9,9 Juta Anak Muda Indonesia tergolong Kategori NEET, Apa Maksudnya?

Ilustrasi anak muda Indonesia yang tergolong NEET (Foto: PARBOABOA/ Defri)

PARBOABOA, Jakarta - Keberadaan anak muda Indonesia semakin memperhatikan dari hari ke hari.

Gaya hidup konsumersitis, hedonis, dan keterjebakan dalam relasi seksual yang tidak sehat menjadi fenomena yang sering dijumpai.

Risikonya, pendidikan mereka terhambat. Mereka sulit untuk meraih masa depan yang cerah.

Terkini, data dari Badan Pusat Statistik (BPS) menyebut, terdapat 9,9 juta atau 22,25% dari total anak muda Indonesia yang berusia 15 sampai 24 tahun (Gen Z) tidak sedang memiliki kegiatan apapun.

Mereka tergolong dalam kategori NEET (not in employment, education, and training) atau generasi yang tidak memiliki pekerjaan, pendidikan, dan pelatihan.

NEET adalah istilah untuk menyebut kelompok pemuda yang termasuk angkatan kerja, tetapi dalam keseharian tidak bekerja atau menganggur.

Kelompok ini termasuk mereka yang telah menamatkan pendidikannya, namun belum memiliki pekerjaan yang jelas. Mereka tergolong penganggur muda.

Selain itu, NEET juga termasuk kelompok anak muda yang tidak sekolah atau tidak sedang mengikuti suatu pelatihan tertentu.

Terakhir, mereka bukan tergolong angkatan kerja. Dengan kata lain, dalam keseharian, mereka hanya bertugas mengurus rumah tangga.

BPS menjelaskan, NEET umumnya disebabkan oleh sejumlah hal, seperti ketidaksesuaian antara pendidikan dengan lapangan pekerjaan atau kebutuhan industri.

Persoalan tersebut masih bisa dirunut, misal dengan menilai minimnya pelatihan kerja. Mereka yang telah tamat sekolah terpaksa menganggur karena tidak ada pelatihan kerja. 

Di pihak lain, ketidaksetaraan kesempatan menjadi persoalan tersendiri. Perempuan termasuk kelompok yang rentan mengalami persoalan tersebut.

Selain perempuan, risiko lebih tinggi juga dialami kaum disabilitas. Dengan keterbatasan yang dimiliki, mereka kerap dinomorduakan atau bahkan disepelekan dalam urusan kerja.

Selanjutnya, pengalaman kerja yang minim juga menjadi persoalan krusial. Para remaja yang minim pengalaman kerja susah untuk diterima sebuah perusahaan. 

Beberapa perusahaan bahkan secara ketat membuat standar bahwa hanya mereka yang telah memiliki pengalaman kerja yang layak mengajukan lamaran kerja.

Pertanyaannya adalah, bagaimana membantu anak muda Indonesia untuk keluar dari kategori sebagai orang yang tidak bekerja, tidak berpendidikan, dan tidak berpengalaman?

Kerja Kolaboratif sebagai Solusi

NEET dipandang sebagai 'bom waktu' yang mengancam stabilitas sosial-politik, bonus demografi, dan keberlanjutan ekonomi suatu negara. 

Jika tidak segera diatasi, masalah ini dapat mengakibatkan gejolak sosial dan menghambat pertumbuhan pemuda yang kompeten dan produktif.

Untuk mengatasi persoalan tersebut, diperlukan langkah-langkah yang komprehensif dan terpadu agar anak muda Indonesia mampu merengkuh kembali masa depan mereka. 

Akademisi Anis H. Bajrektarevic dalam ulasannya tentang isu-isu demografi, ekonomi, dan sosial menguraikan sejumlah langkah praktis untuk keluar dari bahaya NEET.

Baginya, hal pertama yang perlu dilakukan adalah peningkatan pendidikan dan pelatihan keterampilan. Program-program ini harus dirancang sesuai dengan kebutuhan pasar kerja. 

Tujuannya adalah untuk meningkatkan kesempatan bagi anak muda untuk mendapatkan pekerjaan atau berwirausaha.

Selain itu, pemerintah khususnya Dinas Tenaga Kerja dan Industri (Disnaker) perlu meningkatkan pengembangan kewirausahaan bagi anak-anak muda Indonesia. 

Mereka perlu didorong dan didukung untuk menjadi wirausahawan dengan memberikan pelatihan, akses modal, dan infrastruktur yang dibutuhkan. 

Hal ini dibuat untuk membantu mereka dalam menciptakan lapangan kerja baru dan mengurangi tingkat pengangguran di masa depan.

Pemerintah juga harus memperkuat program magang. Tujuannya adalah memberikan pengalaman kerja yang berharga bagi anak muda dan membantu mereka dalam memperoleh keterampilan.

Lebih lanjut, layanan konseling karir perlu dilakukan untuk membantu anak muda memahami pilihan karir yang tersedia sesuai dengan minat dan potensi mereka.

Penguatan kerja sama antara pemerintah, industri, dan lembaga pendidikan juga diperlukan untuk membantu mengidentifikasi kebutuhan pasar kerja yang relevan dan efektif.

Terakhir, pemerintah dapat memberikan insentif kepada perusahaan-perusahaan yang mempekerjakan anak muda. 

Insentif seperti pemotongan pajak atau bantuan keuangan lainnya dapat membantu mendorong perusahaan untuk membuka lebih banyak lapangan kerja untuk anak muda.

Dengan menerapkan langkah-langkah ini, diharapkan jumlah anak muda yang tergolong NEET dapat berkurang dan masa depan bangsa Indonesia menjadi lebih cerah. 

Editor: Defri Ngo
TAG :
Baca Juga
LIPUTAN KHUSUS