Ironi Belimbing Depok: Ikon Kota yang Tergilas Pembangunan

Tugu belimbing di Jalan Raya Pasir Putih, Sawangan, Kota Depok. (Foto: PARBOABOA/Muazam)

PARBOABOA - "Kalau Depok ini ikon kotanya belimbing, sekarang lihat sepanjang Jalan Margonda, apa ada yang jual belimbing?" pertanyaan bernada sumbang itu dilontarkan Nurdin (55) di tengah perbincangannya dengan Parboaboa pada suatu siang yang terik pertengahan Agustus lalu.

Jalan Margonda yang ia maksud merujuk pada salah satu jalur arteri tersibuk di Kota Depok, Jawa Barat. Letaknya hanya sekitar 100 meter dari kebun belimbing yang dikelola Nurdin. 

Dia adalah salah satu petani belimbing yang tersisa di sekitar Kelurahan Pondok Cina, Kecamatan Beji, Kota Depok. Di Pondok Cina kini tinggal tersisa tiga titik lahan kebun belimbing yang masih produktif. 

"Di bantaran kali Ciliwung aja udah nggak ada," timpal Nurdin. Dulu, kondisinya jauh berbeda. Sejauh mata memandang terhampar pohon belimbing. 

Nurdin mengenang, pohon belimbing pasti ada di pekarangan setiap rumah. Kebun belimbing juga membentang dari lokasi kebun yang digarapnya hingga ke Jalan Margonda. 

Kini wajah kawasan itu telah bersalin rupa menjadi bangunan beton hunian apartemen, kos-kosan, dan kontrakan. Lahan belimbing di Pondok Cina pun kian hari makin menyusut. 

Kelurahan Pondok Cina merupakan salah satu lokasi dengan pertumbuhan terpesat di Kota Depok. Hal ini tak lepas dari posisinya yang strategis, tidak jauh dari kampus Universitas Indonesia dan Universitas Gunadarma. 

Penyempitan lahan kebun belimbing tak cuma terjadi di Kelurahan Pondok Cina. Hal serupa juga terjadi di kelurahan lain.

Luasan kebun belimbing di Kota Depok tahun 2013 tinggal 50 hektare. Tahun 2017 angkanya turun lagi menjadi hanya 36 hektare. Tahun ini luasnya diperkirakan lebih kecil lagi. 

Penyusutan ini cukup drastis. Sekitar periode 2000-an, diperkirakan ada 160 hektare lahan kebun belimbing. Nasib komoditas yang menjadi ikon kota ini pun di ujung tanduk. 

Sebuah survei pada tahun 2017 bahkan mendapati hanya 2 persen warga yang tahu ikon belimbing Depok. Sempat muncul wacana pemerintah kota akan mengganti ikon kota dari belimbing dengan komoditas lain. 

Belimbing sendiri ditetapkan sebagai ikon Kota Depok pada 21 Juni 2009 ketika Depok masih dipimpin Wali Kota Nur Mahmudi Ismail. Varietas belimbing dewa bahkan menjadi unggulan Kota Depok berdasarkan keputusan Menteri Pertanian Nomor 718/Kpts/TP.240/8/98.

Bagi petani, periode pertengahan 2000-an hingga pertengahan 2010-an bisa dibilang puncak kejayaan belimbing di Kota Depok. Pemerintah kota sampai mengembangkan kawasan agrowisata belimbing di Kelurahan Pasir Putih, Kecamatan Sawangan. 

Di sana berdiri pabrik pengolahan belimbing. Namun kini kondisinya mangkrak terbengkalai. "Tahun 2014 sudah mulai vakum," kata Saproni (48), petani belimbing di Kampung Kekupu, Kelurahan Pasir Putih. 

Menurut Wali Kota Depok Muhammad Idris, pabrik belimbing di Kelurahan Pasir Putih tengah ditata ulang. “Karena sempat ada masalah di barang-barang hibah dari Pemprov Jabar,” kilahnya. 

Pemerintah Kota telah meminta Institut Pertanian Bogor mengkaji rencana tersebut pada 2017. Hanya saja, hingga kini realisasi tindak lanjutnya jauh panggang dari api. 

