Hitam Putih Sikap Politik Nasdem dan Kecenderungan Mengamankan Kekuasaan

Surya Paloh menerima kunjungan dari calon presiden terpilih Prabowo (Foto: Instagram/@official_nasdem)

PARBOABOA, Jakarta – Perolehan hasil pemilihan Capres-Cawapres 2024 resmi diumumkan pada Rabu (20/03/2024) malam.

Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU), Hasyim Asy’ari, menetapkan paslon Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka sebagai presiden dan wakil presiden terpilih.

Data KPU menyebutkan bahwa paslon Prabowo-Gibran berhasil meraup 96.214.691 suara atau sebanyak 58,6 persen dari total 164.227.475 suara sah nasional.

Perolehan suara ini mengungguli total suara dari dua paslon lain, yakni Anies-Muhamin yang hanya memperoleh 40.971.906 suara dan Ganjar-Mahfud dengan perolehan 27.040.878 suara.

Kemenangan paslon Prabowo-Gibran disambut meriah oleh seluruh pendukung. Tak terkecuali partai koalisi, sambutan juga datang dari partai yang semula berkedudukan sebagai oposisi.

Malam hari sesudah pengumuman kemenangan paslon Prabowo-Gibran, Ketua Umum (Ketum) partai NasDem, Surya Paloh menyampaikan sikap terbuka untuk menerima keputusan KPU.

Mantan Ketua Dewan Penasihat Golkar ini menyatakan menerima hasil Pemilu 2024 yang dilaksanakan 14 Februari, baik pemilu legislatif maupun pemilihan presiden dan wakil presiden.

Ia juga turut mengucapkan selamat kepada pasangan Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka yang berhasil keluar sebagai pemenang Pilpres 2024.

Pernyataan Mantan Ketua Dewan Penasihat Golkar ini mendapat tanggapan dari sejumlah pihak.

Ada yang menganggapnya sebagai ksatria karena terbuka hati untuk mengakui kemenangan Prabowo-Gibran yang bukan merupakan paslon dukungan NasDem.

Pengamat Politik Ujang Komarudin, misalnya menyebut Paloh sebagai sosok yang dewasa dalam berpolitik. Paloh dinilai legowo dalam menerima perolehan hasil Pemilu yang telah berlangsung.

“Dalam konteks itu, saya justru melihat adanya kedewasaan sikap berpoilitik yang ditunjukan Paloh. Kontestasi itu ada kalah dan menang,” pungkas Komarudin kepada PARBOABOA, Sabtu (23/03/2024).

Ia mengatakan, paslon yang menang harus merangkul yang kalah. Sebaliknya, paslon yang kalah harus menghormati yang menang

Bagi Komarudin, sikap politik yang ditunjukkan oleh Surya Paloh seharusnya menjadi contoh bagi oposisi lain untuk membuka hati dan membangun dukungan untuk paslon pemenang. Perdamaian diperlukan agar cita-cita hidup berbangsa mampu terwujud.

“Sikap ini seharusnya ditiru juga oleh politisi-politisi lain untuk bersinergi membangun kedaulatan politik,” tambah Komarudin.

Sementara itu, Prof. Massa Djafar, Pengamat Politik dari Universitas Nasional (UNAS) Jakarta, menyebut bahwa sikap Paloh tidak sejalan dengan visi paslon Anies-Muhaimin.

Ketua Program Studi Doktoral Ilmu Politik UNAS itu menjelaskan tanggapan Paloh secara tidak langsung menodai semangat perjuangan Anies-Muhaimin yang menghendaki tegaknya norma dan konstitusi.

Namun, ia memaklumi bahwa realitas politik selalu berwajah ganda. Salah satu alasan mendasar karena setiap partai politik tidak bisa menjadi kekuatan yang sungguh-sungguh otonom.

“Semua partai politik bukan kekuatan yang mandiri, tetapi bergantung pada negara. Hal ini punya pertautan dengan kepentingan ekonomi dan bisnis,” pungkas Djafar, Sabtu (23/03/2024).

Djafar menuturkan sikap politik Paloh justru berkait kelidan dengan kepentingan politis. Paloh, bagi Djafar mewakili partai NasDem yang tidak mau kehilangan kekuasaan.

Dukungan untuk Prabowo-Gibran menunjukkan inkonsistensi sikap terhadap paslon Anis-Muhaimin.

Hal senada diungkapkan oleh Sarnus Joni Harto, akademisi filsafat politik dari IFTK Ledalero, Minggu (24/03/2024).

Bagi Sarnus, sikap politik Surya Paloh mempunyai akar persoalan pada basis ideologis yang dimiliki NasDem selaku partai pendukung Anies-Muhaimin.

“Sikap Paloh sesungguhnya menunjukkan ketiadaan basis ideologis dari partai NasDem. Mereka lebih berorientasi pada kepentingan pragamtis-oportunis dan bergantung pada kekuasaan,” ungkap Sarnus.

Ketiadaan basis ideologis dari NasDem berpengaruh pada hilangnya komitmen untuk menjadi oposisi.

Alih-alih menjadi koalisi pendukung Anies-Muhaimin, NasDem justru lebih cenderung berbalik ke Prabowo-Gibran.

“Sikap semacam itu bertujuan untuk mengamankan posisi. Sebagai koalisi kecil, NasDem tentu tidak mau kehilangan posisi di parlemen. Hal itu terlihat dari sikap Paloh yang mulai berpihak ke paslon Prabowo-Gibran,” tutup Sarnus.

Editor: Defri
TAG :
Baca Juga
LIPUTAN KHUSUS