Diabetes Anak di Indonesia Makin Tinggi, Kenali Pencegahan dan Gejalanya

Ilustrasi diabetes pada anak yang timbul karena konsumsi makanan siap saji dan glukoasi yang tinggi. (FOTO: PARBOABOA/Fika)

Penyakit diabetes anak semakin tahun semakin meningkat. Bahkan, dari laman Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menyatakan bahwa penyakit diabetes anak pada tahun 2023 meningkat 70 kali lipat dibanding tahun 2010. Dimana saat ini ada sekitar 1.645 anak Indonesia mengidap diabetes.

Dari laman Ikatan Dokter Anak Indonesia, Senin (18/03/2024) mencatatkan diabetes anak saat ini berasal dari 15 kota di Indonesia yaitu Jakarta, Surabaya, Palembang sampai Medan. Dari banyaknya pasien diabetes anak, utamanya berasal dari Jakarta dan Surabaya.

Data IDAI juga menemukan bahwa diabetes anak lebih banyak menyerang pada anak perempuan dibanding laki-laki. Totalnya sebanyak 59 persen lebih.

Ketua Unit Kerja Koordinasi Endokrinologi IDAI, Muhammad Faizi menyebutkan dari segi usia pasien diabetes anak umumnya berada di usia 10 sampai 14 tahun. Pada usia ini, sekitar 46 persen total pasien yang mengidap diabetes anak dari total laporan.

“Untuk anak usia 5 sampai 9 tahun ditemukan sebanyak 31,5 persen dari total kasus,” ucapnya.

Sementara untuk balita mulai dari 0 sampai 4 tahun juga ada yang terkena diabetes yaitu sekitar 19 persen

Pemerintah seharusnya mengambil peranan dalam mengeluarkan kebijakan terkait semakin meluasnya penyebaran diabetes pada anak.

Misalnya, membatasi iklan junk food dalam rangka menekan diabetes pada anak. Melakukan penyuluhan melalui puskesmas atau badan kesehatan lainnya agar para orang tua mengenal dan mengetahui pola makan yang baik untuk anak.

Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Piprim Basarah Yanuarso meminta pemerintah membatasi penyebaran iklan junk food. Pasalnya, kandungan karbohidrat pada produk susu, minuman manis, kue serta biskuit dianggap perlu dituliskan dalam kemasan.

Dijelaskan Piprim, diabetes yang terjadi pada anak kebanyakan adalah diabetes melitus 1 dan 2. Pemerintah dapat meningkatkan penyediaan insulin dan alat pemeriksaan. Hal ini agar masyarakat bisa lebih cepat mengetahui diabetes pada anak.

Mudahnya akses anak-anak mendapatkan gula misalnya di sekolah sampai di rumah. Makanan dan minuman manis baik yang kemasan maupun yang ditawarkan di pasaran memiliki kandungan gula yang tersembunyi dimana-mana.

Minuman manis boba baik yang murah maupun mahal juga kaya akan kandungan gula. Sama hal nya dengan es krim yang saat ini menjamur dan mudah diakses di berbagai daerah.

Sementara itu, jenis makanan lain yang harus diperhatikan adalah yang memiliki kadar lemak yang tinggi. Orang tua biasanya menyajikan untuk anak-anak dengan alasan praktis.

Dikutip dari studi nutrisi National Center for Biotechnology Information (NCBI) menuliskan bahwa satu gelas minuman manis yang beredar di pasaran dengan ukuran 16 ons, mengandung gula tambahan yang cukup tinggi.

Bahkan, kandungan gula tambahan pada minuman itu melebihi batas atas dari apa yang sudah direkomendasikan oleh Komite Penasihat Pedoman Diet Amerika Serikat pada tahun 2015.

Selain itu, kandungan gula pada susu kental manis juga dapat menyebabkan diabetes. 45 gram susu kental manis yang diencerkan hingga 150 cc untuk satu kali minum mengandung sekitar 20 gram gula.

World Health Organization (WHO) menegaskan konsumsi gula pada orang dewasa saja tidak boleh lebih dari 25 gram setiap harinya.

Susu kental manis dalam berbagai bentuk apapun seperti topping, pelengkap atau campuran pada makanan dan minuman tetap bisa membahayakan tubuh. Walaupun sampai saat ini tidak diketahui dengan pasti apa fungsi dari susu kental manis.