Bangunan bekas pabrik pengolahan jus belimbing di Pasir Putih, Sawangan, Kota Depok. (Foto: PARBOABOA/Muazam)

Harry Adam Fauzi Kepala Seksi Pertanian, Dinas Ketahanan Pangan Pertanian dan Perikanan Kota Depok memberikan penjelasan soal nasib agrowisata belimbing. Fasilitas yang terletak di Pasir Putih, menurutnya, merupakan program percontohan dari kepala dinas yang lama. 

Saat ini kondisi proyek percontohan dinilai tidak lagi memadai. Pemerintah kota berencana membuat agrowisata yang lebih besar, skalanya seperti Taman Buah Mekarsari, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. 

Nasib pusat koperasi di Kelurahan Pasir Putih yang mengolah dan memasarkan produk belimbing para petani pun setali tiga uang dengan pabrik pengolahan.
 
Berdasarkan keterangan Harry, umur koperasi tersebut relatif singkat, hanya dalam rentang 2007-2010. 

Pada periode 2000-an kelompok tani belimbing banyak bermunculan di Depok. Mereka berinisiatif mengolah komoditas tersebut menjadi berbagai produk turunan seperti jus, dodol, dll. 

Sejumlah kelompok tani kini tinggal nama. Harry mengakui situasi tersebut.

Ia menyebut, terdapat 28 kelompok tani dengan 788 anggota tahun 2017. Makin ke sini jumlahnya tinggal 17 kelompok yang masih aktif pada 2023. Banyak kelompok tani yang sudah tidak aktif. 

Jumlah kelompok tani juga bisa menjadi indikator jumlah petani belimbing yang tersisa di Kota Depok. Rata-rata tiap kelompok tani terdiri dari 10-15 orang, atau bisa lebih. 

Saat ini, terdapat 642 orang petani belimbing yang tercatat oleh Dinas DKP3. Pemkot mengaku kesulitan mendata jumlah riil petani belimbing yang masih aktif. 

Pasalnya, hanya mereka yang tergabung pada kelompok tani saja yang bisa terdata.

"Data petani yang perorangan kami tidak ada. Hanya ada yang ikut kelompok tani saja," ia berujar.

Tersisa di Enam Kecamatan 

Tak cuma penurunan dari segi jumlah, sebaran petani belimbing di Kota Depok juga tak lagi merata. Pada 1999, tutur Harry, semua kecamatan di Kota Depok punya petani belimbing. 

Sekarang yang tersisa hanya di Kecamatan Sawangan, Pancoran Mas, Cipayung, Cimanggis, Pondok Cina, dan Tapos. 

"Tapi yang terbesar jumlahnya ada di Sawangan dan Pancoran Mas," papar Harry. Para petani tersebar di 16 kelurahan dari total 63 kelurahan di Kota Depok. Itu pun berdasarkan hasil survei pada 2017. Jumlahnya saat ini bisa jadi lebih sedikit.

Harry Adam menunjukkan data jumlah produksi belimbing di komputer DKP3. (Foto: PARBOABOA/Muazam)

Petani belimbing di Depok saat ini umumnya merupakan generasi kedua. Mereka melanjutkan mengolah kebun warisan dari orang tua. 

Belimbing diperkirakan masuk ke Depok di awal tahun 80-an. Sebagian besar lahan pada saat itu biasa ditanam tanaman buah lain.

Pohon belimbing yang bisa panen 4-5 kali setahun membuat banyak warga Depok tergiur menanamnya.  Bibit diperoleh mereka dari Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Sejak periode itu, budidaya belimbing di Depok menjamur. 

Beberapa varietas yang dibudidayakan yakni belimbing dewa, belimbing dewi, belimbing kapur, dll. Nama yang disebut pertama merupakan jenis yang khas di Kota Depok, hasil perkawinan silang varietas dewi dengan varietas lain. 

Penyusutan lahan belimbing bermuara pada penurunan jumlah produksi. Di tahun 2018 jumlah produksi belimbing Kota Depok sebesar 4.738 ton, kemudian anjlok di tahun 2019 menjadi 1.355 ton.

