Menara Pandang Dugul Simanindo: Pengelolaan yang Tak Seindah Pemandangannya

Potret Menara Pandang Dugul dan 5 buah gubuk di sekitarnya. (Foto: PARBOABOA/Ronald Sibuea)

PARBOABOA, Samosir - Dari arah Pelabuhan Simanindo, dua motor matic dengan empat gadis belia di atasnya tampak berhenti di bahu jalan. 

Tatapan mereka jelas, ke arah sebuah bukit dengan menara di atasnya.

Lebih kurang 3,7 km jarak tempuh, Caca, Rahelia, Zefanya, dan Oktia tiba untuk pertama kalinya di Menara Pandang Dugul Sinapuran, Desa Simanindo.

Mereka tiba dengan berbagai raut wajah. Sedih, senang, kaget, dan bahagia. Campur aduk.

“Pemandangannya mantap, Bang. Simanindo kan memang bagus,” celoteh Rahelia, si paling ekspresif diantara mereka berempat, Minggu (7/4/2024) lalu.

Hari itu, keempatnya datang dari Pasar Malintang, selepas Ibadah Gereja. 

Di area sekitar Menara Pandang Dugul mereka berswafoto - melakukannya secara berulang-ulang, mencari hasil jepretan terbaik. Mungkin untuk diaploud ke media sosial.

“Ayo, Ca. Sini,” ajak salah seorang dari mereka melihat Caca yang sedari tadi hanya duduk di sebuah gubuk.

Si paling pendiam, Caca, sedikit tertawa kala diajak rekannya itu untuk berfoto. Ia malu tatkala Tim Parboaboa datang dan mulai mengajak mereka bercerita.

“Banyak foto, nanti kalian hapus laginya. Cuma satu yang diupload,” balas Caca.

Landscape Danau Toba memang menawan. Keberadaan Menara Pandang Dugul, membuat danau yang terbentang luas kelihatan lebih menakjubkan.

Meski masih tertinggal dibanding Menara Pandang Tele, dengan segala cerita dan narasi yang disusun, namun tempat ini punya prospek yang juga tidak kalah menjanjikan.

Namun, seketika, Rahelia celingukan. Raut wajahnya yang bingung terlihat jelas. 

Sambil menggenggam bungkusan plastik jajan yang tak tahu harus dibuang ke mana, ia mengungkapkan kekecewaannya.

“Inilah kurangnya, Bang. Ga ada tempat sampah. Lihatlah ini, berserakan semua,” ungkapnya dengan nada kesal.

Kekecewaan yang sama disampaikan oleh Zefanya. 

"Bukan hanya itu, Bang. Penjaga di sini pun gak ada, parkir gak ada, menaranya ditutup, kek mana mau naik ke atas.” 

Di tengah asik bercakap-cakap, Rahelia kembali menyalakan ponselnya untuk mengabadikan pemandangan sekitar.

Kata dia, ia ingin foto-foto ini membuat cemburu teman-teman mereka yang tidak turut serta dalam perjalanan tersebut.

Menara Pandang Dugul memang seperti tidak dirawat. Pos penjaga yang diisi oleh anak muda kampung tampak hanya sekedar duduk-duduk saja. Tak ada aktivitas.

Menara yang menjulang tinggi, juga tak lagi kelihatan megah karena catnya mulai terlihat kotor meski baru saja diperbaiki.

Sementara itu, di atas bukit, terdapat 5 gubuk kayu yang dibangun sebagai tempat duduk santai.

Fisik bangunan yang kokoh menandakan tempat-tempat tersebut baru saja dibangun. Di sini, Caca, Rahelia, Zefanya, dan Oktia menyisihkan waktu mereka untuk bersantai-santai.

Dari Menara Pandang Dugul, Tim Parboaboa beranjak menuju kampung Huta Sinapuran, persis di belakang bukit menara pandang. 

Informasi mengenai Kampung ini kami peroleh dari seorang Ibu yang ditemui saat hendak pergi ke warung.

Sesaat kemudian, kami tiba Di Desa Sinapuran. 

Di sana, jejeran Jabu Bolon (rumah adat Batak Toba) seolah-olah seperti menyambut kami. Persis, di sinilah, warga lokal pengelola Menara Pandang Dugul tinggal. 

“Sebenarnya, pengelola resminya ini BUMDES (Badan Usaha Milik Desa),” kata seorang warga, Gilbert Sihaloho.

Gilbert menjelaskan, warga Huta Sinapuran sebenarnya hanya pernah dimintai untuk membantu mengelola menara, yang konon diproyeksikan menjadi salah satu wisata unggulan daerah tersebut.

Mengaku baru saja bangun dari istirahat siang, Gilbert memberi penjelasan yang cukup detail.

Nada suaranya seolah menyimpan begitu banyak harapan soal menara pandang.

Kata dia, sejak berdiri dan dibuka resmi tahun 2016, siapa saja bebas masuk dan menikmati Menara Pandang Dugul. 

Awalnya, para warga yang terlibat menjaga dan mengelola hanya mengenakan tarif seikhlasnya sebagai partisipasi menjaga kebersihan.

Tetapi dalam perjalanannya, hal itu, “Dang jelas! (Tidak jelas!)."

Dalam bahasa Bahasa Batak Toba, ia terus mengungkapkan kekesalannya terhadap pengelolaan menara tersebut.

Pengelolaan oleh warga, terang dia, hanya berlangsung selama dua tahun hingga akhirnya berhenti. Hal itu disebabkan karena warga tak kunjung mendapat kepastian soal upah.

Belum lagi, para wisatawan asing yang tidak peduli ketika dimintai biaya kebersihan. Gilbert mengakui, bahwa para bule ini tidak mau membayar karena tidak adanya tiket resmi.

“Kami gak mau dibilang pungli (pungutan liar). Kejelasan kami gimana? Pembagian hasil kah? Dikasih upah kah?” kata Gilbert sembari menyalakan api rokoknya.

Sambil menatap ke arah menara, ia menaruh harapan besar kepada pihak terkait untuk segera memberi kepastian kepada mereka.

“Kalau pengelolaannya ini jelas, bisalah warga buka warung untuk usaha, tambah penghasilan warga. Ada pemasukan,” sambungnya.

Menara Pandang Dugul sendiri sempat mendapat perhatian dari Pemerintah Provinsi Sumatera Utara (Sumut).

Namun itu hanya sebatas pemasangan nama 'SIMANINDO', pemberian teropong, dan pembangunan 5 buah gubuk. 

Untuk teropong, saat ini  tidak lagi ditempatkan di menara, takut hilang akibat tidak adanya penjaga dan pengelola. 

“Songon on do, lae… (Seperti ini, saudara…)”

Gilbert menegaskan, pengelolaan Menara Pandang Dugul membutuhkan keseriusan dan mesti memberi keuntungan bagi masyarakat.

“Siapalah yang mau kerja tapi ga dapat apa-apa?” cetusnya.

Kalau tidak ada tiket masuk, "minimal kawan yang menjaga dikasih upah lah,” sambungnya.

Editor: Gregorius Agung
TAG :
Baca Juga
LIPUTAN KHUSUS