Istri Pangeran Harry Digugat Saudara Tiri Rp1,1 M atas Dugaan Sebar Fitnah

Istri Pangeran Harry, Meghan Markle digugat oleh saudara tirinya, Samantha Markle, atas dugaan pencemaran nama baik. Duchess of Sussex juga diminta ganti rugi sebesar Rp1,13 miliar. (Foto: Instagram @sussexroyal)

PARBOABOA, Jakarta – Istri Pangeran Harry, Meghan Markle digugat oleh saudara tirinya, Samantha Markle, atas dugaan pencemaran nama baik. Duchess of Sussex juga diminta ganti rugi US$75 ribu atau sekitar Rp1,13 miliar (US$1=Rp15.119).

Dalam gugatan yang diajukan pada Jumat (3/2/2023), Meghan dituduh mengatur kampanye untuk mencemarkan nama baik, menghancurkan reputasi serta kredibilitasnya dan sang ayah untuk mempromosikan narasi palsu ke keluarga kerajaan dan media.

Selain Meghan, laporan itu juga menyeret Pangeran Harry. Keduanya dituduh membuat pernyataan palsu dan jahat selama wawancara dengan Oprah Winfrey pada Maret 2021, lapor Mirror.

Samantha ingin keduanya dipanggil di hari yang sama, tapi dalam wawancara terpisah di depan kamera. Ia ingin Meghan membuat 38 pengakuan terpisah selama deposisi, lapor outlet itu.

Samantha tidak hanya ingin Meghan mengakui bahwa ia berbohong tentang hubungan dan pengasuhan mereka untuk menjual cerita pribadinya. Ia juga juga ingin ibu dua anak itu menarik kembali tuduhan terhadap keluarga Kerajaan Inggris dengan mengklaim Ratu Elizabeth bukanlah seorang rasis dan Raja Charles bukan rasis.

Samantha dan Meghan Markle memang telah berselisih selama bertahun-tahun. Pada 2018, dalam sebuah wawancara dengan Good Morning Britain dari ITV, Samantha bersikeras tidak pernah mencari cuan dari ketenaran Meghan, meskipun dia sering menjadi kritikus dan blak-blakan soal Meghan.

"Saya bekerja di media hampir sepanjang hidup saya dan di penyiaran, jadi karena saudara perempuan saya tiba-tiba menjadi bangsawan, bukan alasan bagi saya untuk berhenti melakukan semua itu," kata Samantha.

"Mari kita hadapi itu - kita semua harus bertahan hidup. Uang membuat dunia berputar, jadi jika Anda ingin membatalkannya, tidak apa-apa, tapi saya pikir tidak ada seorang pun di media yang akan menolak gaji untuk berbicara tentang kerajaan dan, sebagai keluarga, kami tidak tunduk pada protokol kerajaan. Mengapa saya harus berhenti hidup karena ada masalah keluarga?"

"Tidak ada yang memiliki hak cipta atas pengalaman hidup kita, jadi saya pikir publik lupa bahwa di dalam keluarga, kita masing-masing adalah individu dengan pengalaman hidup kita sendiri," lanjutnya.

Editor: Sondang
TAG :
Baca Juga
LIPUTAN KHUSUS