Imbas Luka Hati Bagi Kesehatan Fisik

Dampak negatif yang disebabkan oleh luka hati

PARBOABOA - Luka hati bukanlah suatu penyakit pada organ hati, melainkan persoalan psikis. Luka ini tidak berwujud, namun bisa berdampak secara langsung bagi kesehatan tubuh.

Luka hati adalah metafora yang umum digunakan untuk menggambarkan sebuah sakit emosional atau penderitaan mendalam yang dirasakan seseorang.

Luka hati, sakit hati, patah hati, ketiganya sama dan merupakan wujud ekspresi diri terhadap suatu permasalahan, kekecewaan, keterpurukan ataupun kezaliman yang sedang dialami seseorang.

Perasaan yang menyakitkan ini dapat timbul saat seseorang kehilangan orang yang disayangi, kehilangan anggota keluarga untuk selamanya, cinta yang tak terbalas, dihina, dikhianati, perceraian, dan masalah kehidupan lainnya.

Masalah psikis ini juga menggangu fisik, seperti menyebabkan rasa nyeri, pegal, mual, muntah dan sebagainya akibat sugesti negatif yang diterima otak.

Mengapa itu sangat menyakitkan?

Kita semua pasti sering mendengar ungkapan-ungkapan yang menggambarkan patah hati seperti “hatiku tercabik-cabik”, “itu adalah tamparan yang sangat keras”, “hatiku seperti disayat”.

Seakan-akan rasa sakit itu seperti benar terjadi sesuai dengan diksinya.

Beberapa orang menggambarkannya sebagai rasa sakit yang tumpul, seperti ditusuk, sementara yang lainnya merasakan sensasi yang benar-benar menghancurkan.

Rasa sakit itu bisa berlangsung selama beberapa detik dan mereda, namun dapat menjadi kronis jika kondisinya semakin parah.

Imbas luka hati pada kesehatan

Sebuah studi menunjukkan bahwa otak memproses rasa sakit emosional dari luka hati dan rasa sakit fisik dalam wilayah yang sama.

Itulah alasan mengapa saat kamu berada jauh dalam jurang patah hati, kemungkinan besar kamu akan merasakan sakit di bagian dada atau perut.

Berikut beberapa dampak buruk luka hati bagi kesehatan:

1. Nyeri Dada

Salah satu dampak buruk luka hati bagi kesehatan adalah nyeri di bagian dada atau yang biasa disebut sesek.

Ini terjadi karena sistem saraf pada tubuh bereaksi yang kemudian menimbulkan perasaan tidak nyaman di bagian dada.

Kondisi seperti ini disebut Takotsubo Kardiomiopati, yang sering dikenal sebagai sindrom patah hati.

Sindrom sakit hati merupakan stress emosional akut yang dapat menyebabkan ventrikel kiri jantung mengalami disfungsi, menyebabkan gejala yang mirip seperti serangan jantung termasuk nyeri dada, sesak nafas, pusing, hilang kesadaran, hingga mual dan muntah.

Kabar baiknya, kondisi ini biasanya tidak menyebabkan kerusakan permanen seperti serangan jantung, ya! Karena sindrom seperti ini biasanya dapat sembuh dengan sendirinya.

Karena gejalanya mirip, sebagian orang yang mengalami luka hati kerap mengartikan dirinya sedang serangan jantung, padahal tidak.

Mengutip clevelandclinic.org, sindrom patah hati kebanyakan menyerang sekitar 88% wanita, terutama pada usia paruh baya. Alasannya sederhana, karena wanita lebih rentan terkena stress mendadak.

Selain itu, sindrom ini juga bisa dialami oleh orang-orang yang memiliki riwayat gangguan saraf seperti epilespi atau cidera kepala.

2. Depresi dan gangguan kecemasan

Luka hati bisa menyebabkan seseorang mengalami depresi dan gangguan kecemasan. Kedua hal ini merupakan masalah kesehatan mental yang saling berkaitan.

Seseorang yang mengalami depresi dan kecemasan umumnya merasa dirinya tidak berguna, putus asa, memiliki pikiran yang tak terkendali, hingga khawatir yang berlebihan tentang masa sekarang atau masa depan.

Parahnya, orang-orang yang mengalami deperesi dan gangguan kecemasan lebih berisiko untuk mengakhiri hidup.

3. Lebih sensitif

Karena pernah disakiti atau ditinggal, seseorang biasanya menjadi lebih sensitif.

Luka hati membuat seseorang membayangkan suatu kenangan atau peristiwa-peristiwa yang dapat membuatnya menangis, meski pada hal-hal sepele.

Selain itu, mereka juga mudah mengeluh dan tersinggung. Ketika seseorang memiliki luka hati, ia seperti tidak mempunyai penyaring dalam melindungi diri dari rasa sakit yang berlebihan.

