Politik Emak-Emak ala Gerindra, Anak Mantu pun Disenggol!

Wakil Ketum Gerindra melempar candaan untuk memecat mantunya jika tidak memilih Prabowo di Pilpres 2024. (Foto: DPP Partai Gerindra)

PARBOABOA, Jakarta - Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Habiburokhman sempat melempar candaan ke emak-emak untuk memecat anak mantunya jika tidak mendukung Prabowo Subianto sebagai calon presiden pada Pilpres 2024.

Candaan tersebut dilemparkan anggota DPR RI itu saat memberikan sambutan dalam acara konsolidasi akbar kader Gerindra yang digelar di Jakarta Timur, pada Sabtu (26/8/2023).

"Kita meyakinkan semua keluarga kita mendukung Pak Prabowo. Emak-emak kalau ada mantunya yang nggak dukung pak Prabowo, pecat. Ya nggak?" kata Habiburokhman.

Kendatipun hanya sebuah candaan, Habiburokhman rupanya ingin memberikan pesan serius kepada emak-emak untuk mengarahkan dukungan politiknya kepada Prabowo Subianto.

Menurut Habiburokhman, kontestasi pemilihan umum (Pemilu) menjadi kesempatan emas untuk memenangkan Prabowo Subianto sebagai Presiden menggantikan Joko Widodo.

Ia mengklaim, elektabilitas ketua umum Partai Gerindra itu cukup tinggi jika dibandingkan dengan dua rival politiknya, yakni Ganjar Prabowo dan Anies Baswedan.

Di sisi lain, mantan advokat itu juga meyakini potensi kemenangan Prabowo Subianto semakin terbuka lebar setelah mendapatkan dukungan dari tiga partai, yakni Golkar, PAN dan PKB.

"Artinya semua elemen bangsa pun akan mendukung pak Prabowo menjadi presiden. Kita doakan hal demikian terjadi," tegasnya.

Politik Emak-emak

Posisi emak-emak dalam pusaran Pilpres semacam menjadi trend baru dalam perpolitikan di Indonesia hari-hari ini. Mereka begitu mendapat tempat di hati para kandidat dan partai politik.

Sebetulnya, fenomena keterlibatan perempuan dalam ruang politik praktis menjadi strategi umum yang kerap dimainkan oleh hampir semua kandidat yang bertarung di dalam pentas Pilpres.

Pada 2022 lalu di Bogor misalnya, relawan Anies yang menamakan kelompoknya dengan sebutan Manies (Mak Mak Anies), membuat gerakan seruan untuk deklrasi Anies sebagai Presiden.

Mereka berdalih, dukungan politik terhadap Anies merupakan ekspresi nyata sebagai manusia politik yang memiliki hak yang sama dengan laki-laki untuk terlibat.

Di Bandung pun sama, emak-emak Kota Bandung mendeklarasikan diri mendukung eks Gunernur DKI Jakarta itu menjadi Presiden menggantikan Joko Widodo. Deklarasi yang diinisiasi oleh Partai NasDem Kota Bandung itu, ingin menjadikan Kota Kembang sebagai lumbung suara Anies Baswedan.

Tak hanya Anies, mobilisasi kekuatan emak-emak juga dimainkan Ganjar Pranowo. Pada 2022 lalu, ribuan emak-emak yang tergabung dalam kelompok "Mak Ganjar DKI Jakarta" menyatakan dukungannya kepada Ganjar sebagai Presiden.

Kelompok ini pun berdalih, Ganjar menjadi salah satu sosok yang tepat yang diinginkan masyarakat Indonesia untuk melanjutkan estafet kepemimpinan Joko Widodo sebagai Presiden.

"Kami dukung beliau karena sosoknya sangat sederhana, tidak macam-macam, bersih dari korupsi," ungkap Ketua Mak Ganjar DKI Jakarta, Evi Nafisah, kala itu.

Di kesempatan lain, sejumlah emak-emak sosialita di Kota Surabaya juga mendeklarasikan dukungannya kepada Ganjar Pranowo sebagai Presiden dalam perhelatan Pilpres 2024.

Kelompok yang menamakan diri Sosialita-E Ganjar Pranowo ini menyebut politisi PDIP itu mempunyai khraisma dan karakter yang hampir sama dengan Joko Widodo. Ia juga dinilai memiliki prestasi yang luar biasa selama memimpin Jawa Tengah.

Persis sama seperti Ganjar dan Anies, Prabowo Subianto pun menjadikan emak-emak sebagai salah satu basis kekuatan politik. 

