Kasus Narkoba dan Jejak Sindikat Terbesar asal Indonesia

Ilustrasi penangkapan bandar narkoba jenis sabu. (Foto: Dokumen Polda Sumut)

PARBOABOA, Jakarta - Kasus narkotika dan obat atau bahan berbahaya (narkoba) di Indonesia telah masuk ke tahap yang amat mengkhawatirkan.

Selama dua bulan terakhir saja, dari 14 Maret hingga 6 Mei 2024, Polri melalui Satgas Penanggulangan, Penyalahgunaan, dan Peredaran Gelap Narkoba (P3GN) menemukan 10 kasus paling menonjol.

Dalam konferensi pers di Mabes Polri belum lama ini, Kasatgas P3GN, Irjen Asep Edi Suheri secara gamblang mengungkap ke 10 kasus tersebut.

Pertama kata dia, kasus narkoba paling menonjol adalah pengungkapan kasus narkotika jenis sabu seberat 19 kilogram (kg) oleh Dittipid Narkoba Bareskrim Polri.

Pengungkapan kasus ini disusul oleh kasus kedua, yaitu pengungkapan kasus sabu seberat 12 kg dan 19 ribu butir ekstasi oleh Satgas Penanggulangan Narkoba.

Sementara itu, kasus ketiga adalah pengungkapan kasus narkotika jenis sabu seberat 20 kg dengan modus operandi dimasukkan ke dalam kaleng susu bayi.

Kasus ini terjadi di Kalimantan Utara (Kaltara) dan dibongkar oleh Satgas Penanggulangan Narkoba Polda Kaltara.

Lalu kasus keempat dan kelima masing-masing terjadi wilayah hukum Jawa Timur (Jatim) dan Sulawesi Tengah (Sulteng). 

Di Polda Jatim, Satgas Penanggulangan Narkoba berhasil mengamankan  narkotika jenis sabu seberat 40,9 kg, ekstasi sebanyak 26.019 butir, dan ganja sebanyak 40 kg.

Di Polda Sulteng, satgas narkotika jenis sabu dengan total 25. Kasus keenam masih terjadi di Sulteng, dimana satgas mengamankan  30 kg narkotika jenis sabu.

Adapun empat kasus lainnya yaitu, pengungkapan laboratorium gelap narkoba jenis Happy Water dengan menyita MDMA seberat 2,4 oleh Bareskrim Polri dan pengungkapan laboratorium rahasia narkoba jenis ekstasi sebanyak 7.800 butir.

Kemudian dibongkarnya laboratorium pembuatan sabu oleh Polda Jatim  dengan menyita berbagai alat pembuatan obat terlarang tersebut dan  pengungkapan laboratorium gelap narkoba dengan menyita 4 bungkus canabinoid/Pinaca oleh Polda Metro Jaya.

Asep menerangkan, sejak dibentuk pada September 2023, Satgas P3GN telah menangkap 28.861 tersangka narkoba. 

23.772 tersangka saat ini kata dia, sedang menjalani proses penyidikan dan 5.089 tersangka lainnya menjalani proses rehabilitasi.

Kemudian, ditinjau dari hasil pengungkapan tambahnya, satgas telah menyelamatkan puluhan ribu nyawa. 

"Dapat kami sampaikan bahwa Satgas Penanggulangan narkoba Polri telah berhasil menyelamatkan 29.145.078 jiwa," ungkapnya.

Jejak sindikat narkoba asal Indonesia

Kondisi mencemaskan kasus Narkoba di Indonesia juga mencuat saat Bareskrim Polri mengungkap sindikat Narkoba terbesar asal Indonesia, yaitu Fredy Pratama.

Ferdy adalah WNI asal Kalimantan Selatan yang telah mengoperasikan jaringan narkoba sejak tahun 2009. Ia beroperasi di daerah Sumatra, Jawa Dan Kalimantan.

Namun di tahun 2013, ia memilih pindah ke Thailand dan mengendalikan kelompoknya dari sana. 

Pengungkapan kasus ini bermula Ketika Presiden Jokowi menginstruksikan agar membersihkan kasus narkoba sampai ke akar-akarnya tahun 2023 lalu.

Sejak itu, operasi dilakukan termasuk mengejar Ferdy Pratama. Operasi Ferdy bahkan diberi sandi khusus yaitu 'operasi escobar'.

Untuk memburu Ferdy, Bareskrim Polri bekerja sama dengan sejumlah pihak, salah satunya, dengan Drug Enforcement Administration (DEA) atau Badan Narkotika Amerika Serikat.

Dari kerja sama ini, polisi berhasil mengamankan sebanyak 39 orang tersangka. Tak hanya itu, sejak itu pula Bareskrim mulai menelusuri tindak pidana pencucian uang (TPPU) dari sindikat tersebut.

Kabareskrim Polri Komjen Wahyu Widada mengungkapkan, jaringan Fredy Pratama merupakan jaringan yang rapi karena menggunakan alat komunikasi yang sama.

Bahkan, ketika mengungkap kasus-kasus narkoba, kemudian dievaluasi oleh Bareskrim Polri, ada kesamaan modus operandi dengan yang digunakan oleh para sindikat tersebut.

Baru-baru ini, yaitu pada 6 Mei 2024, P3GN Polri berhasil menyita sejumlah aset milik Fredy Pratama. Nilainya ditaksir mencapai Rp 432,2 miliar.

Namun demikian, Fredy Pratama hingga kini masih buron. Kuat dugaan ia masih bersembunyi di wilayah Thailand. 

Ia sendiri dikenal memiliki nama samaran yaitu Cassanova, Mojopahi, The Secrret dan Airbag. Berdasarkan sejumlah informasi, ia juga disebut sudah mengubah identitas dan wajahnya lewat operasi plastik.

Editor: Gregorius Agung
TAG :
Baca Juga
LIPUTAN KHUSUS