BKKBN Sebut Gizi yang Belum Rata Jadi Penyebab Tingginya Angka Stunting

BKKBN menyatakan tingginya angka stunting yang kini menjadi 21,6 persen merupakan bukti nyata pemenuhan gizi anak yang belum merata di Indonesia. (Foto: Freepik)

PARBOABOA, Jakarta - Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) menyatakan tingginya angka stunting yang kini menjadi 21,6 persen merupakan bukti nyata pemenuhan gizi anak yang belum merata.

“Memang kalau kita lihat Survey Status Gizi Indonesia (SSGI) maupun Survei Status Gizi Balita Indonesia (SSGBI), tampak bahwa gizi tidak merata,” kata Kepala BKKBN Hasto Wardoyo di Jakarta, Rabu (25/1/2023).

Tidak meratanya angka stunting tersebut, kata dia, disebabkan karena edukasi gizi yang masih rendah. Di beberapa daerah, terdapat keluarga yang memberikan air gula seperti teh bagi balita dibandingkan memberikan ASI eksklusif sampai anak berusia 6 bulan.

“Minuman seperti es teh itu anak-anak tidak mengerti bahwa teh mengganggu penyerapan protein dan vitamin. Saya kira banyak pola makan yang sangat penting untuk diubah pola pikirnya oleh keluarga kita,” katanya.

Selain itu, pernikahan dini juga menjadi pemicu terjadinya stunting. Menurut Hasto, kondisi tubuh perempuan yang hamil namun belum genap berusia 20 tahun, akan berakibat pada jumlah asupan nutrisi untuk bayi di dalam kandungan.

"Perempuan yang usianya belum 20 tahun badannya masih tambah panjang, tulangnya tambah keras. Tetapi begitu dia mengandung anak di dalamnya, ada bayi di dalamnya maka kalsiumnya diambil untuk bayinya. Tulang yang harusnya tambah panjang, enggak tambah panjang. Ibunya cenderung pendek. Kemudian kurang yang tambah keras atau padat, tidak padat sehingga cenderung keropos," tegas Hasto.

"Jangan kaget kalau hamil terlalu muda besok setelah umur 50 tahun menopause, anda cepat keropos tulangnya. Hal ini penting," tambahnya.

Lebih lanjut, Hasto menuturkan, panggul perempuan saat melahirkan harus berdiameter 10 centimeter. Sedangkan, jika anak perempuan baru berusia 15 tahun sudah hamil, diameter panggulnya belum berdiameter 10 centimeter.

"Padahal bayi diciptakan kepala oleh Tuhan diameternya 9,9 hingga 9,8 centimeter. Jadi begitu dia 15, 16 tahun (sudah) hamil. Wah bahaya sekali. Kalau di kota cepat disesar, dioperasi, tapi kalau di pedalaman yang jauh kan," ungkap Hasto.

"Maka angka kematian ibu kita masih tinggi, angka kematian bayi masih tinggi itu kontribusinya dari kawin usia muda cukup signifikan," imbuhnya.

Editor: -
TAG :
Baca Juga
LIPUTAN KHUSUS