Harga Jagung Melejit, Peternak Ayam dan Telur Merugi

Ilustrasi peternak ayam dan telur mandiri yang terus merugi akibat kenaikan harga jagung. (Foto: PARBOABOA/Yohana)

PARBOABOA, Medan – Belakangan ini, harga jagung mengalami peningkatan yang cukup tajam. Pada Oktober 2023 lalu, harga per kilogramnya masih di kisaran Rp6.000.

Namun hari ini, Jumat (16/2/2024), jagung pipil sudah mencapai Rp7.700 per kilogram, sementara jagung giling berada di angka Rp8.000 per kilogram.

Menurut Gunawan Benjamin, Pengamat Ekonomi asal Sumatra Utara, kenaikan ini memberikan tekanan pada peternak ayam daging dan telur, terutama yang beroperasi secara mandiri.

Mereka terus mengalami kerugian akibat biaya produksi yang meningkat tanpa diikuti oleh kenaikan harga jual daging ayam di pasaran.

Jika dilihat dalam empat bulan terakhir, harga daging ayam di pasaran sempat berfluktuasi antara Rp23.000 hingga Rp32.000 per kilogram.

Sementara saat ini, berdasarkan Pantauan Harga Pangan Strategis (PIHPS) di Kota Medan, harga daging ayam berkisar antara Rp30.000 hingga Rp32.000 per kilogram.

Menurutnya, ketika harga jagung masih berada di kisaran Rp6.000, harga kontrak di kandang sudah mencapai Rp21.000 per kilogram, dengan harga jual eceran berkisar Rp31.000 hingga Rp33.000 per kilogram.

Namun, kenaikan harga jagung baru-baru ini tidak serta merta mendorong kenaikan harga daging dan telur ayam.

Berdasarkan pantauan di pasar, harga pakan ternak naik sekitar Rp500 per kilogram dalam dua bulan terakhir, tetapi harga daging ayam tetap stabil di angka Rp32.000.

“Kita mengkhawatirkan bagaimana nasib peternak mandiri nantinya. Karena mereka yang paling terdampak dengan kenaikan biaya input produksi tersebut,” jelasnya kepada PARBOABOA, Jumat (16/2/2024).  .

Namun, menaikkan harga daging ayam juga bukanlah solusi, mengingat sensitivitas konsumen terhadap fluktuasi harga pangan.

Kenaikan ini berpotensi mendorong konsumen mencari alternatif pangan lain seperti telur, tahu, tempe, dan ikan segar.

Dari beberapa kali menghitung ekspektasi produksi, penurunan produksi juga tidak lantas memicu kenaikan harga di level konsumen.

Benjamin menilai, pasar daging ayam berpeluang membentuk struktur pasar oligopoli seperti yang disampaikan KPPU (Komisi Pengawas Persaingan Usaha) Sumut.

Tetapi mekanisme pasar yang membuatnya menjadi seperti itu. Perusahaan daging ayam terintegrasi memang berpeluang bertahan di tengah tekanan kenaikan biaya input produksi, dibandingkan dengan peternak mandiri.

“Jika nanti banyak peternak mandiri yang merugi atau bahkan gulung tikar karena kenaikan harga jagung dan menyisakan peternak besar (perusahaan) terintegrasi, maka itu bukan salah perusahaan.”

“Saya harap KPPU bisa mendalami lagi dinamika pasar yang berkembang belakangan ini, karena daya beli yang melemah membuat mekanisme pasar menyeleksi produsen efisien yang mampu bertahan,” tambahnya.

Pasar oligopoli adalah jenis pasar yang masuk dalam kategori persaingan tidak sempurna, di mana hanya ada beberapa perusahaan besar yang mendominasi industri atau sektor tertentu.

Perusahaan-perusahaan ini berkompetisi untuk memenangkan pangsa pasar yang besar, dengan jumlah pembeli yang umumnya banyak.

Oligopoli ditandai dengan situasi di mana kekuatan pasar secara signifikan berada di tangan sejumlah kecil perusahaan besar.

Meski demikian, pasar oligopoli menawarkan beberapa keuntungan. Salah satunya adalah kontrol atas harga yang lebih besar karena dominasi oleh beberapa perusahaan besar, memungkinkan penjual untuk mengatur harga dalam batas tertentu.

Ini bisa bermanfaat bagi konsumen, terutama jika terjadi perang harga.

Selain itu, persaingan dalam pasar oligopoli mendorong perusahaan untuk bersaing dalam hal inovasi dan kualitas produk, yang pada akhirnya dapat menghasilkan produk yang lebih baik untuk konsumen.

Persaingan antar perusahaan juga dapat meningkatkan efisiensi produksi dan mengurangi biaya operasional.

Editor: Yohana
TAG :
Baca Juga
LIPUTAN KHUSUS