Trofi pemain terbaik dunia versi France Football (Ballon d Or) (Foto: Instagram/@FootballFrance)

Resmi! Format Ballon d’Or Berubah, Indonesia Terkena Dampaknya

Michael | Sepakbola | 12-03-2022

Parboaboa.com – Ballon d’Or dianggap sebagai salah satu penghargaan paling bergengsi di dunia sepakbola, dengan nama-nama legendaris telah memenangkannya berkali-kali dalam beberapa tahun ke belakang, namun kriteria dan format untuk meraihnya kini dirombak oleh France Football mulai tahun ini dan tahun-tahun berikutnya.

Superstar Argentina, Lionel Messi, adalah pria terakhir yang memenangkannya. Pada 2021, Legenda Barcelona itu, yang kini berseragam Paris Saint-Germain, dianggap sebagai pemain terbaik di bumi untuk ketujuh kalinya.

Rivalnya, Cristiano Ronaldo, juga sudah memenangkan Ballon d’Or sebanyak lima kali, sementara Johan Cruyff, Michel Platini, dan Marco Van Basten mempunyai tiga trofi. Mereka semua dinilai lewat penampilan selama satu tahun kalender, dan kini format itu akan diubah.

Apa Saja Perubahan Format Ballon d’Or

France Football, yang bertanggung jawab sebagai penyelenggara sejak 1956 dan memperkenalkan Ballon d’Or Feminim pada 2018, mengungkapkan empat perubahan besar dalam penentuan siapa pesepakbola terbaik di bumi ini.

Bukan per tahun, melainkan per musim

Ballon d’Or kini bakal menilai penampilan seorang pemain dalam rentang satu musim, yang biasanya mencakup Juli atau Agustus sampai dengan Mei atau Juni, alih-alih dalam rentang satu tahun, yang mencakup Januari-Desember dan harus menilai performa pemain dalam dua separuh musim.

“Karena penghargaan ini dirancang untuk merayakan pemain terbaik dalam sebuah tahun, belum pernah ada perubahan soal ini.

“Ballon d’Or merayakan pemain terbaik dari Januari hingga Desember, sehingga secara de facto harus menilai dan menimbang dua separuh musim, Januari-Juli dan Agustus-Desember (terkadang pemain berpindah klub di antara kedua musim) alih-alih satu musim secara utuh.”

“Dengan meninggalkan ritme kalender dan menyesuaikan Ballon d’Or (pria dan wanita) dengan musim tradisional sepak bola, kita mendapatkan kejelasan performa mana yang mesti dihitung dan dievaluasi.”

“Oleh karena itu edisi selanjutnya akan menimbang penampilan musim 2021/2022, yang diakhirnya oleh Euro Wanita (6-31 Juli 2022). Namun Piala Dunia Qatar (21-18 Desember 2022) akan termasuk ke Ballon d’Or edisi 2023.”

Menambah pembuat daftar nominasi

Duta besar Ballon d'Or sekaligus legenda Chelsea Didier Drogba serta jurnalis yang pilihannya paling mendekati hasil edisi sebelumnya akan ikut menyusun daftar kandidat pemenang penghargaan prestisius tersebut.

"Mengingat Ballon d'Or dimulai begitu daftar nomine dibuat (30 buat pria, 20 buat wanita, dan 10 buat Yachine dan Kopa Trophy), kami memutuskan untuk memperkuat langkah esensial ini."

"Demi mempersembahkan pemilihan calon pemenang dengan seadil, se-tak terbantahkan, dan serelevan mungkin, kami memutuskan untuk mengubah proses [pemilihannya] yang, hingga kini, biasanya melibatkan penulis dari France Football."

"Selain jurnalis FF (dan L'Equipe), kami] akan menunjuk duta besar Ballin d’Or Didier Drogba (untuk BdO Pria, serta Yachine dan Kopa Trophy) sekaligus pemilih yang terbukti berwawasan luas di edisi sebelumnya."

"Untuk edisi selanjutnya, di sektor pria, Truong Anh Ngoc dari Vietnam (dari Thao & Van Hoa). Di sektor Wanita, juri asal Ceko, Karolina Hlavackova (Ruik), akan mempersembahkan 20 calon pemenangnya. Dari daftar-daftar ini, daftar final resmi akan diungkap pada bulan September."

Perubahan sistem pemungutan suara, Indonesia terdampak

Edisi sebelumnya, perwakilan dari 170 negara ikut ambil bagian dalam proses pemungutan suara. Tetapi mulai sekarang hanya 100 negara teratas dalam ranking FIFA (dan 50 teratas untuk sepakbola wanita) yang boleh ikut memilih.