4. Jerawatan dan rambut rontok

Orang yang mengalami patah hati cenderung lebih mudah stress akibat pikiran yang rancuh entah kemana. Akibat stress, mereka jadi lebih mudah jerawatan dan mengalami rambut rontok.

Peneliti mengatakan, 23 persen kasus peradangan jerawatan muncul saat orang berada di bawah tekanan stress yang tinggi, terkait dengan luka hati.

Selain itu, stress juga mengakibatkan pelonggaran folikel rambut secara bertahap, sehingga membuat rambut mudah rontok saat disisir ataupun saat dicuci.

Lantas, bagaiman cara mengobati luka hati?

Cara mengobati luka hati

Beberapa pendapat mengatakan luka hati sangat sulit untuk disembuhkan, sebagian mengatakan mudah tergantung permasalahan yang dialami.

Luka hati ibarat membuang sebuah korek api ke pompa bensin yang hanya butuh beberapa detik untuk mengobarkan api, namun butuh waktu yang lama untuk memadamkannya.

Akan tetapi, luka hati dapat membaik seiring berjalannya waktu. Berikut beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mengurangi luka di hati:

1. Berdamai dengan diri sendiri

Ini merupakan Langkah paling awal yang harus dilakukan untuk mengurangi luka di hati, bahkan menghilangkannya.

Menerima kenyataan bahwa terkadang apa yang terjadi tidak sesuai dengan keinginan. Sejatinya, ketenangan akan datang kepada orang-orang yang dapat berdamai dengan dirinya sendiri.

Coba lebih mengenal diri sendiri, akui perasaan takut, kecewa, marah, sedih dan emosi negatif lainnya.

Sesekali lakukan me time yang berkualitas, hanya kamu yang memahami hal apa yang membuatmu bahagia, sembari mendengarkan musik yang menggambarkan suasana ceriamu.

2. Menjauhi sosial media

Terkadang, konten-konten di sosial media sangat random dan tidak terkendali. Kamu pasti sering menemukan hal-hal yang justru menghambat proses penyembuhan.

Sebagai contoh, kamu ditinggalkan pasanganmu, namun foto-foto kenangan tersebut masih tertinggal di sosial media yang kemudian tak sengaja terlihat. Hal itu justru membuatmu merindu dan membayangkan kenangan-kenangan yang hanya akan membuatmu kembali bersedih.

Selain menghindari seseorang di dunia nyata, kamu juga harus menghindarinya di sosial media.

3. Menyingkirkan barang-barang kenangan

Barang-barang tertentu dapat membuat otak mengirimkan sinyal rasa sakit dan rasa rindu yang nyata.

Menyingkirkan bukan berarti menghancurkan ya, kamu bisa menyumbangkannya kepada orang yang lebih membutuhkan.

Terkadang, aktivitas sehari-harimu dapat terganggu akibat barang-barang yang memiliki kenangan akan seseorang.

Kamu sendiri yang tahu akan isi hatimu, kamu sendiri yang tahu barang mana yang menyebabkan luka di hati, maka segera singkirkan.

4. Curhat dengan orang terdekat

Sebagai mahluk sosial, kamu bisa mencurahkan isi hatimu kepada orang-orang terdekat yang kamu percaya. Luapkan semua perasaanmu dan saringlah saran-saran yang diberikan oleh mereka untuk menyembuhkan luka hatimu.

Saat kamu dilanda stress, sangat sulit untuk berpikir bagaimana keluar dari sebuah masalah. Dengan kamu bercerita kepada seseorang, kamu akan mendapat insight yang lebih luas tentang permasalahanmu.

5. Melakukan hal positif

Mungkin banyak yang berpikir jika sembuh dari luka hati adalah hal yang sangat sulit dilakukan. Namun kembali dipertanyakan, apakah kamu sudah mencoba untuk keluar dari kondisi atau aktivitas yang itu-itu saja?

Sesekali cobalah hal-hal positif yang dapat menyibukkan dirimu agar tidak terpenjara dari pikiran yang ujung-ujungnya hanya akan menyesengsarakanmu.

Kamu bisa melakukan berbagai kegiatan seperti berolahraga, meditasi, jalan-jalan, hingga melakukan kegiatan-kegiatan sosial yang positf.

Itulah beberapa hal yang bisa dilakukan untuk menyembuhkan luka hati yang kamu alami. Apabila kamu merasa kesulitan dalam menerapkannya atau membutuhkan bantuan orang lain, carilah tenaga professional seperti psikolog atau psikiater.

Referensi:

  • Cleveland Clinic (2021). Broken Heart Syndrome
  • Queensland Goverment (2017). The science behind a broken heart
  • Schaefer, A. & Pletcher, P. Healthline (2016). What Does Heartbreak Do to Your Health?
  • Olivia A, Marieclaire (2020).These are the ways heartbreak physically impacts the body
  • Meghan Laslocky, Greatergood Berkeley (2013). This Is Your Brain on Heartbreak
Editor: -
TAG :
Baca Juga
LIPUTAN KHUSUS