Imbas Cuaca Panas, Impor Batubara China dari Indonesia Melonjak Hingga 35 Persen

Truck membawa batu bara (Foto: Antara)

PARBOABOA Jakarta – Akibat cuaca panas melanda Negeri Tirai Bambu belakangan ini, kebutuhan listrik di China meningkat. Hal ini kemudian membuat pembelian batubara China meningkat. Salah satu negara yang menjadi incaran China untuk membeli batu bara tentunya adalah Indonesia.

Pada bulan Agustus, China telah mengimpor baru bara sebanyak 17,3 juta ton, atau meningkat 35 persen dari bulan sebelumnya. Akan tetapi, angka itu masih jauh lebih rendah dibandingkan impor batu bara oleh China pada Agustus 2021 yang mencapai 17,3 juta ton.

Padahal negara tersebut memiliki cadangan emas hitam terbesar di dunia, bahkan melebihi RI. Negeri Tirai Bambu memiliki cadangan batu bara sebesar 149,8 miliar ton atau sekitar 13 persen dari total cadangan dunia. Hal ini menjadikan China sebagai produsen sekaligus konsumen batu bara terbesar di dunia.

Mengutip dari CNA, Selasa (20/9/2022), peningkatan pembelian batu bara ke Indonesia terjadi karena harga yang ditawarkan sangat terjangkau dan menguntungkan China jika mengimpor batu bara ke negara lain. Dan karena hal itulah mendorong perusahaan China untuk memesan lebih banyak batu bara dari Indonesia.

Utilitas listrik diperkirakan akan meningkatkan impor pada bulan Oktober, untuk mengisi kembali stok menjelang dimulainya musim panas di sebagian besar China Utara pada pertengahan November. Selain membeli batu bara di Indonesia, China juga mengimpor batu bara ke Rusia.

Data dari Administrasi Umum Kepabeanan mencatat impor batu bara Rusia bulan lalu mencapai 8,54 juta ton, naik dari sebelumnya 7,42 juta ton pada Juli dan 57 persen lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Direktur Eksekutif Asosiasi Pertambangan Batu Bara Indonesia (APBI) Hendra Sinadia mengatakan kualitas batu bara RI  memiliki kalori lebih rendah dan mengandung sulfur menjadi alasan mengapa China impor dari Indonesia. Batu bara Indonesia, kata dia, dicampurkan dengan batu bara produksi China untuk pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) di sana.

"Batu bara China kebanyakan kalorinya tinggi, jadi mereka kadang blending. Karena kualitas batu abra kita selain kalori rendah juga ada sulfurnya, kadar sulfurnya yang serasi dengan teknologi blending mereka di sana," kata Hendra kepada CNNIndonesia.com, Sabtu (6/8/2022).

Selain kualitas batu bara dari Indonesia lebih baik, harga impor dari Indonesia juga cenderung lebih murah.

"Untuk mengangkut itu butuh biaya logistik yang tidak murah, jadi lebih murah angkut batu bara Indonesia ke sana," kata Hendra.

Editor: -
TAG :
Baca Juga
LIPUTAN KHUSUS