Jembatan Panus Depok Jadi Saksi Bisu Kokohnya Bangunan Peninggalan Belanda

Badan Jembatan Panus dilewati kendaraan bermotor, Selasa (15/8/2023). (Foto: PARBOABOA/Muazam)

PARBOABOA, Depok – Jembatan Panus yang terletak di Jalan Tole Iskandar, Kota Depok, Jawa Barat menjadi saksi bisu akan kokohnya bangunan peninggalan Kolonial Belanda.

Jembatan sepanjang 100 meter dan lebar 5 meter itu masih berdiri kokoh menahan beban lalu-lalang kendaraan sejak zaman Hindia Belanda.

Konstruksi Jembatan Panus terbuat dari beton dengan bentuk melengkung di bagian bawahnya. Badan jembatan ditopang tiga benteng berukuran 15 meter, masing-masing di sisi kiri, tengah dan kanan.

Jembatan yang membentang di atas Sungai Ciliwung ini awalnya dibangun seorang insinyur Belanda bernama Andre Laurens pada tahun 1917, hingga selesai di tahun 1919.

Pembangunan jembatan megah pertama di Depok itu menelan biaya sebesar 35.600 gulden Belanda atau sekitar Rp2,6 miliar dalam kurs saat ini. Semua anggaran pembangunan jembatan ditanggung pemerintah Hindia Belanda di masa itu.

Dulu, Jembatan Panus menjadi akses penghubung antara sisi barat dan timur Sungai Ciliwung. Ia menjadi akses satu-satunya yang menghubungkan Cimanggis dengan Depok.

Di bawah kolong Jembatan Panus terhadap alat pengukur debit air sungai Ciliwung. (Foto: PARBOABOA/Muazam) 

Zaman itu, hanya ada dua jalur yang menghubungkan Batavia dengan Buitenzorg, atau Jakarta dengan Bogor. Jalur pertama, melalui Pasar Minggu, Lenteng Agung, Depok, Citayam, hingga Bogor. Sedangkan jalur kedua melalui Jatinegara, Cimanggis, Cibinong hingga Bogor. Saat ini jalur itu dikenal Jalan Raya Bogor.

Pada masa itu, jika ingin menyeberang dari jalan Depok yang berada di sisi barat menuju jalan Cimanggis di sisi timur Ciliwung, harus melewati Jembatan Panus.

“Penamaan jembatan Panus diambil dari nama Stevanus yang rumahnya berada tidak jauh dari jembatan tersebut,” ujar Ketua Komunitas Sejarah Depok atau Depok Heritage Community (DHC), Ratu Farah Diba kepada PARBOABOA, Selasa (15/8/2023).

Farah menjelaskan, Jembatan Panus menjadi andalan warga untuk menyeberangi Sungai Ciliwung dari sisi barat ke timur, di masa Hindia Belanda hingga Indonesia merdeka.

Hingga akhirnya pada tahun 1990, pemerintahan Presiden Soeharto membangun jembatan baru, yang letaknya tak jauh dari Jembatan Panus.

“Karena kondisi Jembatan Panus yang mulai mengalami beberapa kerusakan akhirnya dibuatkan jembatan baru yang berada di dekatnya,” ujarnya.

Jembatan baru yang dibangun era Orde Baru itu, kata Farah, ukurannya lebih luas dari Panus dan mampu dilalui dua bus sekaligus dari arah berlawanan. Jembatan itu kini menjadi akses jalan dari Depok Lama menuju Depok Timur.

Jembatan Panus nampak dari kejauhan difoto dari jembatan baru yang berdiri tahun 1990. (Foto: PARBOABOA/Muazam) 

Sementara Jembatan Panus masih digunakan warga untuk menuju perumahan Bukit Novo yang berada di sisi timur Ciliwung.

“Jembatan Panus telah menjadi Cagar Budaya Depok sejak 2019,” ucap Farah.

Warga Sebut Jembatan Panus Satu-satunya Akses Menyeberang ke Ciliwung

Warga yang tinggal dekat Jembatan Panus, Lidia Leander, mengenang masa jembatan peninggalan Belanda itu menjadi satu-satunya akses menyebrang Ciliwung bagi warga Depok.

"Dulu di sini masih jalan utama, dari Pasar Minggu, Depok menuju ke Bogor. Bus-bus miniarta yang coklat lewat sini," ujarnya kepada PARBOABOA.

Aliran Sungai Ciliwung yang berada tepat di bawah Jembatan Panus. (Foto: PARBOABOA/Muazam) 

Pada 1980-an, kata Lidia, Jembatan Panus kerap mengalami macet, karena lebar jembatan yang hanya 5 meter membuat bus tak bisa lewat secara bersamaan dari dua arah sekaligus.

"Kondisinya macet kalo udah ada bus lewat. Yang di sana setop dulu, kalau lewat satu-satu, enggak bisa dua arah sekaligus," ujar perempuan berusia 47 tahun tersebut.

"Tapi, kalau motor mah muat. Kalau bus ketemu bus, salah satu harus ngalah. Mobil juga harus ada yang ngalah, kalau langsung dua ya tabrakan," ceritanya.

Lidia menyebutkan, Jembatan Panus tak pernah direnovasi sejak ia mulai tinggal di sana, atau sekitar tahun 1981 hingga saat ini. Perbaikan yang dilakukan Pemerintah Kota Depok hanya sebatas mengecat ulang tembok jembatan dan memperbaiki aspalnya yang kerap rusak digilas ban kendaraan.

Bahkan di masa orde baru di kolong Jembatan Panus kerap ditemui mayat yang tak jelas asal-usulnya.

"Serem dulu mah, tempat orang buang mayat di sini. Tempat mayat yang dibunuh misterius, dulu zamannya Petrus (penembak misterius)," imbuhnya.

TAG :
Baca Juga
LIPUTAN KHUSUS