Die?: The Story of How Russia Becomes a Democracy after Losing to Ukraine.’

Untuk diketahui, Ponomarev menjadi sorotan pada awal tahun ini usai mengumumkan keberadaan kelompok gerilya anti-Kremlin Militer Republik Nasional (NRA).

NRA mengklaim bertanggung jawab atas bom mobil yang membunuh Darya Dugina yang merupakan anak sekutu Putin, Aleksandr Dugin.

Menurut Ponomarev, NRA bukanlah satu-satunya kelompok gerilya yang beroperasi di Rusia.

"Setiap hari ada beberapa serangan terjadi di Rusia, pembakaran di sejumlah pos militer, aksi sabotase rel kereta api, gelombang baru yang dimulai dari NRA merupakan rangkaian dari serangan peretas untuk porsi paling kritis dari data pemerintah," kata Ponomarev.

Sejumlah kelompok militer lain yang bekerja sama dengan NRA, yakni Black Ridge dan Organisasi Militan Anarko-Komunis.

Ponomarev kemudian mengungkapkan bahwa Rusia memang masih jauh dari revolusi besar. Akan tetapi, peluang revolusi tersebut masih ada.

"Saya pikir itu [revolusi] akan berlangsung pada tahun depan," katanya.

"Dia [Putin] sangat meradikalkan komunitas, dan maka dari itu saya memprediksi pada Maret bahwa ulang tahunnya [Putin] pada 7 Oktober, ulang tahun itu akan menjadi yang terakhir," tambahnya.

Di samping itu, ia menegaskan bahwa masyarakat perlu membangun kembali Rusia usai revolusi bergulir.

"Kami perlu benar-benar membangun ulang Rusia, membangunnya dari awal lagi," ujar Ponomarev.

Editor: -
TAG :
Baca Juga
LIPUTAN KHUSUS