Ilustrasi

Sumbangan Kripto untuk Ukraina Tembus Rp 700 Miliar

Wanovy | Teknologi | 08-03-2022

PARBOABOA - Sumbangan dalam bentuk cryptocurrency seperti Bitcoin dan Ethereum terus mengalir ke Ukraina saat perang dengan Rusia memasuki minggu kedua.

Sejak Moskow menginvasi pada 24 Februari, lebih dari 102.000 sumbangan aset kripto, dengan total USD 54,7 juta atau sekitar Rp 776,5 miliar, telah diberikan kepada pemerintah Ukraina dan Come Back Alive.

Come Back Alive sendiri adalah sebuah LSM yang memberikan dukungan kepada militer, menurut data baru dari perusahaan analitik blockchain Elliptic.

Kenaikan tersebut termasuk sumbangan tunggal sebesar USD 5,8 juta dari Gavin Wood, pendiri cryptocurrency yang kurang dikenal bernama Polkadot.

Menurut catatan perusahaan analitik blockchain, Elliptic, selain dalam bentuk uang kripto donasi yang mengalir ke Ukraina juga dalam bentuk karya seni digital senilai 200.000 dollar AS (Rp 2,8 miliar).

Platform penukaran mata uang kripto, Kuna.io, mengatakan bahwa sebagian sumbangan kripto yang diterima Ukraina telah dikonversi ke mata uang Euro.

Dana tersebut kemudian dibelanjakan untuk membeli atribut perlengkapan perang seperti drone, rompi anti-peluru, kacamata tahan panas, hingga bahan bakar.

“Kami jelas tidak dapat membeli bom nuklir atau roket, namun, sebagian besar barang tidak mematikan bisa dibeli menggunakan mata uang kripto,” ungkap Chief Executive Kuna.io, Michael Chobanian.

Menurut Chobanian, Pemerintah Ukraina akan menukarkan dan membelanjakan uang hasil penukaran dari mata uang kripto yang kurang populer terlebih dahulu.

Sedangkan sejumlah cryptocurrency lain yang lebih bernilai, seperti Bitcoin dan Ether, akan disimpan karena dianggap lebih stabil.

Ukraina sendiri menerima sumbangan dalam bentuk mata uang kripto macam Bitcoin dan Ethereum sejak beberapa pekan lalu, ketika Rusia melakukan invasi kepada Ukraina.

Ukraina juga membuka donasi untuk mata uang kripto yang nilainya dipatok berdasarkan nilai mata uang dollar AS, yaitu United State Dollar Tether (USTD) atau biasa disebut Tether.

Seperti dikutip dari Bloomberg, sebagian besar donasi tersebut dalam bentuk Bitcoin dan Ethereum.

Adapun Kementerian yang beranggotakan 250 orang ini telah berhasil menemukan pemasok di Eropa dan AS untuk memenuhi berbagai kebutuhan mulai dari rompi, paket makanan, hingga perban dan perangkat penglihatan malam untuk tentara dalam waktu dua hari setelah Rusia menginvasi Ukraina pada 24 Februari 2022.

Sekitar 40 persen pemasok tersebut, kata Bornyakov, bersedia menggunakan kripto. Sisanya, biasanya dibayar dengan kripto yang dikonversi menjadi euro dan dolar.

Ia menyebutkan telah banyak perusahaan dan pendiri startup kripto telah menyumbangkan uang. “Sebagian besar sumbangan berasal dari orang-orang,” kata Bornyakov.

Tag : #kripto    #rusia    #ukraina    #perang    #invasi   

Baca Juga