Pasar Keuangan Bergerak Liar di Tengah Eskalasi Politik Jelang Pilpres

Pasar keuangan bergerak liar di tengah situasi politik Indonesia jelang Pilpres. (Foto: Pixabay)

PARBOABOA, Jakarta - Tensi politik menjelang Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024 semakin memanas. 

Apalagi setelah tiga pasangan kandidat capres dan cawapres resmi mendeklarasikan diri untuk bertarung pada perhelatan politik lima tahunan itu.

Di tengah bayang-bayang sentimen global, pasar masih menerka, apakah Pilpres bisa menambah tekanan atau justru membuat pasar keuangan domestik kian bergairah.

Analis Keuangan, Gunawan Benjamin menilai, dinamika politik jelang Pilpres 2024 cenderung membuat pasar keuangan bergerak tak stabil (volatile).

“Justeru pasar keuangan diperdagangkan di teritori negatif sesaat setelah pendaftaran ke KPU dilakukan,” kata Gunawan kepada PARBOABOA, Senin (23/10/2023).

Menurut Gunawan, dinamika politik Tanah Air akan terus berkembang setelah satu pasangan capres dan cawapres, yakni Prabowo Subianto dan Ganjar Rakabuming Raka, akan mendaftarkan diri ke Komisi Pemilihan Umum (KPU) pekan ini. 

Hal ini, kata dia, akan memberikan dampak signifikan terhadap kondisi pasar keuangan domestik.

"Sentimen dalam negeri datang dari masa pendaftaran capres dan cawapres ke KPU," kata Goenawan.

Meski demikian, para pelaku pasar akan lebih fokus kepada rilis data inflasi inti di Amerika Serikat (AS) sebagai acuan laju pertumbuhan ekonomi global.

Semakin meningkatnya ekonomi AS, kata Goenawan, akan berdampak positif terhadap pertumbuhan ekonomi global, namun dapat menjadi indikator bahwa laju inflasi cukup sulit untuk dikendalikan.

Menurut Goenawan, tingginya laju inflasi dapat menjadi sentimen negatif untuk pasar dengan suku bunga yang akan dapat kembali hawkish.

Selain itu, eskalasi konflik di Timur Tengah yang cenderung meluas belakangan ini, juga mempengaruhi pergerakan pasar keuangan.

“Sehingga dalam sepekan kedepan, pasar keuangan berpeluang bergerak liar seiring dengan memanasnya tensi geopolitik di Timur Tengah yang kian memperkeruh ketidakpastian ekonomi global,” terangnya.

Goenawan menjelaskan, pada awal perdagangan pekan ini, beberapa bursa saham di Asia mengalami tekanan, meskipun penurunan ini relatif terbatas. 

Sejumlah indikator keuangan dan harga komoditas juga menunjukkan pelemahan, yang dapat berdampak pada kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan mata uang Rupiah. 

IHSG Terpuruk, Rupiah Melemah

Sementara itu, IHSG pada hari ini ditutup turun sebanyak 1.57% di level 6.741.96. Menurut Goenawan, kinerja IHSG sangat berbeda dari bursa saham di Asia, yang meskipun mengalami pelemahan, koreksinya sangat terbatas. 

"Selama sesi perdagangan, beberapa indikator ekonomi juga tidak menunjukkan koreksi besar, yang bisa mempengaruhi pasar saham di Asia," kata Goenawan.

Seiring dengan pelemahan IHSG, kata Goenawan, mata uang Rupiah juga mengalami pelemahan pada hari ini. 

"Mata uang Rupiah melemah ke level 15.930 per Dollar AS saat penutupan perdagangan," katanya.

Goenawan menjelaskan, kenaikan imbal hasil obligasi AS, terutama US Treasury 10 tahun, yang mencapai level di atas 5%, menjadi salah satu faktor yang memburuknya kinerja Rupiah. 

"Kenaikan tingkat imbal hasil US Treasury ke level tertinggi dalam 16 tahun terakhir membuat Rupiah mendekati pada level 16.000 atau 15.950-an hari ini," paparnya.

IHSG dan Rupiah yang mengalami penurunan lebih buruk dari ekspektasi sebelumnya menunjukkan tekanan berlanjut di pasar keuangan. 

Beberapa bursa saham di Eropa juga dibuka di wilayah negatif pada perdagangan hari ini. 

Jika bursa saham di AS melanjutkan tren penurunan, kata Goenawan, maka bursa saham di Asia pada perdagangan besok kemungkinan akan mengalami penurunan.

Kenaikan imbal hasil obligasi AS, khususnya US Treasury 10 Tahun, memberikan sinyal bahwa kemungkinan kenaikan suku bunga acuan oleh Bank Sentral AS masih ada. 

Terlebih lagi, pidato Gubernur Bank Sentral AS, Jerome Powell, mengenai situasi ekonomi AS di pekan ini menjadi sorotan. 

Di sisi lain, pelaku pasar masih meragukan kemampuan AS untuk mengendalikan tekanan inflasi hingga mencapai level 2%.

Sementara, harga emas pada sesi perdagangan sore ini cenderung stagnan. Menurutnya, situasi konflik di Timur Tengah diperkirakan akan memburuk, yang dapat mendorong kenaikan harga emas lebih lanjut. 

Meskipun harga emas pada perdagangan sore ini sedikit turun ke level $1.977 per ons troy, pasar tetap melihat potensi peningkatan harga emas mendekati level $2.000 per ons troy jika eskalasi konflik meningkat.

Editor: Andy Tandang
TAG :
Baca Juga
LIPUTAN KHUSUS