Perubahan ini tentu berpengaruh buat Indonesia, yang terakhir menempati peringkat FIFA ke-160. Oleh karena itu, pelatih dan kapten timnas Indonesia (Shin Tae-yong & Evan Dimas pada edisi 2021) kehilangan hak memilihnya di Ballon d'Or kecuali jika menembus 100 besar peringkat FIFA.

"Karena Ballon d'Or sudah beranjak dari 16 juri dari Eropa (1956) menjadi 170 (2021) dari seluruh dunia, ia bisa membanggakan universalitas yang menakjubkan dan tak terbantahkan. Inilah yang berperan dalam pengaruh dan reputasi Ballon d'Or."

"Namun, apakah penilaiannya 10 kali lebih bagus dengan juri yang 10 kali lipat lebih banyak? Bukankah jumlah juri yang begitu banyak justru melemahkan Ballon d'Or? Apakah dengan bersikap terbuka terhadap negara "kecil" (yang tak punya budaya sepakbola besar alami atau legitimasi historis dan tak selalu mudah mengakses kompetisi-kompetisi utama) justru membahayakan pemungutan suara karena kurangnya pengetahuan dan keahlian yang memadai?"

"Karena tak mungkin meninggalkan prinsip demokratik (semua suara setara, apa pun negaranya), maka gagasan kami adalah untuk membatasi juri menjadi yang "elite" saja."

"Dus, hanya perwakilan dari 100 negara teratas di ranking FIFA (dan 50 untuk sektor wanita) yang "terkualifikasi" untuk menyumbang suara."

"Memperketat level kepakaran dan membatasi pilihan-pilihan aneh (meski jarang)."

"Keindahannya memang akan hilang, tetapi akan mendapatkan legitimasi dan reliabilitas."

Kriteria yang lebih jelas

Mengingat Ballon d'Or adalah penghargaan individual, para pemilih diinstruksikan untuk memprioritaskan penampilan individual, dan menomorduakan pencapaian kolektif.

Fair play dan sikap teladan juga bakal dipertimbangkan dalam pemilihan.

"Karena peraturan Ballon d'Or tak banyak berubah sejak kelahirannya, dan kriterianya sering menimbulkan perdebatan, kami merasa sudah selayaknya untuk menyegarkan kembali hierarki elemen konstituen dalam pemungutan suara demi menguatkan konsistensi dan kejelasan, serta menghindari ambiguitas."

"Ballon d'Or adalah penghargaan individual. Juga, logisnya, kriteria nomor 1 akan berfokus pada performa individual dan karakteristik mengesankan dari calon pemenang."

"Karena sepakbola tetap saja merupakan olahraga kolektif, kriteria nomor 2 akan berfokus pada penampilan kolektif dan catatan yang terakumulasi sepanjang musim."

"Terakhir, kriteria nomor 3 akan berfokus pada kelas pemain dan rasa fair play-nya, karena menjadi teladan juga berpengaruh."

"Anda mungkin menyadari hilangnya kriteria "riwayat karier pemain". Ini adalah cara untuk memastikan Ballon d'Or merupakan kompetisi terbuka alih-alih kompetisi yang melanggengkan itu-itu saja atau pelestarian."

Pemain Yang Pernah Memenangkan Ballon d’Or

Selain pemain-pemain elite dengan koleksi tiga Ballon d'Or atau lebih, Alfredo Di Stefano, Franz Beckenbauer, Kevin Keegan, Karl-Heinz Rummenigge, dan Ronaldo juga sudah memenanginya dua kali.

Stanley Matthews adalah penerima Ballon d'Or pertama pada 1956, sementara Raymond Kopa, Luis Suarez, Omar Sivori, Josef Masopust, Denis Law, dan Eusebio adalah pemenang dari 10 tahun pertama penghargaan tersebut.

Kiper legendaris Lev Yashin mendapatkan Ballon d'Or pada 1963, dan hingga saat ini menjadi satu-satunya penjaga gawang yang memenangi Bola Emas tersebut, sementara kebolehan Boby Charlton kala Inggris menjuarai Piala Dunia 1966 membuatnya jadi pemenang tahun tersebut.

Sejak saat itu, nama-nama seperti George Best, Gianni Rivera, Gerd Muller, Oleg Blokhin, Allan Simonsen, Paolo Rossi, Igor Belanov, Ruud Gullit, Lothar Matthaus, Jean-Pierre Papin, Roberto Baggio, Hristo Stoichkov, George Weah, Matthias Sammer, Zinedine Zidane, Rivaldo, Luis Figo, Michael Owen, Pavel Nedved, Andriy Shevchenko, Fabio Cannavaro, Kaka, dan Luka Modric juga turut menggoreskan namanya sebagai peraih Ballon d'Or.
 

Tag : #ballon d or    #fifa    #lionel messi    #indonesia    #sepakbola    #uefa    #cristiano ronaldo   

Baca Juga