Tak Berdaya Hadapi Krisis, Warga Sri Lanka Mengaku Putus Harapan

Pengunjuk rasa di Kolombo berdemonstrasi dan meneriakkan slogan-slogan antipemerintah terkait krisis ekonomi yang tengah menjerat Sri Lanka. AP

PARBOABOA, Pematangsiantar - Krisis di Sri Lanka yang kian memburuk membuat warganya semakin menderita. 

Dilansir Reuters, Sabtu (21/5/2022), ribuan orang di Kolombo, pada Jumat, terpaksa mengantre guna mendapatkan gas dan bahan bakar. Titik antrean tersebar di seluruh kota berpenduduk 900.000 jiwa itu. 

Warga berusaha membeli bahan bakar yang sebagian besar diimpor dalam jumlah sangat terbatas, karena pemerintah kehabisan devisa. 

“Hanya sekitar 200 tabung yang terkirim, padahal yang datang sekitar 500 orang,” kata Mohammad Shazly, seorang warga yang tengah mengantre gas. 

Pria yang bekerja sebagai sopir paruh waktu itu berharap bisa membeli gas untuk keluarganya yang terdiri dari lima orang.

"Tanpa gas, tanpa minyak tanah, kami tidak bisa berbuat apa-apa. Pilihan terakhir apa? Tanpa makanan, kita akan mati. Itu akan terjadi 100 persen," ungkap warga lainnya yang bernama Shazly.

Sri Lanka sangat bergantung pada pariwisata. Dan saat ini negeri itu kekurangan devisa, obat-obatan, dan BBM. 

Kelangkaan BBM membuat transportasi umum kian berkurang. Penduduk lebih banyak tinggal di rumah sebagai bentuk penghematan. Pekerjaan pun susah didapat. 

Perdana Menteri (PM) baru Sri Lanka, Ranil Wickremesinghe, memperingatkan bakal terjadinya krisis pangan. 

Dan ia berjanji akan membeli cukup pupuk untuk musim tanam berikutnya guna meningkatkan produktivitas dan memenuhi permintaan pangan 22 juta penduduknya.

"Meskipun mungkin tidak ada waktu untuk mendapatkan pupuk musim Yala (Mei-Agustus) ini, langkah-langkah sedang diambil untuk memastikan stok yang cukup untuk musim Maha (September-Maret)," kata Wickremesinghe melalui Twitter. 

Menurut Kementerian Luar Negeri, Jepang, yang memiliki hubungan ekonomi dengan Sri Lanka, berjanji akan memberikan hibah darurat sebesar US$3 juta (Rp43,5 miliar) untuk obat-obatan dan makanan. 

Pasokan gas yang tiba di lokasi distribusi sampai-sampai harus dijaga oleh tentara bersenjata lengkap. 

"Litro Gas yang dikelola negara Sri Lanka berharap untuk mulai mendistribusikan 80.000 tabung per hari pada Sabtu, tetapi harus berjuang untuk mengisi sekitar 3,5 juta kekurangan tabung di pasar," kata Vijitha Herath, Dldirektur Litro Gas. 

Pemerintah Sri Lanka juga telah meminta pengadaan gas senilai US$120 juta. Tetapi, harga gas memasak serta makanan dan kebutuhan lainnya telah meroket.

Harga tabung gas 12,5 Kg melonjak menjadi hampir 5.000 rupee (Rp206.000) dari 2.675 rupee (Rp110.000) pada April.

Krisis membuat kemarahan warga terhadap pemerintah semakin memuncak. Demonstrasi meluas di seantero negeri hampir setiap pekan. Mereka menuntut mundurnya Presiden Gotabaya Rajapaksa. 

Krisis di Sri Lanka bermula saat pandemi Covid-19 melanda sehingga menghantam industri pariwisata serta membuat harga minyak melejit dan terjadinya pemotongan pajak populis oleh pemerintahan Presiden Rajapaksa dan saudaranya, Mahinda, yang mengundurkan diri sebagai PM pekan lalu.

Kritikus menuduh Wickremesinghe, pengganti Mahinda, sebagai kaki tangan dari klan keluarga Rajapaksa. Namun ia menepis tudingan itu. 

Pemerintah sendiri telah mengangkat sembilan anggota baru kabinet pada Jumat. Beberapa di antaranya adalah menteri kesehatan, perdagangan, dan pariwisata.

Akan tetapi, tidak ada yang ditunjuk untuk mengepalai Kementerian Keuangan dan memimpin negosiasi dengan Dana Moneter Internasional (IMF) untuk bail-out. 

Editor: -
TAG :
Baca Juga
LIPUTAN KHUSUS