Dampak Konsumtif pada Generasi Z: Tantangan dan Kerugian di Era Modern

Ilustrasi Perilaku Konsumtif Generasi Z (Foto: PARBOABOA/Beby Nitani)

PARBOABOA, Jakarta - Di zaman yang serba modern dan teknologi yang maju saat ini, manusia sangat mudah memenuhi keinginan dan kebutuhannya. Mulai dari generasi sebelumnya hingga generasi Z, semuanya kini turut menikmati kemudahan yang ditawarkan.

Namun, di balik kemudahan yang ditawarkan, terdapat dampak negatif yang muncul, yaitu perilaku konsumtif.

Berdasarkan apa yang dijelaskan oleh Setiaji dalam bukunya Konsumerisme (1995) dan merujuk situs resmi Kementerian Keuangan, konsumtif diinterpretasikan sebagai kebiasaan seseorang untuk berbelanja secara berlebihan atau impulsif.

Hal ini berujung pada pengeluaran uang yang tidak bijaksana dan tanpa pertimbangan.

Berdasarkan data sensus dari Badan Pusat Statistik (BPS), Generasi Z adalah kelompok demografis terbesar di Indonesia, yang menyumbang 27,94% dari keseluruhan populasi. Kelompok ini dikenal memiliki kecerdasan digital dengan daya beli yang cukup signifikan.

Menurut informasi dari situs resmi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), perilaku konsumtif telah berkontribusi pada peningkatan penggunaan layanan pinjaman online ilegal.

Banyak orang menggunakan fasilitas pinjaman ini untuk memenuhi keinginan konsumtif, seperti pembelian tiket konser, gadget, staycation, dan lainnya, tanpa memikirkan kapasitas untuk mengembalikan dananya.

Pinjaman online ilegal ditandai dengan beberapa karakteristik, termasuk ketiadaan lisensi resmi, proses pemberian pinjaman yang cepat dan mudah.

Serta kemampuan untuk mengakses semua data pada telepon seluler pengguna, dan dikenakannya bunga atau tarif pinjaman yang sangat tinggi.

Hasilnya, banyak di antara mereka yang terbelit utang signifikan, mencapai jumlah yang besar, karena gagal dalam memenuhi kewajiban pembayarannya.

Pemicu Gaya Hidup Konsumtif

Dilansir dari situs BPJS Ketenagakerjaan, beberapa pemicu gaya hidup konsumtif ialah, FOMO (Fear of Missing Out), merupakan sebuah kecenderungan untuk selalu ingin berada di garis depan tren yang beredar.

Individu dengan pola pikir FOMO ini cenderung akan melakukan segala cara, termasuk menghabiskan banyak uang, demi mendapatkan produk atau pengalaman yang sedang populer.

Hedonisme, kebiasaan hidup yang mengutamakan kemewahan dan kepuasan segera, seringkali dengan cara membeli barang-barang mewah tanpa mempertimbangkan konsekuensinya.

Para penganut gaya hidup ini tidak segan-segan untuk mengeluarkan biaya besar demi memuaskan keinginan sesaat mereka.

Selain itu, gengsi yang tinggi juga mendorong seseorang untuk selalu ingin dilihat lebih unggul di mata sosial, sehingga terdorong untuk selalu memperbaharui milikinya dengan barang-barang yang terbaru dan termahal.

Hal ini merupakan bagian dari gaya hidup konsumtif, di mana kepuasan diperoleh melalui akuisisi barang-barang status agar menonjol di antara yang lain.

Kerugian dalam Perilaku Konsumtif

Kerugian yang dialami kepada generasi Z untuk pelaku konsumtif, seperti dilansir dari situs Kementerian Keuangan yaitu,

  • Membludaknya pengeluaran uang untuk barang-barang yang tidak diperlukan
  • Keinginan untuk belanja sulit terkontrol
  • Munculnya sifat boros dan hedonisme yang sulit terkontrol
  • Perasaan iri terhadap barang dan gaya hidup orang lain, mendorong keinginan untuk mengikuti dan membeli hal serupa.
  • Kesempatan menabung berkurang
  • Kegagalan dalam merencanakan dan mempersiapkan kebutuhan finansial untuk masa depan.
  • Tidak adanya dana cadangan untuk kondisi darurat.
  • Kesulitan dalam membedakan mana yang merupakan kebutuhan sejati dan mana yang hanya keinginan.

 

Editor: Beby Nitani
TAG :
Baca Juga
LIPUTAN KHUSUS