Rusia Lempar Rudal ke Alun-alun Ukraina, Sejarah Panjang di Balik Konflik Kedua Negara

Rusia kembali menyerang Ukraina dengan melempar rudal ke alun-alun Kota Chernihiv. (Foto: Pixabay)

PARBOABOA, Ukraina - Konflik Rusia dan Ukraina belum juga berakhir. Teranyar, rudal Rusia kembali menghantam kawasan pusat Kota Chernihiv, Ukraina.

Serangan rudal tersebut menewaskan tujuh orang, salah satu di antaranya merupakan anak yang masih berusia 6 tahun. Sementara itu 12 orang yang diketahui masih anak-anak ikut menjadi korban dan mengalami luka-luka.

"Sebuah rudal Rusia menghantam tepat di pusat kota Chernihiv. [Di sana ada] alun-alun, universitas, dan bioskop," ujar Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy dalam Telegram, mengutip Reuters (20/8/2023).

Zelenskiy juga mengunggah potongan video yang memperlihatkan sejumlah mobil yang rusak parah dan puing-puing yang berserakan di lokasi kejadian.

Serangan rudal Rusia dilakukan setelah Presiden Vladimir Putin menemui sejumlah petinggi militer Rusia beberapa waktu lalu di Rostov-on-Don.

Rostov-on-Don dikenal sebagai pusat militer Rusia ketika hendak melakukan operasi ke Ukraina. Selain itu, tempat ini juga dikenal sebagai lokasi pemberontakan senjata oleh tentara bayaran Wagner pada Juni lalu.

Sejarah Panjang Konflik Rusia - Ukraina

Sejarah konflik Rusia dan Ukrainan tidak pernah terlepas dari relasi politik kedua negara tersebut. 

Mengutip nytimes.com, hubungan Rusia dan Ukrainan di masa lalu sangat dekat. Namun, pergeseran arah politik Ukraina yang condong ke Barat dan ingin menjadi bagian dari NATO, menjadi pemicu ketegangan.

Di era Perang Dingin sebelum tahun 1990, Rusia dan Ukraina pernah bersatu di bawah negara federasi Uni Soviet, negara komunis yang dikenal kuat di jaman itu.

Pengaruh Unisoviet sangat kuat khsusnya di Eropa Timur setelah Jerman kalah dan Perang Dunia II berakhir. Tak heran jika negara-negara di bagian timur Eropa ikut menjadi komunis.

Ukraina yang masih berada di bawa bendera Uni Soviet akhirnya meminta untuk memerdekaan diri dari negara komunis itu dalam sebuah referendum pada tahun 1991.

Saat itu, Rusia yang dipimpin Boris Yeltsin menyetujui permintaan Ukraina, yang kemudian bersama Belarusia membentuk Commonwealth of Independent States (CIS).

Dalam perjalanan, hubungan Rusia dan Ukraina kembali menegang setelah Ukraina menggap CIS sebagai strategi Rusia untuk mengendalikan negara-negara yang berada di bawah kekaisaran Rusia dan Uni Soviet.

Beberapa tahun kemudian, tepat pada Mei 1997, kedua negara kembali berdamai yang ditandai dengan penandatanganan perjanjian persahabatan.

Kerja sama ekonomi pun dilakukan, di mana Rusia membayar Ukraina biaya sewa karena menggunakan Pelabuhan Sevastopol.

Sayangnya, hubungan kedua negara tersebut kembali memanas pada 2014, yang ditandai dengan penentangan supremasi Rusia. 

Viktor Yanukovych, Presiden Ukraina yang pro Rusia berhasil dilengserkan. Kerushan pun tak terhindarkan sebelum akhirnya berdamai pada tahun 2015.

Penentangan supremasi Rusia sekaligus menjadi langkah awal Ukraina untuk membuka relasi politik dan bergabung dengan Uni Eropa (UE) dan NATO.

Putin yang merasa terancam akhirnya marah lantaran prospek berdirinya pangkalan NATO tepat berada di sebelah perbatasannya.

Sejumlah negara Eropa Timur, seperti Polandia dan negara-negara Balkan pun semakin intens membangun komunikasi politik dengan NATO.

Rusia kemudian menggunakan kekosongan kepemimpinan setelah Yanukovych jatuh dan mencaplok Krimea di tahun 2014. Tak hanya itu, separatisme yang berkembang di Ukraina timur, seperti Donetsk dan Luhansk, mendapat dukungan Rusia untuk menentang pemerintah Ukraina.

Pada tanggal 24 Februari 2022, Rusia akhirnya melancarkan operasi militer ke Ukraina, sekaligus menandai peristiwa penting dalam perang Rusia-Ukraina yang dimulai pada 2014 silam.


 

Editor: Andy Tandang
TAG :
Baca Juga
LIPUTAN KHUSUS