Selain makanan dan minuman, gaya hidup minim pergerakan tubuh juga mempengaruhi diabetes anak. Misalnya anak-anak yang terlalu banyak bermain gawai yang akhirnya kurang bergerak cenderung mempercepat terjadinya penyakit generatif seperti penuaan dini.

Orang tua bisa melakukan pemeriksaan diabetes pada anak dengan datang ke rumah sakit. Akan tetapi ada beberapa gejala penyakit diabetes yang perlu dipahami.

  • Cepat merasa haus

Jika merasa cepat haus padahal tidak ada aktivitas fisik yang berarti, diperkirakan ini sebagai gejala awal diabetes. Gejala ini muncul karena tubuh menyerap kembali glukosa saat melewati ginjal.

Ketika kadar gula darah akan naik membuat ginjal tidak dapat menyerap glukosa. Sehingga dibutuhkan banyak cairan untuk melakukannya. Akibatnya, tubuh akan memberi sinyal membutuhkan cairan dengan rasa harus.

  •  Sering buang air kecil

Penderita diabetes biasanya sering buang air kecil di malam hari. Orang normal rata-rata buang air kecil sekitar 4 sampai 7 kali sehari. Penderita diabetes lebih sering dari frekuensi tersebut.

  •  Mudah merasa lapar

Bagi penderita diabetes, kadar insulin akan menurun dan membuat sel sulit mengambil glukosa. Hal ini akan membuat penderitanya merasa tidak punya energi dan cepat merasa lapar.

  • Berat badan turun

Walau sering merasa lapar, penderita diabetes umumnya mudah mengalami penurunan berat badan. Bahkan, penderita diabetes bisa menurunkan berat badan tanpa usaha apapun.

  • Penglihatan kabur

Penglihatan yang kabur merupakan gejala awal diabetes. Bentuk mata akan berubah dan tidak bisa fokus sehingga penglihatan kabur.

  • Mudah kesemutan dan mati rasa

Penderita diabetes memiliki kadar gula darah yang tinggi. Hal ini mempengaruhi sirkulasi darah dan merusak saraf sehingga sering merasakan kesemutan dan mati rasa seperti di telapak tangan dan kaki.

  • Mudah merasa lelah

Penderita diabetes akan sangat mudah merasa lelah dari orang biasa. Ini terjadi karena kadar insulin rendah membuat sel tidak bisa mendapatkan energi.

  • Kulit sangat kering

Penderita diabetes biasanya mengalami kulit yang sangat kering. Hal ini dikarenakan tubuh menggunakan cairan untuk membuang air dan mengurangi kebutuhan cairan yang berfungsi untuk menjaga kelembapan.

  • Luka sulit sembuh

Penderita diabetes biasanya membutuhkan waktu yang lebih lama untuk menyembuhkan luka. Bahkan, bekas luka juga membutuhkan waktu lama untuk hilang.

  • Mudah terkena infeksi

Penderita diabetes juga mudah terkena infeksi, mulai dari kulit, gusi bahkan sampai vagina. Ketika terjadi infeksi, proses penyembuhannya pun akan memakan waktu lama.

  • Gatal-gatal

Penderita diabetes umumnya mengalami gatal-gatal di beberapa bagian tubuh. Pasalnya, kelebihan gula dalam tubuh sama dengan memberi ‘makanan’ pada jamur. Hal ini bisa menyebabkan infeksi dan menimbulkan gatal-gatal.

Sejumlah negara seperti Singapura misalnya, sudah menyatakan “perang” dengan penyakit diabetes. Bahkan, sejak Oktober 2019, Singapura telah mengeluarkan larangan iklan minuman manis dalam kemasan serta mencantumkan label tidak sehat pada kemasan.

Spanyol juga melarang iklan minuman manis, es krim dan coklat dalam rangka memerangi obesitas dan diabetes pada anak sejak tahun 2021.

Mungkin saatnya pemerintah Indonesia mengikuti jejak negara yang menjaga warganya dari diabetes dengan cara mengeluarkan kebijakan yang seharusnya.

Editor: Fika
TAG :
Baca Juga
LIPUTAN KHUSUS