Di tahun 2020 angkanya kembali merosot menjadi 994 ton. Pada tahun 2021 produksi sempat naik menjadi 2.458 ton. Tapi di tahun 2022 angkanya kembali turun jadi 2.261 ton, dan di tahun 2023 pada triwulan kedua mencapai 1.018 ton.

Tak bisa disangkal bahwa penurunan jumlah petani belimbing salah satunya disebabkan perpindahan tangan atau alih fungsi lahan. Ketika petani menjual tanahnya, praktis mereka pun beralih profesi. 

Harry menilai fenomena itu merupakan sisi tak terelakan dari pembangunan. Kota Depok kini menjadi kota yang tumbuh dengan pesat seiring perluasan pusat pertumbuhan dari Jakarta. 

Harga tanah di Depok kian melambung. Pemilik lahan belimbing akhirnya memilih menjual lahannya ketimbang bertahan membudidayakan belimbing. 

Terlebih, sebagian wilayah Depok masuk dalam proyek strategis nasional. Pembangunan Tol Desari (Depok-Antasari), misalnya.
 
Banyak lahan terkena dampak. Petani pun tergiur tingginya harga tanah yang dengan adanya akses tol melonjak lima kali lipat.  

"Itu tantangan terberat kami. Karena kami nggak bisa menahannya kan, itu hak milik mereka," ujar Harry. 

Komoditas Belimbing Tak Lagi Ekonomis

Di sisi lain, budi daya belimbing dinilai tidak lagi menguntungkan secara ekonomi. Petani yang Parboaboa temui punya keluhan seragam: biaya produksi belimbing sangat tinggi. 

Pos pengeluaran umumnya digunakan untuk membeli bibit, pupuk, pestisida, hingga plastik pembungkus belimbing untuk melindungi dari hama. Ongkos produksi bisa membengkak bila petani menggunakan jasa orang lain untuk membungkus belimbing yang biayanya Rp 200 per buah. 

Pengeluaran petani akan bertambah lagi bila musim hujan tiba. Pohon belimbing perlu asupan kalium untuk menjaga kualitas buah yang dihasilkan. Itu sebabnya, petani belimbing harus betul-betul kuat modal. 

"Kalau belimbing nggak punya modal cukup nggak usah, nanggung jadinya malah hancur karena itu persiapannya banyak; dari pupuk, pestisida, pembungkus, dan pekerja stand by," kata Saproni.

Saproni memetik pentil belimbing yang tak terbungkus. (Foto: PARBOABOA/Muazam)

Sebagai contoh, Saproni yang punya 15 pohon belimbing di kebunnya perlu merogoh kocek modal awal Rp 5 juta per musim panen.

Semula Saproni punya 30 pohon di atas tanah seluas 800 meter persegi. Akan tetapi, karena kurang produktif 15 pohon belimbing ia ganti dengan pepaya dan jambu.    

Dari buah belimbing yang tumbuh, rata-rata petani hanya bisa memanen 50 persennya saja. Sisanya kebanyakan busuk atau jatuh dari pohon. 

Dari seribu buah yang dihasilkan kebun, Saproni bisa memanen 5 kuintal. Bila peruntungan sedang bagus, petani bisa memanen 3-5 kali dalam satu tahun. Kalau lagi apes, panen hanya bisa dilakukan dua kali. 

Setelah panen, petani juga harus memutar otak urusan pemasaran hasil produksi. Saproni biasanya menjual ke tengkulak antara Rp 8-10 ribu per kilogram. 

Dari para tengkulak, belimbing Saproni di distribusikan ke Bekasi atau Tangerang. Sementara itu, belimbing yang tidak habis disalurkan ke tukang sayur atau tukang buah di sekitar kebun. Mereka biasanya membeli paling banyak 10 kilogram. 

"Kalo ngecer harganya lebih mahal, saya jual Rp15 ribu per kilo. Kadang tetangga beli ngecer, sekilo atau dua kilo," ucap Saproni.

Harga belimbing biasanya jatuh bila panen raya. Pasokan yang membanjiri pasar membuat harga anjlok hingga Rp 5 ribu per kilogram. 

