parboaboa

Bacaleg Perempuan Pematang Siantar Ingin Ubah Pemikiran Masyarakat Akan Politik Uang di Pileg 2024

Halima | Daerah | 06-07-2023

Samro Himtihani Nasution (39), perempuan asal Pematang Siantar, Sumatra Utara yang juga bakal calon anggota legislatif (bacaleg) dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). (Foto:PARBOABOA/Halima)

PARBOABOA, Pematang Siantar – Politik uang atau money politic berkaitan erat dengan proses pemilihan anggota legislatif tak terkecuali di Pemilihan Legislatif 2024 mendatang.

Namun hal tersebut tidak berlaku bagi Samro Himtihani Nasution (39), perempuan asal Pematang Siantar, Sumatra Utara yang juga bakal calon anggota legislatif (bacaleg) dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).

Mengubah pemikiran masyarakat terhadap politik uang lantas menjadi motivasinya mengikuti proses pemilihan anggota legislatif.

“Kalo tidak dimulai dari diri kita sendiri yang berkeinginan membangun Kota Siantar ini, siapa lagi. Saya juga ingin merubah mindset (pola pikir, red) masyarakat terkait money politic. Apalagi masyarakat sekarang sudah sangat lekat dengan yang namanya money politic. Tapi saya pribadi akan mencoba untuk merubah image tersebut, karena jangan gara-gara duit, kita akhirnya memilih wakil rakyat yang kurang tepat,” katanya kepada PARBOABOA Kamis (6/7/2023).

Politik uang juga dihindari Samro di semua proses pemilihan anggota legislatif. Mulai dari pendaftaran hingga persiapan berkas-berkas untuk mendaftar sebagai bacaleg DPRD Pematang Siantar untuk daerah pemilihan (dapil) 1.

“Persiapannya tidak yang gimana-gimana ya, palingan hanya persiapan berkas-berkas yang diminta oleh KPU saja, dan juga minta dukungan keluarga besar. Untuk berkas-berkas kita pastikan sudah selesai karena kita dari awal juga tidak ada yang bermasalah waktu pemeriksaan di KPU,” jelas tenaga pendidik di salah satu sekolah tinggi swasta di Kota Pematang Siantar ini.

Samro mengaku hanya menghabiskan Rp500 ribu untuk biaya administrasi seperti membuat surat keterangan sehat jasmani dan rohani, bebas narkoba, bebas pidana dari pengadilan, dan lain-lain saat mendaftar ke KPU Pematang Siantar. 

 

Dana sebesar itu sebagian ia peroleh dari partai dan sebagian lagi dari dana pribadi.

“Ada yang dari partai dan ada juga dari dana pribadi saya,” jelasnya.

Samro berharap ia menjadi contoh rekan-rekan bakal calon anggota legislatif lain untuk tidak menggunakan politik uang, karena jika di awal saja sudah menggunakan uang atau dengan cara yang tidak baik, pasti hasilnya tidak akan baik.

“Jika bacaleg dari awal sudah banyak mengeluarkan uang, akhirnya ketika sudah memegang jabatan pasti tidak akan fokus lagi terhadap program kerja dan lebih mementingkan kepentingan pribadinya,” ujarnya.

Sebagai bacaleg, Samro berharap peran perempuan di dunia politik semakin terakomodir. Apalagi Samro juga berkeinginan membangun jiwa dan pemikiran perempuan di Pematang Siantar untuk maju dan tidak melulu tentang pekerjaan rumah tangga.

“Di zaman sekarang ini, perempuan sudah sangat maju, hampir setara dengan laki-laki. Namun masih ada juga perempuan yang masih mengalami ketertinggalan. Tujuan saya, saya ingin meningkatkan derajat perempuan yang masih tertinggal. Walaupun sebenarnya kesetaraan gender laki-laki dan perempuan tidak bisa disamakan,” jelasnya.

Ia juga yakin bacaleg perempuan, terutama generasi muda memiliki ide-ide yang menarik dan inovatif. Meski begitu, Samro mengaku belum melakukan sosialisasi di daerah pemilihannya, karena saat ini masih tahap awal Pileg 2024.

“Nunggu hasil dari KPU dulu, baru saya berani mengambil langkah untuk sosialisasi menyeluruh. Untuk saat ini, masih keluarga dan rekan-rekan terdekat saja dulu,” ungkap Samro.

Selain Samro, ada Gina (53), bacaleg perempuan lain yang bertarung untuk tingkat DPRD Kota Pematang Siantar yang akan berjuang meraih suara terbanyak tanpa menggunakan politik uang.

“Saya akan berusaha untuk tidak terlibat dalam pembodohan terhadap masyarakat. Seharusnya Kita membangun pola pikir yang baik terhadap masyarakat,” ujar bacaleg Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dapil 2 Pematang Siantar.

Menurut Gina, jika seorang bacaleg melakukan politik uang, maka otomatis orang tersebut tidak akan fokus pada tujuan awal mewakili masyarakat Kota Pematang Siantar, tapi lebih ke kepentingan pribadinya.

“Seperti memulangkan modal awal yang sudah dikeluarkannya,” katanya.

Gina hanya berpendapat dengan kejujuran, maka ia bisa memperoleh hasil yang baik, karena hal yang menjadi tujuan awalnya maju sebagai bacaleg PKB.

“Itulah pentingnya melakukan suatu hal dengan kejujuran, pastinya hasilnya akan baik. Begitu juga dengan melakukan suatu hal dengan curang, pasti hasilnya tidak akan baik. Sudah banyak contoh yang kita lihat dari pimpinan sebelumnya,” jelas.

Gina yang juga penjual madu online dan offline ini mengaku dirinya hanya akan mengandalkan dukungan dari lingkungan keluarga dan pertemanannya, termasuk dukungan dari Yayasan Lentera Mualaf Indonesia untuk memenangkannya di Pileg 2024.

“Saya sudah siapkan simpul-simpul untuk sosialisasi, namun tidak bisa saya beritahu karena ini rahasia,” kata perempuan yang telah menghabiskan biaya sekitar Rp1,5 juta untuk proses pengurusan administrasi Bacaleg ke KPU Pematang Siantar itu.

Gina juga mengaku ingin memajukan dan mensejahterakan perempuan di Kota Pematang Siantar, jika ia terpilih menjadi wakil rakyat. Apalagi belakangan, kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) dan kekerasan seksual dengan perempuan sebagai korban marak terjadi.

"Karena walaupun banyak perempuan Independent (mandiri), namun masih banyak juga perempuan yang tertindas. Sehingga kesetaraan gender perlu lebih ditegakkan untuk membangun pola pikir perempuan agar lebih berani dan maju. Termasuk membangun kreatifitas perempuan untuk lebih berani," pungkas dia.

Editor: Kurnia

Tag: #bacaleg    #pileg 2024    #daerah    #politik uang    #kdrt    #berita sumut   

BACA JUGA

BERITA TERBARU