Sejauh Mana Teknologi AI Tingkatkan Layanan Kesehatan di Indonesia?

Menteri Kesehatan RI, Budi Gunadi Sadikin saat menjadi pembicara di acara Google AI untuk Indonesia Emas. (Foto: Dokumen Kemenkes)

PARBOABOA, Jakarta - Teknologi AI atau kecerdasan buatan mulai diandalkan untuk memudahkan pekerjaan manusia di hampir semua sektor.

Di sektor kesehatan, misalnya. Ada optimisme, teknologi AI bisa menciptakan layanan yang semakin humanity sekaligus memberikan dukungan kesehatan yang lebih akurat. 

Menteri Kesehatan (Menkes) RI, Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan, ke depan, AI harus digunakan lebih maksimal termasuk untuk mendeteksi bagaimana sistem tubuh bekerja secara alamiah.

Di dunia kedokteran kata dia, AI sebenarnya bisa membantu pekerjaan para dokter untuk mendeteksi penyakit tidak menular seperti penyakit jantung dengan lebih mudah, cepat, dan presisi.

Menurut dia, dalam waktu yang tidak terlalu lama lagi, mendeteksi penyakit jantung menggunakan stetoskop akan segera ditinggalkan dan ganti dengan AI.

Ia mengatakan, saat ini mendeteksi penyakit menggunakan metode konvensional semakin tidak akurat lagi. 

"Menurut saya ini tidak ilmiah, bagaimana mungkin dokter tahu kalau itu penyakit jantung hanya dari suaranya," kata Budi Gunadi saat menghadiri acara 'Google AI untuk Indonesia Emas' di Jakarta, Senin (3/6/2024).

Budi Gunadi menjelaskan, bagaimana transformasi teknologi berkontribusi membantu mendeteksi penyakit jantung seperti  adanya elektrokardiografi untuk mengetahui pergerakan grafiknya. 

Setelah itu, berkembang lagi dengan kemunculan teknologi CT Scan yang bisa mendeteksi penyakit jantung dengan melakukan scan pada dada. 

Kemudian, yang terbaru, ada pemeriksaan gen untuk mengetahui mutasi gen dalam tubuh yang dapat menyebabkan penyakit jantung.

"Ingin saya katakan, teknologi AI ini akan mengubah sektor kesehatan secara besar-besaran," kata Menkes Budi Gunadi.

Dia menjelaskan, pemanfaatan AI di bidang kesehatan sebenarnya bukanlah hal yang baru di Indonesia. 

Pemerintah sendiri sebelumnya telah menggunakan teknologi WhatsApp untuk menyediakan layanan telemedicine saat pandemi COVID-19.

Juga, di saat yang sama, menyediakan layanan internet untuk Puskesmas di daerah terpencil menggunakan teknologi Starlink.

Ke depan, ia berharap google bisa membantu pemerintah untuk menyediakan layanan geotagging sehingga bisa membantu memetakan penyakit di daerah.

"Dengan begitu, saya percaya teknologi AI akan mengubah sektor kesehatan secara besar-besaran," kata Menkes Budi Gunadi.

Sementara itu, Direktur Hubungan Pemerintahan dan Kebijakan Publik Google Indonesia, Putri Alam mengungkapkan, Google berkomitmen penuh membantu Pemerintah Indonesia memaksimalkan digitalisasi layanan kesehatan di Indonesia.

Sejak bulan lalu tegasnya, Google telah berkolaborasi dengan Kemenkes untuk menerapkan AI dalam pelayanan kesehatan, seperti kemungkinan penerapan generatif AI dalam platform SATUSEHAT.

Dukungan ini kata Putri, sejalan dengan cetak biru Pemerintah Indonesia untuk transformasi digital dan inisiatif visi Indonesia digital tahun 2045.    

Sebagai informasi, penggunaan AI di Indonesia untuk semua sektor menyentuh angka 22,1 persen hingga akhir 2023.

Hal ini disampaikan secara langsung oleh Wakil Menteri (Wamen) Kominfo, Nezar Patria mengacu pada data Statista dan Kearney & CSET.

Data yang sama menyebut, pemanfaatan kecerdasan buatan di Indonesia akan berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi sebesar USD 366 Miliar pada tahun 2030.

Kominfo optimis, jumlah itu memberikan setara dengan 40 persen Pendapatan Domestik Brutto ASEAN yang meningkat dengan pemanfaatan AI.         

TAG :
Baca Juga
LIPUTAN KHUSUS