parboaboa

Kinerja Manufaktur China Melemah, IHSG dan Mayoritas Bursa di Asia Menguat

Fika | Ekonomi | 03-07-2024

Ilustrasi Rupiah danmayoritas bursa di Asia menguat pada perdagangan hari ini. (Foto: PARBOABOA/Fika)

PARBOABOA, Medan – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan mata uang rupiah pada perdagangan hari ini relatif bergerak stabil dengan kecenderungan menguat selama sesi perdagangan.

Walau begitu, kinerja mata uang Rupiah dan IHSG cukup atraktif di sesi perdagangan kedua. Pada perdagangan hari ini mata uang Rupiah ditutup menguat di level 16.365 per US Dollar setelah sempat nyaris menyentuh 16.400 per US Dollar.

Sementara itu, IHSG ditutup menguat 1.01 persen di level 7.196,76. Pasar keuangan di tanah air pada umumnya tidak mengalami tekanan dari sikap Gubernur The FED yang cenderung bernada hawkish.

Pengamat Ekonomi Sumatera Utara, Gunawan Benjamin mengatakan masih ada ketidakpastian terkait dengan kebijakan bunga acuan The FED di tahun ini.

Pelaku pasar justru masih melihat bahwa The FED bisa saja urung menurunkan bunga acuan di tahun 2024 ini. Karena inflasi Amerika Serikat di tahun 2024 diproyeksikan masih akan berada di atas dua persen.

Sementara itu, data Caixin Composite PMI China yang mengalami penurunan ke level 52.8 pada bulan Juni justru menjadi kabar negatif bagi pasar keuangan di Asia.

Meski demikian, kinerja pasar keuangan di Asia masih mampu menguat. Karena data manufaktur China tetap pada jalur ekspansi, meskipun pelemahan data tersebut pada dasarnya tetap menjadi beban bagi pasar keuangan di Asia secara keseluruhan.

Di tengah minimnya agenda ekonomi, serta sikap The FED yang belum menunjukkan kepastian pada perdagangan hari ini.

Pelaku pasar akan kembali disuguhkan dengan data penting yang akan menjadi landasan kebijakan investasi selanjutnya.

“Data di akhir pekan nanti juga akan berpengaruh terhadap kinerja harga emas yang sejauh ini masih bertahan di kisaran 2.329 US Dollar per ons troy nya yang jika dirupiahkan harga emas ditransaksikan di angka Rp1.225 juta per gram nya,” jelas Gunawan Benjamin pada PARBOABOA, Rabu (03/07/2024).

Sebelumnya, Gunawan Benjamin menuturkan, pidato Gubernur The FED, Jerome Powell belum memberikan gambaran pasti terkait dengan kebijakan pemangkasan suku bunga acuannya di tahun ini.

Namun demikian, reaksi pasar sejauh ini juga masih terlihat datar. Bahkan, sejumlah bursa di Asia justru bergerak beragam.

Dengan masih banyak bursa yang mencatatkan kinerja positif pada sesi perdagangan pagi hari tadi.

Gubernur The FED menyatakan perlu banyak bukti sebelum memangkas suku bunga. Hal ini berarti data ekonomi AS yang akan dirilis menjadi pembuktian selanjutnya.

“Fokus pasar selanjutnya akan tertuju pada ketenagakerjaan, inflasi dan sejumlah data penting lain yang dinilai bisa memberikan gambaran terkait arah kebijakan The FED ke depan,” tutur Gunawan Benjamin.

Sementara itu, IHSG pada sesi awal perdagangan pagi ini ditransaksikan menguat di kisaran level 7.150.

Sementara mata uang Rupiah ditransaksikan menguat di level 16.380 per US Dollar nya. IHSG dan mata uang Rupiah sejauh ini tidak begitu terpengaruh dengan sikap The FED yang cenderung bernada hawkish.

Sejumlah indikator keuangan di AS seperti imbal hasil US Treasury 10 tahun dan USD Index justru mengalami penurunan dalam satu hari perdagangan terakhir.

Di sisi lain, harga emas juga terpantau bergerak stabil di kisaran 2.329 US Dollar per ons troy nya.

“Harga emas juga nyaris tak bergerak setelah pidato Gubernur The FED. Awalnya harga emas terpantau mengalami tekanan hingga ke level 2.300 US Dollar per ons troy nya. Namun, seketika tidak berbeda jauh dengan kinerja perdagangan sore kemarin,” tandasnya.

Editor: Fika

Tag: #IHSG    #Rupiah    #Ekonomi    #Manufaktur China   

BACA JUGA

BERITA TERBARU