Warga Sri Lanka Dua Hari Tidur di Mobil demi Antre Beli BBM

Antrean warga Sri Lanka mengular sepanjang dua Km demi mendapatkan BBM. BBC

PARBOABOA, Kolombo - Penduduk Sri Lanka terpaksa mengantre selama berhari-hari di stasiun pengisian bahan bakar (SPBU) demi mendapatkan BBM di tengah krisis ekonomi yang sedang melanda. 

Dilansir BBC, Sabtu (2/7/2022), kiriman BBM dari luar negeri terhenti dan pasokan bensin dari beberapa daerah yang masih memiliki cadangan telah dikirim ke ibu kota Kolombo. Namun persediaannya semakin menipis. 

Seorang warga bernama Ajeewan Sadasivam sudah cukup lama terjebak dalam antrean ini. "Saya sudah mengantre selama dua hari," katanya, sambil menunggu dengan sabar di luar sebuah SPBU di Kolombo.

"Saya sudah tidur di mobil ini. Kadang-kadang saya pergi dan mengambil makanan, lalu saya kembali dan menunggu. Saya belum mandi berhari-hari," lanjut pria yang berprofesi sebagai supir taksi itu. 

Baginya, bahan bakar adalah segalanya. Karena tanpa BBM ia tak mampu lagi mencari nafkah. Sementara Sri Lanka tak kunjung menerima pasokan bahan bakar. 

Dia mengaku tak punya pilihan selain menunggu. "Saya harus menjaga keluarga saya, istri dan dua anak saya. Hanya jika ada bahan bakar saya bisa mulai menjalankan taksi saya dan mencari nafkah."

Sadasivam tidak sendirian, antrean warga yang berusaha membeli BBM terlihat mengular sepanjang 2 kilometer di jalan utama. 

Di SPBU itu terlihat empat antrean paralel yang masing-masing jalur dikhususkan untuk mobil, bus dan truk, sepeda motor, serta tuk-tuk (bajaj). 

Masalah tidak berhenti sampai di sini. Siapapun yang hendak membeli BBM harus mendapatkan nomor antrean terlebih dahulu. 

Dari keterangan warga yang mengantre, sebagian besar pihak SPBU hanya mengeluarkan sekitar 150 nomor antrean. 

Warga lainnya yang bernama Jayantha Athukorala mengaku tiba di Kolombo dari desa demi mendapatkan BBM. 

Ia bahkan rela menghabiskan 12 liter bensin untuk datang ke ibu kota demi mendapatkan kesempatan yang lebih besar untuk mendapatkan bahan bakar. 

Berbeda dengan Sadasivam, Athukorala tidak memiliki nomor antrean. Ia menduga berada di urutan ke-300.

"Saya tidak yakin saya bakal dapat nomor antrean hari ini," ujarnya lirih. "Kami tidak bisa hidup tanpa gas atau bensin. Kami berada dalam masalah besar."

Athukorala bekerja sebagai penjual mobil, dia sekarang terpaksa tidur di mobilnya sendiri sambil menunggu.

Tidak semua SPBU melayani kebutuhan masyarakat. Beberapa hanya memasok ke layanan penting seperti, layanan kesehatan, distribusi makanan serta transportasi umum. 

Menurut Athukorala, pihak SPBU juga menjatah pembelian BBM maksimal 10.000 Rupee Sri Lanka (sekitar Rp416 ribu), jumlah yang hanya bisa memenuhi setengah tangki. 

Di tengah meningkatnya tekanan publik terhadap pemerintah agar mendapatkan pasokan BBM, Sri Lanka telah menghubungi Rusia untuk meminta bantuan. 

Delegasi negara di Asia Selatan itu dijadwalkan tiba di Moskow akhir pekan ini guna membahas pembelian minyak murah. 

Presiden Sri Lanka Gotabaya Rajapaksa telah menulis surat kepada Presiden Rusia Vladimir Putin guna membahas masalah tersebut.

Editor: -
TAG :
Baca Juga
LIPUTAN KHUSUS