Mengenal Hipertensi yang Banyak Diderita Masyarakat Indonesia

Ilustrasi seseorang sedang mengonsumsi obat hipertensi. (Foto: PARBOABOA/Fika)

PARBOABOA – Penyakit hipertensi atau tekanan darah tinggi banyak dialami oleh masyarakat Indonesia.

Hipertensi atau tekanan darah tinggi terjadi ketika kekuatan aliran darah melalui pembuluh darah terlalu tinggi.

Dilansir dari laman Healthline, Kamis (20/06/2024), pembuluh darah yang sempit atau disebut juga arteri menciptakan lebih banyak resistensi terhadap aliran darah.

Semakin sempit pembuluh darah, semakin besar resistensi yang ada dan semakin tinggi pula tekanan darah.

Dalam jangka panjang, peningkatan tekanan darah dapat menyebabkan gangguan kesehatan, termasuk penyakit jantung.

Hipertensi biasanya berkembang selama beberapa tahun. Biasanya tidak ada gejala apapun yang terlihat.

Namun, meskipun tanpa gejala, tekanan darah tinggi dapat menyebabkan kerusakan pada pembuluh darah dan organ tubuh, terutama otak, jantung, mata dan ginjal.

Perlu diketahui, deteksi dini itu penting. Pengukuran tekanan darah secara teratur dapat membantu pasien dan dokter mengetahui adanya perubahan.

Jika tekanan darah meningkat, dokter mungkin akan memantau tekanan darah selama beberapa minggu untuk melihat apakah tekanan darah tetap tinggi atau kembali ke tingkat normal.

Perawatan untuk hipertensi mencakup obat resep dan perubahan gaya hidup sehat. Jika kondisi ini tidak ditangani, dapat menyebabkan gangguan kesehatan, termasuk serangan jantung dan stroke.

Ada lima kategori yang menentukan pengukuran tekanan darah untuk orang dewasa yaitu sehat dengan nilai tekanan darah kurang dari 120/80 millimeter air raksa (mm Hg).

Kedua adalah peningkatan, di mana angka sistolik antara 120 dan 129 mm Hg, atau angka diastolik kurang dari 80 mm Hg.

Dalam kondisi ini, dokter biasanya tidak mengobati tekanan darah tinggi dengan obat-obatan. Sebaliknya, dokter mungkin mendorong perubahan gaya hidup untuk membantu menurunkan angka tekanan darah.

Ketiga, hipertensi stadium 1, di mana angka sistolik antara 130 dan 139 mm Hg atau angka diastolik antara 80 dan 89 mm Hg.

Keempat, hipertensi stadium 2, di mana angka sistolik 140 mm Hg atau lebih tinggi, atau angka diastolik 90 mmHg atau lebih tinggi.

Terakhir, krisis hipertensi di mana angka sistolik lebih dari 180 mm Hg atau angka diastolik lebih dari 120 mm Hg.

Tekanan darah di angka ini memerlukan perhatian medis segera. Jika gejala seperti nyeri dada, sakit kepala, sesak napas atau perubahan penglihatan terjadi saat tekanan darah setinggi ini, maka diperlukan perawatan medis di ruang gawat darurat.

Hipertensi pada umumnya merupakan kondisi yang tidak bersuara. Banyak orang tidak mengalami gejala apapun.

Mungkin diperlukan waktu bertahun-tahun atau bahkan puluhan tahun agar kondisi ini mencapai tingkat yang cukup parah sehingga gejalanya menjadi jelas. Meski begitu, gejala tersebut bisa saja disebabkan oleh masalah lain.

Menurut American Heart Association, bertentangan dengan kepercayaan umum, hipertensi berat biasanya tidak menyebabkan mimisan atau sakit kepala kecuali seseorang berada dalam krisis hipertensi.

Cara terbaik untuk mengetahui apakah tubuh menderita hipertensi adalah dengan mengukur tekanan darah secara teratur.

Ada dua jenis hipertensi yang diketahui secara medis. Pertama adalah hipertensi esensial atau primer. Jenis ini berkembang seiring berjalannya waktu. Kebanyakan orang menderita tekanan darah tinggi jenis ini.

Kombinasi beberapa faktor biasanya berperan dalam perkembangan hipertensi esensial. Seperti gen, usia, ras, hidup dengan obesitas, konsumsi alkohol yang tinggi, menjalani kehidupan yang tidak banyak bergerak, hidup dengan diabetes dan atau sindrom metabolik dan asupan natrium yang tinggi.

Jenis kedua adalah hipertensi sekunder yang sering kali muncul dengan cepat dan bisa menjadi lebih parah dibandingkan hipertensi primer.

Beberapa kondisi yang dapat menyebabkan hipertensi sekunder antara lain penyakit ginjal, apnea tidur obstruktif, kelainan jantung bawaan, masalah pada kelenjar tiroid, efek samping obat, penggunaan obat terlarang, penggunaan alkohol kronis, masalah kelenjar adrenal dan tumor endokrin tertentu.

TAG :
Baca Juga
LIPUTAN KHUSUS