Kereta Ekonomi yang Sungguh Tak Bersahabat

Keakraban Rin, Pram, dan Rhein. (Foto: PARBOABOA/Hasudungan Sirait)

Napak Tilas Blora bersama Pramoedya Ananta Toer (Bagian Satu)

PARBOABOA - Minggu, 7 Desember 2003Aku dan Has (P. Hasudungan Sirait) berangkat dari Bogor ke kontrakan kami di Mampang.

Di UKI, Cawang, kami kesulitan mencari taksi. Setelah menunggu agak lama akhirnya dapat juga; lumayan bagus kondisi kendaraan itu.

Di Mampang sudah ada Amang; kawan kami yang akan bertugas sebagai juru kamera ini ternyata menunggu sejak pagi.

Kami minta supir taksi menanti sampai kami selesai packing agar kesulitan macam tadi tak berulang. Maklum, masih dalam suasana Lebaran.

Bertiga kami meluncur ke Stasiun Senen. Koordinasi dengan Rheinhardt (Rhein) terus kami lakukan.

Ia bilang sudah jalan; ternyata (kami baru tahu kemudian) ia keasyikan main sepakbola di kampus UI, Depok.

Sampai di Senen kami langsung membeli empat karcis ekonomi yang selembarnya Rp35.000 (ditambah Rp1.000 untuk setiap lembar kupon Palang Merah Indonesia).

Menunggu Rhein dan kereta datang, kami ngopi di stasiun. Masih dalam suasana Lebaran hari ini sehingga karcis berlaku bebas; artinya tak berlaku nomor tempat duduk.

Hukumnya, siapa cepat dia dapat. Kami memutuskan tak usah ikut berebut kursi sebab Rhein belum juga muncul.

Mulai cemas kami setelah tahu kereta berangkat tepat waktu, pukul 16.50. Kembali Rhein kami kontak. Ia bilang sudah dekat. Ah…dekatnya di mana?

Suasana di Stasiun Senen, Jakarta, pas hari ramai di masa dulu. (Foto: RCTI Plus)

Benar, kereta on time. Kami langsung melompat saat kuda besi itu hendak bergerak. Tak ada pilihan: Rhein terpaksa kami tinggal.

Aku kecewa. Has apalagi; nyata betul wajahnya dongkol.

Kereta sudah mulai bergerak. Hei….itu Rhein muncul! Ia berlari ke arah kami sembari melambai-lambai dan berseru-seru memanggil. Jantungku berdegup: sempatkah dia naik?

Hap! Tangannya sigap menyambar besi pegangan dekat ujung gerbong sambil kakinya bergerak cepat mengimbangi laju kereta.

Uh! Selamat dia menyeberangkan badan. Lega tenan aku: tim akhirnya lengkap.

Has tak kuasa menyembunyikan kedongkolannya. Wajahnya cemberut; pasti karena sekian menit tegang betul.

Tempat duduk habis sudah sehingga kami berempat melantai dengan beralaskan koran.

Pedagang bebas lalu lalang di sepanjang gerbong. Maklum, ini kereta ekonomi. Pantat kami tersepak sesekali oleh mereka.

Tak terbayangkan kalau saja langkah kami tak berujung di gerbong paling belakang saat menyusuri untuk mencari tempat duduk. Pastilah pantat kami akan lebih sering tertendang. Bah….

Saat pemeriksaan karcis dua orang yang duduk di kursi di dekat kami berdiri dan ngeloyor begitu saja. Tampaknya tak berkarcis mereka.

Kursi lowong kontan kami tempati. Akan bergantian duduk nanti, begitu rencana kami.

Ternyata sebentar saja kami menikmati kemewahan. Dua tentara berbaju dinas muncul dan mengkleim sebagai pemilik tempat itu.

Bagaimana bisa? Toh nomor kursi sedang tak berlaku. Has berargumen. Ngotot mereka.

Malas ribut dengan orang sengak yang mengedepankan kekuasaan, kursi kami tinggalkan.

Harapan kami semoga ada penumpang di gerbong itu turun di stasiun berikutnya dan mewariskan tempatnya ke kami. Mimpi kali ya…hari Lebaran gene masa’ ada kejadian seperti itu….

Atmosfir di kereta ekonomi yang bertolak dari Stasiun Senen, pada Lebaran 1994. Kurang lebih sama situasinya dengan hari raya tahun 2003. (Foto: Kompas)

Memang benar: tak pernah ada kursi untuk kami. Penderitaan kami tak hanya melantai dengan kaki yang tak leluasa diselonjorkan.

Angkutan rakyat jelata ini benar-benar tak bersahabat. Tak ber-AC, kotor dan bau. Kata lainnya, kumuh.

Untung saja penumpangnya serba unik sehingga menarik untuk dicermati. Benar, selalu ada titik terang dalam kekelaman sekalipun. Menyaksikan lagak-lagu mereka menjadi hiburan bagi kami.

Misalnya si mbok pedagang ayam di belakang stasiun Senen. Perempuan berumur ’40-an ini melantai persis di sebelah kami.

Ia gaul dan rajin bercerita sehingga kami lekas akrab. ‘Pulang ke Jawa’, ia berkisah, dua minggu sekali dan biasanya tak beli karcis. Cukup bayar Rp 3-5 ribu ke petugas pemeriksa karcis.

Tapi ada juga yang unik tapi sejak awal tak kami suka yakni segerombolan bondo nekat (bonek) di dekat kami.

Ada dari mereka yang duduk di kursi; tapi sebagian besar melantai seperti kami kalau tidak berdiri atau kelayapan.

Sejak semula fans Persebaya ini sudah memperlihatkan kebonekannya. Berisik, cerewet, dan jahil mereka. Rese, itu sebutan yang lebih pas.

Seakan mereka saja pengisi gerbong. Para pedagang selalu saja mereka usili beramai-ramai terlebih yang perempuan. Mencolek-colek, itu antara lain yang mereka lakukan.

Dua tentara yang aku ceritakan tadi niscaya sangat terusik juga oleh mereka. Tapi mereka diam saja seakan tak melihat dan tuli. Masak ya tak lihat dan dengar….Ternyata ke kami—yang bertampang anak manis ini—saja mereka jumawa.

Stasiun Cepu, akhir penderitaan. (Foto: Foursquare)

Perjalanan ini sungguh tak nyaman. Aku tidak bisa tidur terutama akibat suara berisik kereta, bonek, pengasong, dan yang lain.

Perut yang serasa masuk angin kuolesi saja minyak angin sepanjang perjalanan. Penderitaan baru berujung pukul 06.00 tatkala kereta tiba di Cepu. 

Bersambung...

Reporter: Rin Hindryati dan P. Hasudungan Sirait

TAG :
Baca Juga
LIPUTAN KHUSUS