KPK Ungkap Syarat Agar Lukas Enembe Diperbolehkan Berobat ke Luar Negeri

Gubernur Papua Lukas Enembe. (Foto: dok. Kompas.com)

PARBOABOA, Jakarta – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mempertimbangkan permintaan Gubernur Papua Lukas Enembe untuk berobat ke luar negeri atas penyakit hipertensinya, dengan syarat dirinya harus lebih dulu menghadiri pemeriksaan dari penyidik KPK di Jakarta.

"Adapun keinginan tersangka untuk berobat ke Singapura, kami pertimbangkan, namun tentu kami juga harus pastikan dengan melakukan pemeriksaan kesehatan terhadap tersangka lebih dahulu ketika ia sudah sampai di Jakarta," kata Plt Juru Bicara KPK, Ali Fikri pada Sabtu (24/09/2022) lalu.

Ali menegaskan bahwa KPK akan melakukan proses penyidikan sesuai koridor dan prosedur hukum dengan menjunjung asas praduga tak bersalah dan HAM. Untuk itu, KPK berharap pihak Lukas dapat kooperatif dengan memenuhi panggilan dari KPK dan bersedia untuk diperiksa oleh tenaga medis dari KPK sebelum diberi izin untuk berobat ke luar negeri.

"Maka alasan ketidakhadiran tersangka karena kesehatan tentu juga harus disertai dokumen resmi dari tenaga medis supaya kami dapat analisis lebih lanjut," katanya.

"Karena KPK juga telah memiliki tenaga medis khusus dalam melakukan pemeriksaan baik terhadap saksi atau pun tersangka yang dipanggil KPK," sambung Ali.

Sebelumnya, dokter pribadi Lukas Enembe, Anton Mote, menyebut Lukas Enembe mengalami stroke sejak 2015, sehingga Lukas tak dapat berbicara dan kondisinya semakin memburuk.

"Ya salah satunya adalah stroke, tidak bisa bicara. Sudah dari 2015," kata Anton di gedung KPK, Jalan Kuningan Persada, Jakarta Selatan, Jumat (23/09/2022).

"Beliau itu sudah sakit lama, makin buruk situasinya sekarang ini," sambungnya.

"Beliau ke Singapura bukan baru, sudah selalu beliau terus ke sana, jadi bukan baru. Jadi kalau beliau mau ke sana, bukan karena lari dari persoalan, nggak. Berobat murni. Kita dengar hoax yang berlebihan di Indonesia ini gila banget. Hoax sana-sini. Pressure yang tekanan yang sebenarnya belum merasa bahwa saya tidak melakukan ini. Tekanan psikisnya cukup tinggi, stres makin tinggi, semakin menjadi-jadi," ujarnya.

Editor: -
TAG :
Baca Juga
LIPUTAN KHUSUS