Pada April 2023 lalu, sejumlah emak-emak di Jakarta Timur menyatakan dukungannya kepada Prabowo Subianto sebagai Presiden penganti Joko Widodo. 

Jika Ganjar didukung emak-emak sosialita lantaran sosoknya yang berkharisma, Prabowo mendapat tempat di hati emak-emak karena dinilai memancarkan sikap kenegarawanan yang mengedepankan kepetingan bangsa dan negara.

"Prabowo telah memberikan teladan terbaik dalam upayanya mengakhiri friksi yang berpotensi menimbulkan perpecahan sesama anak bangsa demi menjaga persatuan bangsa dan negara," kata Koordinator Relawan Emak-emak Jakarta Timur, Linda Oslan, saat itu.

Di Ponorogo pun demikian, ratusan emak-emak mendeklarasikan dukungannya terhadap Prabowo Subianto sebagai Presiden. Bahkan, pada kontestasi Pilpres sebelumnya, mereka sudah menyatakan dukungan yang sama ke Prabowo.

Bagi para emak-emak ini, Prabowo adalah seorang nasionalis sejati dan negarawan yang handal. Di bawah kepemimpinan Prabowo, mereka ingin Indonesia menjadi semakin maju dan hebat.

Kekuatan Politik Emak-emak

Gerakan saling dukung kandidat yang dipelopori emak-emak memunculkan sejumlah pertanyaan penting; Apakah mereka hanya dijadikan komoditas politik oleh para kadidat dan partai politik untuk menaikkan elektabilitas? Atau, mereka sungguh menyadari betul soal keterlibatannya di ruang politik perempuan?

Dalam bukunya Sosiologi Politik, Maurice Duverger menulis, perempuan dapat menjadi kelompok penekan (pressure group) untuk meraih suara pemilih. Sebagai ibu rumah tangga, Maurice percaya, perempuan mampu menjadi kekuatan sentral yang mempengaruhi suara pemilih.

Dalam konteks psikologi masyarakat Indonesia, emak-emak diketahui memiliki jaringan sosial yang cukup kuat. Mengutip jurnal 'Media Transformasi Gender dalam Paradigma Sosial Keagamaan', hal itu tumbuh dari kebiasaan emak-emak Indonesia yang sering mengikuti perkumpulan, seperti pangajian. 

Di sisi lain, emak-emak juga mempunyai pengaruh kuat untuk menggiring anggota keluarganya, terutama anak dalam menentukan sebuah pilihan politik. Mengingat, dalam konteks tertentu, seorang anak cenderung menuruti perintah ibu ketimbang bapaknya.

Selain itu, mengutip tulisan Rahman Asri 'The Power of Emak-Emak di Media Sosial', dalam konteks militansi, emak-emak biasanya lebih cendrung militan dan loyal terhadap pemilihnya.

Secara historis, keterlibatan emak-emak dalam politik bisa dilacak di masa akhir keruntuhan Orde Baru. Bahkan, mereka sudah bergerak sebelum mahasiswa menduduki Gedung parlemen di Senayan, kala itu.

Aktivis perempuan, Gadis Arivia, dalam catatanya 'Politik Representasi Suara Ibu Peduli', menggambarkan peran perempuan perempuan termasuk emak-emak dalam menumbangkan rezim Orde Baru saat itu.

Mereka bahkan terlibat dalam mengorganisasi massa di tengah pergolakan rezim totalitarianisme. Sebut saja, Tim Relawan Divisi Kekerasan terhadap Perempuan (TRKP), Suara Ibu Peduli (SIP), dan Koalisi Perempuan Indonesia untuk Keadilan dan Demokrasi (KPIKD).

Para permpuan hebat ini pada akhirnya mampu menciptakan momentum setelah sekian lama dikungkung rezim Orde Baru. Langkah berani kelompok aktivis perempuan ini dinyatakan dalam gerakan demonstrasi dengan menggunakan narasi gerakan susu murah dari ibu peduli.

Di balik keluhan susu mahal, gerakan emak-emak saat itu, serentak memberikan pesan bahwa merak merasa bosan dengan praktik korupsi kolusi nepotisme, dan represi aparat terhadap demokrasi dan kebebasan. Di sini terlihat, gerakan mereka bukanlah objek politik, sebaliknya subjek yang vital dalam politik.

Editor: Andy Tandang
TAG :
Baca Juga
LIPUTAN KHUSUS