Menjual ke tengkulak dan pedagang buah juga jadi opsi yang dipilih Amin Liman (70) petani belimbing di Cimanggis. 

"Kadang-kadang saya suka bingung, ke mana ya masarinnya. Tukang buah kan nggak bisa banyak-banyak, udah gitu lakunya juga lama, seminggu mereka baru habis," keluhnya.

Usianya yang sudah uzur membuat Amin tak punya banyak pilihan. Waktu masih muda, dia biasa mengantar sendiri hasil panen ke tukang buah ke daerah Jakarta Timur. 

Amin Linan sedang membersihkan belimbing busuk di kebunnya. (Foto: PARBOABOA/Muazam)

Kebetulan Amin punya pekerjaan utama sebagai pegawai negeri sipil. Uang hasil kebun belimbing dia tabung. Berbekal hal itu Amin bisa menguliahkan anak dan naik haji bersama istrinya. 

Bagi petani, status belimbing sebagai ikon Kota Depok tidak berdampak apa-apa. Para petani juga merasa sendirian membudidayakan belimbing dari hulu ke hilir. 

"Depok ikon doang kota belimbing tapi giliran kita metik susah masarinnya, kita-kita juga yang masarin sendiri. Segala-galanya kita sendiri dah," kata Amin dengan logat Betawi-Depok kentalnya.

Sejumlah petani yang ditemui Parboaboa kesulitan mendapat akses terhadap bantuan pemerintah kota. Mereka mengaku hanya pernah mendapat bantuan pupuk dan pemberantas hama. 

Tapi itu terjadi sudah lama sekali. Bantuan yang diterima pun tidak berkelanjutan dan bisa dihitung dengan jari. 

Harry Adam Fauzi mengakui pemerintah kota punya keterbatasan dalam menjangkau petani. Bantuan selama ini hanya diberikan melalui kelompok tani, sesuai dengan peraturan Kementerian Pertanian. 

"Karena kalau perorangan nggak efektif kan," ucapnya. 

Hal itu juga berlaku di aspek bantuan pemasaran hasil produksi belimbing. 

Distribusi belimbing Kota Depok memang masih terbatas. Nurdin membandingkannya dengan apel dan mangga. 

Dua jenis buah tersebut tersebar ke mana-mana dengan merata. Di belahan Indonesia mana pun, apel dan mangga tidak sulit untuk ditemukan. 

Para petani berharap belimbing sebagai ikon Kota Depok tidak hanya sekadar pemanis di mulut. Hingga saat ini belum ada asosiasi erat di benak masyarakat terhadap Kota Depok dan belimbing. 

Nasibnya berbeda dengan Kota Malang dengan komoditas apel. Masyarakat akan dengan mudah mengidentikan apel dengan Kota Malang. 

Pamor belimbing Depok terancam makin redup. Kurangnya regenerasi petani menjadi pangkal masalah. 

Bercocok tanam belimbing butuh keahlian khusus mulai dari pemangkasan pohon, pembungkusannya buah, penyemprotannya, hingga penanggulangan hama. Sementara anak muda di Depok tidak melirik petani belimbing sebagai profesi menjanjikan. 

Nasib kebun belimbing Amin Linan bisa menggambarkan kondisi tersebut. Ia telah memberikan lahan kebun kepada anak-anaknya. 

Sepanjang bidang tanah itu belum digunakan anaknya, Amin masih akan mengelola kebun belimbing di sana. Tapi kecil peluang eksistensi kebun belimbing tersebut terus berlanjut di masa depan.

Anak-anak Amin merupakan pekerja kantoran. Sementara dia mengaku sudah kepayahan mengelola kebun belimbing di usia senja.   

"Ini memang lahan warisan buat anak-anak, jadi kapan pun mau dibangun anak (jadi rumah-red), ya saya kasih," katanya. Ketika saat itu tiba, akan berkurang lagi lahan kebun belimbing di Kota Depok. 

Reporter: Achmad Rizki Muazam

Editor: Jenar
TAG :
Baca Juga
LIPUTAN KHUSUS