Hujan Lebat Setiap Hari, BMKG Beri Penjelasan

Hujan Lebat Setiap Hari, BMKG Beri Penjelasan

Sondang | Teknologi | 08-11-2021

PARBOABOA, Siantar – Menjelang penghujung tahun, intensistas hujan di semakin tinggi. Tanpa melihat waktu, hujan datang terus menerus hingga mengakibatkan banjir di sejumlah wilayah di Indonesia sejak pekan lalu.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) buka suara mengenai penyebab terjadinya hujan lebat yang turun terus menerus. Prakirawan BMKG Riefda Novikarny mengatakan, pada sepekan terakhir beberapa wilayah di Indonesia diguyur hujan dengan intensitas yang tinggi. Pihaknya mencatat selama enam hari lalu, rata-rata curah hujan di atas 50mm per 24 jam.

"Sepekan terakhir sebagian wilayah di Indonesia diguyur hujan dengan intensitas yang tinggi. Di antaranya pada wilayah Jabodetabek. BMKG mencatat selama enam hari ke belakang curah hujan dengan intensitas di atas 50mm per 24 jam terjadi," ujar Riefda lewat unggahan di Instagram BMKG, Sabtu (6/11).

Secara klimatologis, saat ini terdapat 21 persen wilayah Indonesia sudah masuk periode musim penghujan. Di antaranya sebagian wilayah Sumatera, Kalimantan, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Bali, Sulawesi Tengah, Maluku dan Papua.

Ia menyebut, peluang kejadian hujan intensitas tinggi di Indonesia lebih besar di periode musim hujan ini. Lantaran prediksi intensitas hujan tinggi, bencana hidrometeorologi bisa terjadi. Hal itu disebut Riefda karena durasi hujan yang lama dan disertai dengan frekuensi hujan yang terbilang sering.

Sehingga, BMKG mengingatkan agar warga lebih waspada dengan berbagai bencana hidrometeorologi seperti banjir hingga tanah longsor.

" masyarakat diharapkan tetap tenang dan tetap waspada terhadap potensi bencana hidrometereologi seperti genangan, banjir, khususnya masyarakat yang tinggal dan berada di daerah bencana rawan hidrometereologi," tuturnya.

Riefda juga menjelaskan beberapa faktor yang menyebabkan hujan lebat di Indonesia, yaitu:

1. Hujan lebat akibat La Nina

BMKG memperkirakan potensi cuaca ekstrim ini akan berlangsung dari tanggal 7 November sampai 9 November 2021. BMKG memantau adanya anomali suhu yang menunjukkan nilai untuk memenuhi prasyarat terjadinya La Nina di Jawa Barat.

Namun, BMKG menginformasikan dampak La Nina akan mulai dirasakan pada bulan November dan puncaknya akan terjadi pada periode Desember 2021 hingga Maret 2022.

Adapun potensi kejadian bencana yang mungkin terjadi akibat La Nina adalah banjir atau banjir bandang, tanah longsor. BMKG juga mengnyampaikan tidak menutup kemungkinan terjadi bencana angin kencang atau angin puting beliung dan hujan es.

BMKG dan Sebagian besar pusat layanan iklim internasional lainnya memprediksikan kondisi La Nina Lemah–Netral akan berlangsung hingga Mei 2022 mendatang.

2. Peningkatan suhu permukaan laut

Di sisi lain, hujan lebat juga disebabkan oleh peningkatan suhu permukaan laut. Temuan peningkatan itu disebut Riefda berada di sisi barat, yaitu pada sisi kepulauan Indonesia.

Ia mengatakan suhu permukaan laut di wilayah Indonesia menghangat pada kisaran 28-31,8 derajat Celcius dengan anomali 0 sampai 5 derajat. Hal itu menyebabkan penguapan dan penambahan masa uap air yang cukup tinggi di wilayah Indonesia yang berbatasan dengan Samudera Pasifik barat.

Riefda mengatakan, Indian Ocean Dipole (IOD) menunjukkan nilai yang signifikan dengan batas normal kurang lebih 0,4. Hal itu menunjukkan adanya aktivitas pertumbuhan awan di Indonesia di bagian barat.

Pertumbuhan awan itu disebut Riefda signifikan dari indikasi adanya pergerakan suplai air basah, dari wilayah samudra Hindia timur Afrika, ke wilayah perairan barat Sumatera.

3. Perubahan pola angin

Lebih lanjut, Riefda menjelaskan tingginya curah hujan di sebagian wilayah Indonesia disebut pengaruh dari perubahan pola angin.

Perubahan itu sebagai indikasi akan dimulainya monsun asia, yaitu aliran massa udara dari Samudra Pasifik yang mulai masuk wilayah Indonesia dan bertemu dengan aliran masa udara dari Samudra Hindia.

Sehingga, hal itu membentuk adanya belokan dan perlambatan kecepatan angin yang dapat mendapatkan pola konvektifitas, terutama di wilayah Sumatera dan Jawa bagian barat, dan membentuk gugusan awan konvektif di wilayah tersebut.

4.Kondisi kelembaban udara yang relatif tinggi

Selain itu, Riefda juga menjelaskan adanya faktor tingginya kondisi kelembaban udara di wilayah Indonesia. Jika diamati menggunakan citra satelit untuk kanal uap air, akan terlihat adanya peningkatan udara lembab hampir di seluruh Indonesia.

Dia mengatakan, peningkatan kelembaban itu akan memudahkan terbentuknya awan sehingga membuat intensitas curah hujan meningkat.

Tag : hujan lebat, bmkg, la nina, banjir, tanah longsor, bencana alam, teknologi

Berita Terkait